jurnalistik.co.id – Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan pemerintah akan terus menggenjot Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sampai akhir tahun, meski realisasinya sudah melampaui target yang ditetapkan dalam APBN 2026. Ia menekankan, langkah tambahan tersebut ditujukan untuk memastikan ruang belanja tetap tersedia, termasuk untuk kebutuhan tambal subsidi dan kompensasi.
Dalam konferensi pers APBN Kita, Suahasil menyebut bahwa capaian PNBP hingga saat ini sudah menunjukkan kinerja yang positif. Ia mengatakan, pemerintah tetap memandang PNBP sebagai sumber penerimaan yang masih punya potensi untuk ditingkatkan di sisa periode berjalan.
“PNBP juga memiliki upside yang kita patut syukuri. Rp492,3 triliun telah dikumpulkan. Ini sudah melebihi target APBN, namun kita akan terus berusaha supaya ada penerimaan PNBP tambahan,” kata Suahasil dalam Konferensi Pers APBN Kita beberapa waktu lalu.
Suahasil menyoroti besarnya realisasi PNBP yang telah dicatat pada APBN 2026. Angka yang tercermin dalam laporan menunjukkan pertumbuhan 41,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp347,5 triliun.
Dari sisi pencapaian terhadap target APBN 2026, realisasi PNBP juga disebut sudah mencapai 107,2% dari target yang berada di angka Rp459,2 triliun. Dengan kata lain, target resmi berhasil terlampaui, sekaligus memberi sinyal bahwa upaya penguatan penerimaan masih berlanjut.
Namun, Suahasil juga mengaitkan arah pengelolaan PNBP dengan horizon perencanaan yang lebih luas pada tahun berjalan. Ia menyebut realisasi tersebut setara dengan 85,6% dari outlook PNBP 2026 sebesar Rp575,1 triliun yang disetujui pada pertengahan tahun lalu.
Karena itu, ia menilai pendapatan dari PNBP perlu terus digenjot hingga penghujung tahun. Pertimbangan utamanya datang dari kebutuhan fiskal yang terus bergerak seiring belanja negara yang meningkat.
Berita Terkait
Dalam paparannya, Suahasil mengaitkan kenaikan belanja negara dengan ketidakpastian yang muncul dari harga minyak. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut membuat pemerintah perlu menjaga ketersediaan penerimaan, agar belanja yang berjalan tetap bisa diakomodasi secara berkelanjutan sampai akhir tahun.
Dengan capaian yang sudah melebihi target resmi namun masih berada di bawah outlook, Suahasil memposisikan sisa penguatan PNBP sebagai bagian dari strategi memastikan daya dukung APBN 2026. Pemerintah, menurutnya, tidak berhenti pada angka yang sudah dicapai, melainkan terus berupaya menambah penerimaan sampai periode berakhir.
Ia juga menegaskan bahwa penguatan PNBP tidak sekadar mengejar angka capaian, melainkan menjadi bagian dari manajemen anggaran yang lebih hati-hati. Pemerintah berupaya memastikan setiap perkembangan penerimaan tetap sejalan dengan kebutuhan pembiayaan belanja hingga penutupan tahun.
Dalam konteks itu, Suahasil menggambarkan bahwa capaian yang telah melampaui target APBN memberi ruang untuk melanjutkan langkah korektif bila diperlukan. Meski realisasi berjalan sudah lebih baik dari target yang ditetapkan, dorongan untuk menambah penerimaan tetap dipertahankan.
Selain itu, ia menyoroti bahwa rasio pencapaian terhadap target maupun posisi PNBP di outlook menunjukkan adanya ruang gerak. Perbedaan antara capaian terhadap target dan level yang disetujui dalam outlook menjadi alasan kuat untuk menjaga intensitas upaya penggenjotan sampai akhir periode.
Suahasil juga mengaitkan langkah lanjutan tersebut dengan dinamika pengeluaran negara. Ketika belanja bergerak mengikuti kebutuhan yang meningkat, pemerintah membutuhkan kepastian ketersediaan penerimaan agar berbagai komponen, termasuk tambal subsidi dan kompensasi, dapat tetap terakomodasi.
Dengan demikian, arah pengelolaan PNBP menurutnya harus dipandang sebagai kesinambungan strategi fiskal. Pemerintah, katanya, tidak berhenti pada hasil yang sudah tercapai, melainkan melanjutkan upaya tambahan agar daya dukung APBN 2026 tetap terjaga sampai akhir tahun.












