Bisnis & Ekonomi

Analis: Rupiah Dipengaruhi Respons Pemerintah dalam Pengelolaan Ekonomi

×

Analis: Rupiah Dipengaruhi Respons Pemerintah dalam Pengelolaan Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Analis: Kondisi Rupiah Bergantung Respons Pemerintah Urus Ekonomi - Market

jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan hari Senin (19/10/2026), setelah sentimen di pasar keuangan didorong kekhawatiran arus modal asing keluar dari Indonesia.

Pada sesi tersebut, rupiah dibuka melemah 0,23% dan bergerak di kisaran Rp18.053 per US$.

Pergerakan rupiah dinilai terjadi di tengah tekanan yang terus terasa di pasar saham, serta kekhawatiran investor menyusul pengumuman MSCI pada pekan sebelumnya.

Dalam penilaian analis, kondisi ini membuat risiko rupiah untuk menembus level Rp18.000 per US$ masih terbuka, karena respons kebijakan yang diambil pemerintah akan sangat menentukan arah pasar.

Analis Lukman Leong dari Doo Financial Futures menyampaikan bahwa intervensi bank sentral saja tidak cukup ketika dinamika yang terjadi tidak berdiri sendiri dan melibatkan ketegangan di pasar ekuitas.

“Untuk kondisi kali ini, intervensi BI saja tidak cukup, polemik di pasar ekuitas kali ini melibatkan dana asing miliaran dolar AS,” kata Lukman kepada Bloomberg Technoz, Senin (19/10/2026).

Menurutnya, selain langkah di pasar valuta asing, Bank Indonesia juga perlu memastikan ketersediaan likuiditas dolar AS tetap terjaga. Ia juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam pengambilan kebijakan suku bunga agar stabilitas rupiah dapat dipelihara tanpa menekan pertumbuhan ekonomi terlalu jauh.

Ia menilai upaya yang hanya dilakukan secara parsial oleh otoritas moneter tidak akan langsung efektif bila sumber tekanan berasal dari aliran dana dan sentimen yang menggerakkan pasar secara lebih luas.

Peran pemerintah dan pemulihan kepercayaan

Lebih lanjut, Lukman mengatakan pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu mengambil langkah untuk memulihkan kepercayaan investor.

Baginya, pemulihan itu tidak cukup sebatas stabilisasi di satu titik, melainkan menuntut perbaikan menyeluruh pada tata kelola pasar modal.

Caranya, kata Lukman, melalui reformasi tata kelola pasar modal yang mencakup transparansi kepemilikan saham serta penegakkan hukum yang konsisten.

Dengan kombinasi kebijakan tersebut, ia berharap sentimen investor dapat kembali membaik dan tekanan terhadap rupiah tidak terus berkembang seiring dinamika di pasar saham.

Ia juga menggambarkan bahwa keterlibatan dana asing dalam pergerakan ekuitas membuat dampak lintas pasar menjadi lebih terasa, sehingga langkah kebijakan harus terkoordinasi dan relevan dengan akar masalah yang sedang berlangsung.

Jika respons pemerintah dan koordinasi antarotoritas berjalan, arah pergerakan rupiah dinilai akan lebih mencerminkan pemulihan ekspektasi pasar, bukan sekadar respons jangka pendek di sektor valuta asing.

Sebaliknya, bila perbaikan tata kelola dan kepastian penegakkan hukum tidak segera terlihat, risiko pelemahan rupiah dinilai dapat terus menghadang, terutama pada fase ketika investor masih menilai ulang posisi mereka terkait dinamika MSCI.

Langkah kebijakan yang dianggap perlu, menurut Lukman, harus mampu menjawab dua sumber tekanan sekaligus: pergerakan di pasar valuta dan gelombang kekhawatiran yang terbentuk di pasar ekuitas. Tanpa itu, respons di satu instrumen berpotensi tidak langsung menahan laju pelemahan.

Ia menilai pemulihan kepercayaan perlu diterjemahkan ke dalam sinyal yang lebih meyakinkan bagi investor. Karena itu, upaya koordinasi melibatkan otoritas pengawas dan penyelenggara pasar, agar pembenahan tata kelola tidak berhenti pada stabilisasi sesaat, melainkan menyentuh akar kekhawatiran.

Dalam kerangka tersebut, reformasi tata kelola pasar modal diarahkan pada peningkatan transparansi kepemilikan saham serta penegakkan hukum yang berjalan konsisten. Ketika kepastian dan kejelasan informasi dipandang membaik, sentimen investor diharapkan ikut berbalik sehingga tekanan lintas pasar dapat mereda.

Lukman juga menekankan bahwa keterkaitan dana asing dalam pergerakan ekuitas membuat dampaknya mudah menjalar ke sektor lain. Apabila perbaikan koordinasi dan kepastian kebijakan tidak terlihat segera, proses penilaian ulang terkait dinamika MSCI berpotensi membuat volatilitas berlanjut, dan peluang pelemahan rupiah tetap terbuka.