Bisnis & Ekonomi

Harga Emas Dunia Turun 3 Hari Berturut, Ini Waktunya Jual atau Tambah Beli?

×

Harga Emas Dunia Turun 3 Hari Berturut, Ini Waktunya Jual atau Tambah Beli?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Emas Turun 3 Hari Beruntun, Saatnya Jual atau Beli? - Market

jurnalistik.co.id – Harga emas dunia kembali melemah setelah mencatat penurunan beruntun. Dalam perdagangan kemarin, logam mulia itu genap turun untuk hari ketiga secara berturut-turut.

Pada Selasa, 20 Oktober 2026, harga emas di pasar spot ditutup di level US$4.114,3 per troy ons. Angka penutupan tersebut turun 0,64% dibandingkan hari sebelumnya.

Secara akumulasi, emas tercatat berkurang 1,36% dalam tiga hari perdagangan terakhir. Pergerakan ini menegaskan bahwa tekanan jual masih bertahan di pasar.

Penurunan harga emas tersebut terkait dengan perkembangan di kawasan Timur Tengah yang menjadi pemberat bagi pergerakan harga. Pasar memantau dinamika di wilayah tersebut karena berpotensi memengaruhi ekspektasi pelaku terhadap kondisi ekonomi dan komoditas.

Bloomberg News sempat memberitakan adanya selentingan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran akan segera mencapai kesepakatan untuk meredakan perang yang meletus sejak akhir Februari. Namun, informasi itu ternyata tidak akurat.

Menurut seorang diplomat yang terlibat dalam proses negosiasi, kabar mengenai kesepakatan tersebut tidak benar. Koreksi terhadap isu tersebut lantas membuat pasar tidak merespons seperti skenario yang sempat beredar sebelumnya.

Dengan demikian, harga minyak tetap bertahan pada level yang tinggi. Kemarin, harga minyak jenis Brent berada di kisaran US$109 per barel.

Rangkaian kondisi tersebut kemudian ikut membentuk arah pergerakan emas. Saat minyak masih berada pada level tinggi, pasar cenderung mempertimbangkan ulang posisi dan ekspektasi terhadap biaya energi serta arah pasar komoditas secara keseluruhan.

Bagi pelaku pasar, tren tiga hari berturut-turut yang berujung pada penurunan menandakan momentum jual masih mendominasi. Namun, laju pelemahan tersebut juga menunjukkan bahwa pergerakan harga tidak hanya dipicu oleh faktor harga harian, melainkan mengikuti perkembangan informasi yang beredar.

Dengan penutupan di US$4.114,3 per troy ons pada Selasa, emas tetap berada di bawah harga penutupan sebelumnya. Penurunan 0,64% pada perdagangan itu menjadi salah satu penanda bahwa sentimen masih condong ke arah pelemahan.

Sementara itu, penurunan total 1,36% selama tiga hari terakhir menambah gambaran bahwa koreksi sudah terjadi secara berjenjang. Kondisi ini membuat perubahan informasi terkait Timur Tengah menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar.

Di tengah dinamika tersebut, pembatalan atau ketidaksesuaian kabar tentang rencana kesepakatan AS-Iran menjadi titik yang turut memengaruhi persepsi. Ketika isu yang sempat muncul dinyatakan tidak akurat oleh pihak yang terlibat langsung, pasar akan menyesuaikan ulang ekspektasi pergerakan berikutnya.

Pada akhirnya, emas yang melemah bersama minyak yang masih tinggi menunjukkan hubungan respons pasar terhadap perkembangan geopolitik dan komoditas. Harga minyak jenis Brent yang bertahan di sekitar US$109 per barel menjadi latar penting di balik kondisi yang menekan logam mulia.

Dengan harga spot yang turun dan akumulasi pelemahan tiga hari terakhir tetap terjaga, pelaku pasar terus mempertimbangkan apakah tekanan jual akan berlanjut atau mulai mereda seiring perkembangan informasi berikutnya. Saat ini, arah pergerakan masih dibaca melalui data penutupan serta konteks pemberat dari kawasan Timur Tengah dan kondisi minyak.

Di sisi lain, koreksi yang terjadi pada emas spot tidak berdiri sendiri, melainkan selaras dengan cara pasar membaca perubahan informasi yang cepat. Saat ada kabar yang sempat beredar lalu dikoreksi, pelaku cenderung menunda ekspektasi dan menunggu sinyal yang lebih pasti sebelum melakukan penempatan ulang posisi.

Dalam konteks itu, penguatan sentimen jual juga diperkuat oleh fakta bahwa pelemahan berlangsung beruntun hingga tiga hari. Pola penurunan berturut-turut membuat pergerakan harian berikutnya dinilai lebih sebagai kelanjutan proses penyesuaian daripada lonjakan sesaat, sehingga perhatian pasar tetap tertuju pada komponen berita dari Timur Tengah.

Dengan minyak yang masih bertahan pada level sekitar US$109 per barel, pasar terus mengaitkan biaya energi dan arah komoditas dengan dinamika geopolitik. Akibatnya, logam mulia ikut berada dalam tekanan, sekaligus mencerminkan bahwa informasi global yang memengaruhi ekspektasi ekonomi tetap menjadi pemicu utama pergerakan harga.