Internasional

Prabowo Ungkap Kondisi Global Sarat Krisis, Konflik, dan Perang di Hampir Semua Wilayah

×

Prabowo Ungkap Kondisi Global Sarat Krisis, Konflik, dan Perang di Hampir Semua Wilayah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Prabowo Blak-blakan Sebut Kondisi Global Penuh Krisis Hingga Konflik

jurnalistik.co.id – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sejumlah penilaian mengenai situasi global saat memberikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Rabu (21/10/2026). Dalam penyampaian itu, ia menekankan bahwa pemerintah harus bersiap menghadapi berbagai tekanan yang saling berkelindan.

Menurut Prabowo, tantangan yang dihadapi pemerintahan tidak hanya datang dari urusan dalam negeri, tetapi juga dari kondisi dunia yang sedang berubah cepat dan penuh ketegangan. Ia menggambarkan lingkungan global yang dihadapi saat ini sebagai situasi yang kian sulit.

Krisis, konflik, hingga peperangan di banyak wilayah

Prabowo mengatakan kondisi yang berlangsung sekarang ditandai krisis serta konflik yang menyebar ke hampir seluruh kawasan. Ia juga menyebut adanya perang yang tidak lagi terbatas pada konflik fisik semata.

“Lingkungan global yang kita hadapi sekarang penuh dengan krisis, penuh dengan konflik, bahkan peperangan hampir di semua wilayah dunia kita terjadi perang perang fisik, perang terbuka. Tapi lebih dari itu terjadi juga perang dagang, perang ekonomi, perang tarif,” katanya.

Dalam penjelasannya, Prabowo menekankan bahwa bentuk benturan antarnegara kini dapat muncul dalam beragam spektrum. Selain situasi perang terbuka, perselisihan juga menjelma menjadi pertarungan kebijakan ekonomi.

Ia menambahkan bahwa dinamika global juga dipengaruhi persaingan pengaruh di tingkat kekuasaan dunia. Persaingan hegemoni antarkekuatan besar, menurutnya, menjadi salah satu ciri yang menonjol dalam lingkungan internasional saat ini.

Pengaruh langsung karena dunia saling terhubung

Prabowo menegaskan bahwa kondisi tersebut pada akhirnya akan berdampak pada seluruh negara, termasuk Indonesia. Ia melihat keterkaitan antarnegara sudah sedemikian rapat sehingga setiap perubahan di satu bagian dunia dapat merambat ke bagian lain.

“Karena dunia kita sudah saking terintegrasinya. Kita saling bergantung satu sama lain,” ujar Prabowo.

Dengan logika keterhubungan tersebut, Prabowo memposisikan tantangan global bukan sebagai isu yang berdiri sendiri. Ia menggambarkannya sebagai faktor yang ikut membentuk cara negara mengambil keputusan, merancang kebijakan, dan menentukan langkah mitigasi.

Lebih jauh, ia juga menyampaikan bahwa pemerintah tidak hanya berhadapan dengan masalah geopolitik dan ekonomi, tetapi juga konsekuensi lain yang berpotensi memengaruhi stabilitas.

“Lingkungan global yang kita hadapi sekarang penuh dengan krisis, penuh dengan konflik, bahkan peperangan…” menjadi latar yang ia jadikan pijakan untuk menjelaskan bahwa perbedaan kepentingan antarnegara dapat memantik guncangan lanjutan. Ia menempatkan kerentanan ini sebagai alasan mengapa kesiapsiagaan menjadi kebutuhan.

Perubahan cuaca dan tantangan kebencanaan

Selain tekanan yang bersumber dari situasi internasional, Prabowo juga menyebut adanya tantangan dari sisi iklim. Ia mengaitkan perubahan cuaca dengan munculnya berbagai gejolak yang dapat memengaruhi kehidupan masyarakat.

Prabowo menyatakan bahwa perubahan cuaca telah menjadi pengetahuan ilmiah yang berkaitan dengan timbulnya gangguan dalam berbagai bentuk. Ia lalu menegaskan posisi Indonesia yang berhadapan dengan risiko bencana alam.

Indonesia, menurut Prabowo, berada dalam kawasan yang dikenal sebagai The Ring of Fire. Ia menjelaskan bahwa posisi geografis kepulauan tersebut berkaitan dengan kondisi geologi yang dapat memicu fenomena alam.

“Kita menempati gugusan kepulauan yang merupakan bagian dari lingkaran api terdiri dari gunung-gunung berapi, lempengan-lempengan kontinental yang secara teratur akan bergerak, yang mengakibatkan berbagai fenomena. Dan terus terang saja memberi tantangan kepada kita menghadapi bencana alam,” kata Prabowo.

Pernyataan itu menempatkan aspek kebencanaan sebagai bagian dari agenda perhatian pemerintahan. Prabowo memandang bahwa karakter wilayah Indonesia membuat negara perlu menghadapi risiko secara sistematis, bukan hanya bereaksi setelah kejadian terjadi.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna tersebut, arahan Prabowo sekaligus menunjukkan bagaimana ia menyandingkan persoalan global dan tantangan domestik. Ia menyiratkan bahwa upaya penguatan strategi tidak bisa hanya berfokus pada satu sisi, karena faktor luar dan faktor alam dapat sama-sama memberi tekanan.

Dengan memaparkan gambaran mengenai krisis, konflik, dan peperangan di berbagai wilayah, Prabowo juga menegaskan adanya corak baru persaingan antarnegara yang tidak hanya bersifat militer. Pada saat yang sama, ia mengingatkan bahwa perubahan cuaca serta dinamika geologi Indonesia menuntut ketahanan yang terus ditingkatkan.

Keseluruhan paparan tersebut menjadi pesan utama bahwa pemerintah perlu menyiapkan respons yang adaptif, karena dunia bergerak dalam lanskap yang tidak pasti dan Indonesia memiliki karakter risiko alam yang khas. Dari perspektif itu, Sidang Kabinet Paripurna menjadi forum untuk menegaskan arah kebijakan yang lebih siap menghadapi beragam kemungkinan.