jurnalistik.co.id – Di tengah ramainya optimisme seputar kecerdasan buatan, Menteri Keuangan Korea Selatan Lee Hyoung Il menilai pasar semikonduktor masih punya ruang bertahan hingga tahun 2027.
Menurut Lee, proyeksi itu tidak berdiri sendiri. Ia juga menyebut pertumbuhan sektor tersebut berpotensi tetap bisa dijaga, meski dinamika pasar terus bergerak cepat.
Lee menjelaskan alasan utamanya terkait kondisi pasar yang belum sepenuhnya seimbang. “Ini karena kesenjangan antara permintaan dan penawaran semikonduktor masih sangat lebar dan pasokan terus diperluas,” kata Lee Hyoung Il.
Pada saat yang sama, Lee menyoroti bahwa kondisi di pasar saham ikut menunjukkan adanya guncangan. Ia menyebut saham-saham chip memicu volatilitas di bursa, menggambarkan bagaimana pelaku pasar merespons perubahan ekspektasi secara bertahap.
Fenomena tersebut terlihat dalam pergerakan saham pada periode terbaru. Saham perusahaan yang mengembangkan teknologi berbasis AI justru melemah, termasuk Nvidia yang turun 1,84%, AMD yang turun 1,5%, dan Intel yang kehilangan 2,8%.
Langkah investor yang makin selektif juga berdampak ke pemain lain. SK Hynix dan Seoul Semiconductor disebut mengalami nasib serupa, menyusul sentimen yang menekan sektor semikonduktor.
Menurut laporan yang dikutip, tekanan itu berkaitan dengan kekhawatiran investor. “Kabarnya ini terjadi karena investor khawatir soal kenaikan suku bunga dan peningkatan persaingan dari perusahaan-perusahaan China,” demikian narasinya.
Di luar faktor pasar finansial, pemerintah juga mendapat perhatian dari perspektif kebijakan. Pemerintah Korea Selatan diingatkan agar siap menghadapi potensi perlambatan dalam perkembangan pesat AI, jika kondisi makro dan persaingan industri ikut berubah lebih cepat dari perkiraan.
Berita Terkait
Samsung: kontribusi chip menguat, ponsel menyusut dalam porsi laba
Di tengah fluktuasi harga saham, satu gambaran menjadi makin menonjol. Bisnis chip dan komponen semikonduktor kini tampil sebagai penyumbang pendapatan sekaligus laba Samsung, mengungguli divisi ponsel pintar yang sempat menjadi andalan utama.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru yang disebutkan, pendapatan dari divisi chip memori dan solusi sistem menyumbang lebih dari 60% total laba operasional Samsung Electronics. Komposisi ini menandakan bahwa mesin keuntungan perusahaan semakin bertumpu pada segmen semikonduktor.
Sementara itu, divisi ponsel dan perangkat seluler yang dulu banyak menjadi pendorong pertumbuhan kini berkontribusi sekitar 20-25% terhadap keuntungan keseluruhan. Dengan pergeseran porsi tersebut, hubungan antara kinerja chip dan performa total perusahaan terlihat makin menentukan.
Perbedaan yang lebih tajam juga muncul ketika harga cip memori bergerak naik. Dalam konteks tahun ini, lonjakan harga chip memori membuat keuntungan penjualan komponen memori melampaui total pendapatan dari penjualan ponsel pintar secara keseluruhan.
Implikasinya adalah perubahan identitas bisnis Samsung di mata publik. Jika dulu perusahaan lebih dikenal sebagai pembuat telepon, kini identitasnya bergeser menjadi perusahaan semikonduktor raksasa yang “sekadar juga membuat ponsel”.
Dengan kondisi pasar yang diproyeksikan tetap berpeluang bertahan hingga 2027, serta adanya ketidakseimbangan permintaan dan pasokan, strategi Samsung di segmen memori dan solusi sistem tampak semakin relevan untuk menopang performa laba.
Meski begitu, peringatan soal dinamika jangka menengah tetap muncul. Penulis opini di surat kabar Maeil Business menyebut pasar memori disebut bakal menjadi “lautan merah” pada 2029, menandakan persaingan diperkirakan semakin ketat setelah fase pertumbuhan saat ini.
Secara keseluruhan, narasi yang mengemuka menggabungkan dua arus sekaligus: optimisme terhadap daya tahan pasar semikonduktor sampai 2027, serta sinyal volatilitas saham yang menunjukkan sentimen investor dapat berubah cepat. Di titik inilah, pergeseran kontribusi laba Samsung dari ponsel ke chip menjadi salah satu penanda paling nyata dari perubahan lanskap industri.












