jurnalistik.co.id – Presiden Prabowo Subianto meminta Bank Indonesia (BI) terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang saat ini menembus Rp18.000/US$. Langkah yang disorot mencakup rangkaian intervensi dan skema manajemen likuiditas yang sudah berjalan, sambil menyesuaikan kebijakan mengikuti dinamika pasar.
Permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur BI, Destry Damayanti, saat memberikan keterangan di Kompleks Istana Negara pada Senin (19/10/2026). Dalam kesempatan itu, Destry menjelaskan bahwa fokus pemerintah adalah memastikan rupiah tetap terjaga di tengah tekanan yang datang baik dari domestik maupun global.
Destry menyebut BI diberi arahan untuk tetap menjalankan opsi kebijakan yang tersedia. “Kami diminta juga oleh Bapak Presiden untuk terus melihat dan mengupayakan kebijakan-kebijakan yang kami miliki, apakah itu dalam bentuk intervensi di swap, DNDF, dan NDF,” kata Gubernur BI, Destry Damayanti.
Menurut Destry, intervensi yang dimaksud tidak berdiri sendiri. BI juga melakukan pendekatan lain untuk mendukung efektivitas pengendalian pergerakan rupiah, termasuk melalui insentif biaya hedging. Mekanisme ini, menurutnya, sudah diterapkan sejak akhir bulan Juni.
Langkah hedging tersebut diposisikan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas. BI menilai biaya hedging yang diberi insentif dapat meningkatkan minat pelaku pasar untuk mengelola risiko valuta asing, sekaligus membantu perputaran arus dana ke instrumen yang relevan.
Intervensi melalui swap, DNDF, dan NDF
Destry menjelaskan bahwa kebijakan intervensi mencakup skema swap, DNDF, serta NDF. Ketiga instrumen itu digunakan sebagai bagian dari perangkat kebijakan yang tersedia untuk merespons pergerakan rupiah. Dengan arahan tersebut, BI berupaya memastikan pelaksanaan kebijakan berjalan konsisten sesuai kebutuhan pasar.
Dalam penjelasan BI, efek dari intervensi tersebut juga dihubungkan dengan masuknya aliran dana. Destry menyatakan kebijakan yang sudah ditempuh dapat mendatangkan inflow melalui efek swap maupun melalui DNDF.
Berita Terkait
Ia menyebut perkiraan besaran inflow yang dihasilkan, yakni sekitar US$8 miliar sampai US$9 miliar. Angka itu disampaikan sebagai gambaran kontribusi kebijakan yang saat ini diterapkan untuk mendukung stabilitas rupiah, khususnya ketika tekanan terhadap mata uang muncul.
Selain menekankan aspek instrumen, Destry juga menggambarkan bahwa kebijakan lanjutan tetap perlu dijaga ritmenya. Arahan dari Presiden, menurut Destry, menegaskan perlunya evaluasi berkelanjutan terhadap kebijakan yang telah tersedia dan cara pelaksanaannya di pasar.
Situasi global masih bergejolak
Meski intervensi dan dukungan hedging disebut sudah mampu mendorong inflow, Destry tidak menutup kemungkinan adanya tantangan yang berasal dari lingkungan global. Menurutnya, kondisi global saat ini masih volatil.
Destry menilai sejumlah negara tengah menghadapi situasi “higher for longer”, yang berarti suku bunga atau kondisi kebijakan tetap berada pada level tinggi lebih lama. Di saat yang bersamaan, ia menyebut inflasi di banyak negara berada jauh di atas target yang mereka tetapkan.
Kombinasi volatilitas global, kebijakan yang bertahan lebih lama, dan inflasi yang melampaui target berpotensi memengaruhi arus modal serta persepsi risiko di berbagai pasar. Karena itu, BI perlu terus menyesuaikan langkah kebijakan untuk meredam dampak yang bisa menjalar ke nilai tukar rupiah.
Dengan latar tersebut, arahan Presiden Prabowo kepada BI dipahami sebagai dorongan untuk mempertahankan kerangka intervensi—termasuk swap, DNDF, dan NDF—serta memastikan kebijakan pendukung seperti insentif biaya hedging tetap diteruskan.
Pada akhirnya, upaya menjaga rupiah yang menembus Rp18.000/US$ menempatkan dua hal secara bersamaan: efektivitas instrumen kebijakan di dalam negeri dan kehati-hatian terhadap kondisi global yang masih dinamis. Destry menegaskan BI akan terus mengupayakan kebijakan yang tersedia, sambil menilai respons pasar terhadap langkah-langkah tersebut.












