jurnalistik.co.id – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani melaporkan capaian penanaman modal Indonesia hingga triwulan III-2026 telah mencapai Rp528,7 triliun. Pelaporan itu disampaikan Rosan di Istana Negara pada Senin (9/10/2026).
Realisasi investasi hingga triwulan III-2026
Rosan menyampaikan bahwa total realisasi investasi pada periode tersebut merupakan akumulasi dari berbagai skema penanaman modal dalam negeri maupun asing. Ia juga menyebutkan indikator penyerapan tenaga kerja yang menyertai penyerapan investasi.
“Sementara itu, total investasi dari Januari sampai September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau 75,4% dari target. Total penyerapan tenaga kerja mencapai 2.194.496 orang,” kata Rosan di Istana Negara, Senin (9/10/2026).
Dengan angka Januari sampai September itu, Rosan menempatkan kinerja penyerapan investasi sebagai bagian dari evaluasi capaian tengah tahun. Ia juga menegaskan bahwa realisasi pada triwulan III-2026 berjalan seiring dengan perluasan dampak ekonomi melalui peningkatan jumlah tenaga kerja yang terserap.
Selain total investasi, Rosan merinci komposisi investasi yang bersumber dari PMDN dan PMA. Rincian ini membantu memperlihatkan bagaimana porsi penanaman modal domestik dan investasi asing berkontribusi dalam total capaian.
Komposisi PMDN-PMA dan pembagian wilayah
Rosan menyebutkan kontribusi penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai sekitar Rp761,4 triliun atau 49,5%. Sementara itu, penanaman modal asing (PMA) berada pada level Rp777,8 triliun atau 50,5%.
Dalam pemetaan wilayah, Rosan mengatakan kontribusi Jawa mencapai 49,4% atau sebesar Rp759,8 triliun. Di sisi lain, luar Jawa berkontribusi 50,6% atau sebesar Rp779,4 triliun terhadap realisasi investasi sampai triwulan III-2026.
Berita Terkait
Rincian tersebut menunjukkan bahwa sumber investasi tidak hanya terkonsentrasi di satu kawasan. Pembagian antara Jawa dan luar Jawa tampak relatif seimbang dengan selisih porsi yang tipis dalam total nilai realisasi.
Rosan kemudian menyampaikan informasi lanjutan mengenai lokasi realisasi investasi PMDN. Ia menyebutkan lima besar lokasi sebagai rujukan sebaran penanaman modal domestik.
“Untuk lima besar lokasi realisasi investasi PMDN, yang pertama adalah DKI Jakarta sebesar Rp160,1 triliun, kemudian Jawa Barat sebesar Rp89,9 triliun atau 11,8%, Jawa Timur sebesar Rp74,3 triliun, Banten sebesar Rp61,1 triliun, dan Kalimantan Timur Rp42,6 triliun atau 5,6%,” kata Rosan.
Penjelasan tersebut memberi gambaran mengenai prioritas wilayah dalam penyerapan investasi dari skema PMDN. Nilai-nilai yang disebutkan Rosan menempatkan DKI Jakarta sebagai penyumbang terbesar, diikuti Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, serta Kalimantan Timur.
Secara keseluruhan, angka realisasi investasi triwulan III-2026, capaian Januari sampai September 2026, serta rincian PMDN-PMA dan sebaran wilayah menjadi dasar laporan kinerja. Rosan menekankan bahwa capaian tersebut juga tercermin dari jumlah tenaga kerja yang terserap hingga periode yang sama.
Dalam pemaparannya di Istana Negara pada Senin (9/10/2026), Rosan menempatkan capaian triwulan III-2026 sebagai bagian dari rangkaian kinerja yang terus berjalan. Ia menunjukkan bahwa nilai Rp528,7 triliun pada triwulan III tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan akumulasi realisasi Januari sampai September 2026 yang mencapai Rp1.539,2 triliun atau 75,4% dari target. Dengan begitu, laporan kinerja tengah tahun dapat dibaca sebagai kelanjutan dari capaian sampai periode sembilan bulan.
Rosan juga menggunakan indikator penyerapan tenaga kerja untuk memperkuat penilaian terhadap realisasi investasi. Pada periode Januari sampai September 2026, jumlah tenaga kerja yang terserap dilaporkan mencapai 2.194.496 orang. Penyebutan indikator ini memperlihatkan bahwa investasi dinilai bukan hanya dari besaran nominalnya, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesempatan kerja. Ia menegaskan keterkaitan antara realisasi investasi triwulan III-2026 dan perluasan dampak ekonomi melalui peningkatan jumlah tenaga kerja yang terserap.
Dari sisi sumber pembiayaan, komposisi PMDN dan PMA dipaparkan relatif berimbang. Penanaman modal dalam negeri (PMDN) berada pada kisaran Rp761,4 triliun atau 49,5%, sedangkan penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp777,8 triliun atau 50,5%. Sementara itu, pemetaan wilayah menunjukkan kontribusi Jawa sebesar 49,4% atau Rp759,8 triliun, dan luar Jawa sebesar 50,6% atau Rp779,4 triliun. Selisih tipis tersebut mengindikasikan bahwa realisasi investasi tidak sepenuhnya terkonsentrasi di satu kawasan, melainkan terbagi antara Jawa dan luar Jawa.
Untuk rincian PMDN, Rosan menyampaikan sebaran lima besar lokasi yang menjadi rujukan. DKI Jakarta menjadi penyumbang terbesar dengan Rp160,1 triliun, lalu Jawa Barat sebesar Rp89,9 triliun (11,8%), Jawa Timur Rp74,3 triliun, Banten Rp61,1 triliun, dan Kalimantan Timur Rp42,6 triliun (5,6%). Urutan nilai tersebut memberi gambaran mengenai prioritas wilayah dalam penyerapan investasi domestik. Pada saat yang sama, daftar lokasi yang disebutkan menunjukkan adanya keterwakilan dari wilayah barat hingga wilayah timur dalam kontribusi PMDN.












