Bisnis & Ekonomi

BPS: Daya Beli Tersokong Mobilitas dan Gaya Hidup

×

BPS: Daya Beli Tersokong Mobilitas dan Gaya Hidup

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: BPS: Mobilitas & Gaya Hidup Topang Daya Beli Masyarakat - Market

jurnalistik.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut indikasi pergeseran pola konsumsi masyarakat Indonesia makin menguat pada Semester I-2026.

Menurut BPS, menguatnya perubahan perilaku belanja ini berkaitan dengan tingginya mobilitas masyarakat serta lonjakan aktivitas perjalanan yang signifikan.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa tren tersebut sebenarnya telah mulai tampak sejak periode sebelumnya, lalu makin terlihat pada paruh pertama tahun ini.

“Indikasi pergeseran pola konsumsi masyarakat sebenarnya sudah terlihat sejak tahun lalu, dan indikasinya semakin menguat pada Semester I-2026,” ujar Amalia di Kantor BPS, Jakarta, Senin (12/10/2026).

Dalam penjelasannya, Amalia menekankan bahwa peningkatan mobilitas tidak hanya memengaruhi cara orang bergerak, tetapi juga ikut mengubah pilihan konsumsi sehari-hari.

Perubahan itu, lanjutnya, tercermin pada akselerasi pertumbuhan di beberapa sektor yang terkait langsung dengan mobilitas dan aktivitas gaya hidup.

“Indikasi pergeseran pola konsumsi masyarakat” yang menguat pada Semester I-2026 tersebut, menurut BPS, terlihat dari dinamika sektor transportasi serta akomodasi makanan dan minuman.

Dengan kata lain, aktivitas perjalanan yang meningkat mendorong intensitas penggunaan layanan yang berhubungan dengan mobilitas.

Pola yang sama juga terlihat pada sektor restoran dan hotel, yang mengikuti ritme perubahan gaya hidup ketika mobilitas masyarakat bertambah.

Amalia menyampaikan, peningkatan ini dapat dilihat dari kinerja konsumsi di sektor-sektor tersebut selama Semester I-2026.

“Hal ini terlihat dari konsumsi sektor restoran dan hotel yang tumbuh di atas 6%, serta sektor transportasi yang tumbuh tinggi seiring meningkatnya mobilitas masyarakat,” katanya.

Angka pertumbuhan di restoran dan hotel menjadi salah satu indikator yang memperlihatkan konsumsi yang tidak hanya bertahan, tetapi juga bergerak mengikuti pola aktivitas baru.

Di sisi lain, transportasi disebut tumbuh tinggi seiring mobilitas yang meningkat, sehingga perubahan gaya hidup tampak berjalan beriringan dengan aktivitas perjalanan.

Sebelumnya, akselerasi pertumbuhan di sektor transportasi juga dijelaskan menjadi salah satu motor utama yang ikut mendorong konsumsi rumah tangga sepanjang Semester I-2026.

Penegasan ini memperkuat gambaran bahwa mobilitas merupakan faktor yang berpengaruh langsung terhadap arah konsumsi selama periode tersebut.

Ketika masyarakat lebih aktif bergerak, BPS menilai dampaknya tidak berhenti pada kebutuhan transportasi saja, melainkan merambat ke sektor pendukung aktivitas di luar rumah.

Itu sebabnya, BPS melihat keterkaitan antara mobilitas, perjalanan, hingga pilihan konsumsi yang berkaitan dengan restoran dan hotel.

Dalam kerangka itu, pergeseran pola konsumsi pada Semester I-2026 dipandang semakin menguat dibandingkan fase sebelumnya, sejalan dengan dinamika mobilitas yang terus tinggi.

Dengan demikian, BPS menilai perubahan perilaku belanja masyarakat selama Semester I-2026 tercermin pada akselerasi pertumbuhan sektor-sektor yang paling dekat dengan aktivitas perjalanan dan gaya hidup.

Menurut BPS, pergeseran yang terlihat pada Semester I-2026 bukan sekadar perubahan sementara, melainkan menunjukkan pola yang makin terarah: saat aktivitas di luar rumah meningkat, pengeluaran ikut beradaptasi dengan rutinitas baru.

Dalam penilaian BPS, lonjakan perjalanan turut mendorong kebutuhan layanan yang berhubungan langsung dengan mobilitas, sekaligus memperkuat permintaan pada sektor yang menyertai aktivitas tersebut, seperti restoran dan fasilitas akomodasi.

Kondisi ini juga mencerminkan bagaimana kebiasaan konsumsi dapat berubah mengikuti intensitas kegiatan masyarakat. Ketika perjalanan menjadi lebih sering, pilihan mengonsumsi makanan dan memanfaatkan layanan perhotelan cenderung ikut bergerak seiring ritme mobilitas.

BPS memandang, keterkaitan antar-sektor tersebut memberi gambaran utuh tentang arah konsumsi pada paruh pertama 2026. Pertumbuhan yang teramati pada sektor transportasi serta restoran dan hotel menjadi penanda bahwa perilaku belanja saling terhubung dengan dinamika perjalanan.