Bisnis & Ekonomi

Emas Tetap Stabil Saat Peluang Kenaikan Bunga The Fed Melemah – Market

×

Emas Tetap Stabil Saat Peluang Kenaikan Bunga The Fed Melemah – Market

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Emas Stabil di Tengah Meredanya Taruhan Kenaikan Bunga The Fed - Market

jurnalistik.co.id – Harga emas relatif bertahan stabil pada perdagangan terakhir, sementara pelaku pasar menilai ulang peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Kondisi ini muncul di tengah perubahan ekspektasi pasar yang tidak sepenuhnya mendorong pergerakan harga logam mulia, meski beberapa faktor pendukung risiko masih terlihat dari pasar obligasi dan energi.

Di pasar spot, emas batangan diperdagangkan di kisaran 4.170 dolar AS per troy ounce. Level tersebut bertahan di saat pelaku pasar terus memantau sinyal kebijakan moneter menjelang keputusan The Fed di akhir bulan.

Meski pergerakannya tidak besar, emas masih mencatat kenaikan pada sesi sebelumnya. Harga logam mulia naik 1,6% pada Kamis, yang menjadi kenaikan terbesar dalam lebih dari dua pekan terakhir.

Di balik latar pergerakan itu, perhatian investor tertuju pada pidato Ketua The Fed. Pernyataan Kevin Warsh di Bangkok tidak mengubah ekspektasi utama bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada akhir bulan ini.

Dengan ekspektasi yang relatif tetap pada skenario mempertahankan suku bunga, emas cenderung tidak mendapat dorongan arah yang kuat dari sisi kebijakan. Namun, dinamika pasar tetap terasa karena sejumlah indikator keuangan bergerak beriringan.

Selama sebagian sesi perdagangan AS, harga emas sempat melemah, terutama ketika imbal hasil US Treasury bertenor panjang mengalami kenaikan. Kenaikan imbal hasil tersebut kemudian menambah tekanan psikologis di pasar logam mulia.

Adapun lonjakan imbal hasil diiringi pergerakan harga minyak yang terpantau kencang. Minyak mentah Brent menyentuh 110 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.

Pergerakan minyak ini berkontribusi pada suasana pasar yang lebih “panas”, sehingga imbal hasil Treasury ikut terdorong naik. Pada saat seperti itu, emas umumnya cenderung lebih sulit mencari pijakan, karena sensitivitasnya terhadap kondisi suku bunga tetap tinggi.

Dalam hal ekspektasi kenaikan suku bunga, pelaku pasar terlihat menurunkan peluang untuk skenario kenaikan sebesar 25 basis poin. Sebelumnya, peluangnya berada pada kisaran satu dari tiga atau sekitar 33%.

Setelah pidato Warsh, probabilitas tersebut turun menjadi sekitar 15%, mencerminkan penyesuaian posisi investor. Perubahan taruhan ini menjadi salah satu alasan mengapa pergerakan emas tidak menguat secara agresif meski sempat ada perombakan sentimen.

Secara fundamental, suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi tekanan bagi emas. Alasannya sederhana: emas tidak menawarkan imbal hasil bunga, sehingga ketika ekspektasi suku bunga menguat, daya tarik relatif emas dapat melemah.

Namun, pada periode ini, pasar tidak sepenuhnya mendorong narasi kenaikan suku bunga, sehingga emas tidak langsung terhempas. Kombinasi antara harapan bahwa suku bunga akan bertahan, serta adanya kenaikan imbal hasil di beberapa tenor, menciptakan tarik-menarik yang membuat harga cenderung bergerak datar.

Emas di antara sentimen kebijakan dan kenaikan imbal hasil

Situasi yang dihadapi emas saat ini dapat dibaca sebagai kompromi antara dua arus yang sama-sama memengaruhi pasar. Satu arus datang dari peluang kenaikan suku bunga yang dipangkas, sementara arus lain berasal dari tekanan yang muncul dari imbal hasil US Treasury bertenor panjang.

Ketika probabilitas kenaikan suku bunga menurun dari sekitar 33% menjadi sekitar 15%, sentimen emas menerima ruang untuk tetap bertahan. Pada saat bersamaan, kenaikan imbal hasil yang terjadi pada sebagian sesi perdagangan AS membuat logam mulia sempat kehilangan tenaga.

Minyak yang menembus level 110 dolar AS per barel menambah sinyal bahwa pasar masih berhadapan dengan faktor makro yang dinamis. Perubahan kondisi energi ini kemudian ikut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap suku bunga melalui jalur imbal hasil.

Dengan kata lain, meskipun pidato Warsh tidak mengubah ekspektasi suku bunga yang tetap di akhir bulan, pasar tetap bereaksi terhadap pergerakan sektor terkait yang dapat mempengaruhi lintasan imbal hasil.

Ketika imbal hasil meningkat, biaya peluang memegang aset non-imbal hasil seperti emas menjadi lebih terasa. Pada fase tertentu, efek tersebut terlihat ketika harga emas berbalik melemah pada paruh sesi.

Namun, karena peluang kenaikan 25 basis poin dipotong lebih rendah dibanding proyeksi awal, tekanan yang sempat muncul tidak berlangsung lama. Inilah yang membuat harga emas akhirnya lebih banyak bergerak stabil, bukan terjun mengikuti logika suku bunga yang ketat.

Dari sisi angka perdagangan, pergerakan yang terukur menunjukkan pasar masih berada dalam tahap penyeimbangan. Emas yang sempat naik 1,6% pada Kamis tetap menjadi penopang utama, bahkan ketika volatilitas intrahari muncul dari kenaikan imbal hasil Treasury.

Hingga saat ini, fokus pelaku pasar tetap tertuju pada apakah kejadian-kejadian berikutnya akan mengubah ekspektasi terhadap keputusan The Fed di akhir bulan. Sementara itu, kombinasi faktor suku bunga, imbal hasil obligasi, dan pergerakan minyak terus menjadi penentu arah jangka pendek emas.

Dengan logam mulia diperdagangkan di kisaran 4.170 dolar AS per troy ounce, pasar tampak memilih sikap menunggu yang hati-hati. Sikap ini sejalan dengan rendahnya probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin yang kini berada di sekitar 15% setelah pidato Warsh.

Selama ekspektasi kebijakan tidak bergeser, emas kemungkinan akan tetap berada dalam mode stabilitas yang dipengaruhi oleh pergerakan imbal hasil. Di sisi lain, setiap lonjakan lebih lanjut pada imbal hasil Treasury tetap berpotensi memunculkan tekanan, mengingat emas tidak memberikan bunga.