Entertainment

Benarkah Umur Panjang Bawaan Lahir? Ini Penjelasan Sains

3
×

Benarkah Umur Panjang Bawaan Lahir? Ini Penjelasan Sains

Sebarkan artikel ini
Benarkah Umur Panjang Bawaan Lahir? Ini Penjelasan Sains
Ilustrasi: Benarkah Umur Panjang Bawaan Lahir? Ini Penjelasan Sains

jurnalistik.co.id – Banyak orang berharap bisa berumur panjang. Namun, meski pola hidup sehat dapat dibentuk, peluang hidup lama ternyata juga dipengaruhi oleh sesuatu yang tidak bisa kita ubah, yaitu genetik bawaan.

Dalam kajian yang dibahas, porsi genetik dinilai jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Artinya, DNA berperan penting atas batas umur seseorang.

Warisan genetik dan batas usia manusia

Topik ini, menurut ringkasan pemberitaan, dulunya sulit dikaji karena membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengumpulkan data usia manusia. Salah satu kajian lawas yang disebut bertajuk ” The heritability of human longevity: a population-based study of 2872 Danish twin pairs born 1870-1900 ” menelusuri kontribusi gen dalam menentukan rentang hidup.

Hasil kajian lawas tersebut menemukan bahwa gen hanya menyumbang 20-25 persen dari hasil akhir umur seseorang. “Angka itu jauh lebih kecil dibandingkan sifat bawaan lain seperti indeks massa tubuh, yang berkisar sekitar 50 persen,” kata dokter kedokteran darurat sekaligus pakar umur panjang di Biograph, Michael Doney, melansir Prevention , Minggu (17/5/2026).

Seiring perkembangan metode riset, muncul temuan lain dari studi yang lebih baru. Sebuah studi baru bertajuk ” Heritability of intrinsic human life span is about 50% when confounding factors are addressed ” yang terbit Januari 2026 mengungkapkan komposisi genetik memegang kendali atas 55 persen rentang usia seseorang. Sisanya sebesar 45 persen berasal dari keseharian yang bisa dikontrol, seperti pola makan, pola tidur, dan seberapa rutin seseorang berolahraga.

Dokter spesialis umur panjang dan pakar genetika di Parsley Health, Nisha Chellam, M.D., menyoroti makna klinis dari temuan tersebut. “Jika pewarisan genetik tinggi, gen umur panjang dapat mengungkap mekanisme penuaan dan memberi informasi pada pengobatan dan kesehatan masyarakat,” ujar dokter spesialis umur panjang dan pakar genetika di Parsley Health, Nisha Chellam, M.D.

Mengukur pengaruh biologis lewat studi saudara kembar

Untuk menilai keterkaitan biologis, penelitian menggunakan pendekatan yang membandingkan DNA pada saudara kembar yang dibesarkan terpisah. Dalam riset itu, peneliti menganalisis basis data independen yang memuat pendaftaran saudara kembar, salah satunya dari Swedish Adoption/Twin Study of Aging.

Skema logikanya dijelaskan melalui hipotesis mengenai pembagian materi genetik. “Hipotesisnya adalah kembar identik berbagi 100 persen materi genetik, dan kembar non-identik berbagi 50 persen materi genetik. Jadi, jika kembar identik memiliki usia yang mirip, maka gen pasti berpengaruh,” kata dr. Chellam.

Dengan rancangan ini, metode penelitian dinilai membantu peneliti mengurangi pengaruh faktor luar, seperti lingkungan atau gaya hidup. Tujuannya adalah agar peneliti bisa lebih fokus melihat hubungan usia dengan faktor biologis dan genetika, bukan dengan variabel kebiasaan harian semata.

Setelah data disaring, peneliti kemudian membandingkannya dengan catatan penduduk berusia di atas 100 tahun di Amerika Serikat. Langkah ini disebutkan untuk mengurangi kemungkinan bias akibat perbedaan lokasi penelitian.

Temuan: saudara kandung ikut menunjukkan pola pewarisan

Dari hasil perbandingan itu, dituliskan bahwa saudara kandung dari orang-orang yang berhasil hidup hingga usia seabad menunjukkan pola pewarisan genetik yang mirip dengan kembar non-identik, yakni sekitar 50 persen. Dengan kata lain, sinyal genetik yang terlihat pada kelompok kembar tampak juga berulang pada hubungan saudara kandung ketika analisis diarahkan pada umur sangat panjang.

Selain melihat kontribusi gen, studi juga menekankan peran penyaringan atas faktor penyebab kematian yang datang dari luar. Peneliti menambahkan bahwa ketika faktor kematian dari luar seperti kecelakaan atau kondisi lingkungan disingkirkan, pengaruh penyakit yang diturunkan dalam keluarga menjadi lebih jelas.

Dalam konteks itu, penyakit yang disebut sebagai contoh meliputi penyakit jantung, demensia, dan kanker. Temuan ini disebut semakin memperkuat dugaan bahwa faktor keturunan memiliki peran besar terhadap umur panjang seseorang.

Dengan demikian, ringkasan riset mengarah pada satu benang merah: DNA tidak hanya berpengaruh sebagai latar biologis, melainkan turut menentukan rentang usia manusia dalam berbagai tingkat. Dari kajian lawas yang menempatkan kontribusi gen sebesar 20-25 persen, sampai studi terbaru Januari 2026 yang mengaitkan kontrol genetik hingga 55 persen—dan bagian analisis yang mengarah pada sekitar 50 persen saat faktor perancu ditangani—pesan ilmiahnya tetap konsisten: ada komponen herediter yang signifikan dalam perjalanan menuju usia sangat lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *