jurnalistik.co.id – Bloomberg Technoz, Jakarta — Alfons Tanujaya, pakar teknologi informasi (IT) dan keamanan siber, menyoroti temuan lemahnya sistem deteksi transaksi fraud pada BI-FAST di bawah sistem pengendalian internal Bank Indonesia.
Menurutnya, ada manfaat efisiensi dalam transaksi antarbank, namun karakter layanan tersebut juga membuka peluang eksploitasi ketika jaringan yang terhubung memiliki perbedaan kualitas pengamanan.
Alfons menjelaskan bahwa sistem pengendalian internal yang melibatkan deteksi fraud pada BI-FAST perlu dilihat secara menyeluruh, karena dampak celah yang muncul tidak selalu berhenti pada satu titik saja.
“Karena institusi keuangan yang terkoneksi sangat banyak, maka ancaman terhadap eksploitasi sangat tinggi,” kata Alfons saat dihubungi, Sabtu (17/10/2026).
Dalam penilaiannya, BI-FAST bekerja sebagai jaringan yang saling terhubung dan tidak bertumpu pada satu sistem utama. Dengan model seperti ini, keamanan layanan tidak berdiri sendiri, melainkan sangat dipengaruhi kesiapan mitigasi yang dimiliki perbankan yang berkaitan.
Alfons menyebut bahwa, walau BI-FAST memberi efisiensi yang cukup besar untuk transaksi, efisiensi tersebut dapat menjadi faktor kerentanan apabila sejumlah bank yang terhubung memiliki sistem keamanan yang lemah.
Ia menegaskan hubungan langsung antara tingkat keamanan dengan kesiapan mitigasi perbankan yang ikut terhubung ke ekosistem tersebut. Karena itu, penilaian keamanan tidak cukup berhenti pada satu komponen, tetapi perlu merangkum seluruh keterkaitan dalam jaringan.
Dalam keamanan teknologi informasi, Alfons menyampaikan bahwa kondisi tersebut dikenal sebagai weakest link, yaitu titik terlemah yang bisa dimanfaatkan penyerang untuk menembus sistem yang lebih luas.
Berita Terkait
Konsep weakest link yang ia maksud menempatkan kerentanan pada aspek yang paling rapuh di rantai pengamanan. Jika kelemahan muncul pada salah satu elemen, penyerang berpeluang memperluas akses atau dampak ke bagian yang lebih besar dalam sistem yang terhubung.
Alfons juga menyoroti bahwa sifat konektivitas antarinstansi membuat risiko eskalasi semakin tinggi. Semakin banyak institusi yang tersambung, semakin besar pula permukaan yang perlu diamankan, sehingga setiap celah—sekecil apa pun—berpotensi menjadi jalur eksploitasi.
“Karena institusi keuangan yang terkoneksi sangat banyak, maka ancaman terhadap eksploitasi sangat tinggi,” diulang Alfons sebagai penekanan atas aspek luasnya keterhubungan tersebut.
Dengan kerangka itu, penilaian atas BI-FAST tidak hanya berhubungan dengan kinerja transaksi, melainkan juga dengan ketahanan pengendalian terhadap kemungkinan serangan. Alfons memandang bahwa ketergantungan pada kesiapan mitigasi perbankan terkait adalah faktor penentu dalam menjaga agar deteksi fraud tetap efektif dan risiko penyalahgunaan dapat diminimalkan.
Di sisi lain, meski sistem BI-FAST dirancang untuk mempercepat proses transaksi antarbank, implikasi keamanan tetap harus diimbangi dengan standar proteksi yang konsisten di seluruh pihak yang terhubung. Menurut Alfons, perbedaan kekuatan pengamanan antarsistem akan menentukan seberapa jauh celah dapat dimanfaatkan.
Ia juga menekankan bahwa jaringan yang saling terhubung dan tidak bergantung pada sistem utama mengandung konsekuensi: pengendalian dan mitigasi harus dipandang sebagai satu kesatuan. Kelemahan yang muncul pada satu bagian dapat mendorong risiko menjalar ke area yang lebih luas karena keterhubungan antarbagian di dalam ekosistem tersebut.
Dengan demikian, pandangan Alfons menempatkan temuan lemahnya deteksi fraud pada BI-FAST sebagai isu yang perlu ditangani dari perspektif sistemik, bukan hanya per komponen. Penguatan mitigasi perbankan yang berkaitan menjadi penting agar celah yang berpotensi dimanfaatkan penyerang tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih besar.
Dalam penjelasan itu, Alfons merujuk pada weakest link sebagai konsep kunci: titik terlemah yang dapat dieksploitasi penyerang, sehingga perlu ada perhatian khusus pada pengamanan di seluruh rantai konektivitas.












