jurnalistik.co.id – Pemerintah Kabupaten Batang menggandeng Indomaret untuk membuka jalur penyerapan yang lebih luas bagi kelengkeng lokal hasil panen petani di daerah tersebut. Kerja sama ini ditandai dengan peresmian penjualan kelengkeng lokal di Indomaret Fresh Alun-alun Batang oleh Bupati Batang M Faiz Kurniawan, Selasa (19/5/2026).
Langkah tersebut menjadi penanda bahwa kelengkeng Batang mulai mendapat perhatian dari jaringan ritel modern. Sejak akhir 2025, Indomaret disebut mulai melirik potensi kelengkeng Batang yang kini diperkirakan mencapai 10.000 pohon, baik milik perseorangan maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Melalui kerja sama dengan Pemkab Batang, Indomaret berperan sebagai penyerap hasil panen atau off-taker bagi kelengkeng petani lokal. Untuk tahap awal, Indomaret wilayah Jakarta ditargetkan menyerap 500 kilogram kelengkeng per minggu, sedangkan wilayah Jawa Tengah berkisar 100–500 kilogram per minggu. Jumlah itu ditargetkan naik bertahap hingga mencapai lima ton per minggu.
Koordinator petani kelengkeng milenial Batang sekaligus fasilitator pendamping Dinas Pertanian (Dintan) Kabupaten Batang, Aditya Reza Kusuma, mengatakan kehadiran pasar modern memberi peluang besar bagi petani. Menurut dia, pasar seperti ini dapat memberi kepastian penyerapan hasil panen yang selama ini belum sepenuhnya didapat petani kelengkeng di Batang.
“Indomaret menawarkan pasar yang sangat terbuka karena membutuhkan suplai rutin setiap minggu. Jadi, berapa pun produksi petani berpotensi terserap,” ujar Aditya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (21/5/2026).
Selama ini, kata Aditya, petani kelengkeng Batang masih bergantung pada pasar lokal yang daya serapnya terbatas. Karena itu, masuknya ritel modern dipandang sebagai ruang baru agar hasil panen tidak hanya bertumpu pada jalur penjualan yang sempit.
Panen bergiliran dan mutu buah
Aditya menjelaskan, kelengkeng Batang memiliki keunggulan karena masa pembuahan dan panennya bisa diatur. Kondisi itu menjadi modal penting untuk memenuhi kebutuhan pasar modern secara berkelanjutan. Dengan pola tersebut, panen dapat dilakukan bergiliran dari sejumlah wilayah di Batang.
“Jadi, setiap minggu bisa ada panen. Misalnya minggu pertama dari Subah, minggu berikutnya dari Banyuputih, lalu Tersono, dan seterusnya secara bergiliran,” jelas Aditya.
Meski punya keunggulan pada sisi produksi, ia mengakui kelengkeng Batang masih memiliki kelemahan pada tampilan visual sehingga kerap kalah bersaing dengan buah impor. Namun, dari sisi rasa dan kualitas daging, kelengkeng lokal dinilainya memiliki keunggulan.
“Kalau secara rasa, kualitas daging, ketebalan, bijinya kecil, itu kami menang semua. Hanya penampilannya saja,” ungkap Aditya.
Pendampingan budidaya hingga pengemasan
Untuk menjawab tantangan itu, Pemkab Batang menggandeng Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Diponegoro (Undip) Kampus Bandar. Pendampingan diberikan mulai dari budidaya hingga pascapanen agar produk kelengkeng lokal bisa memenuhi standar pasar modern.
Selain itu, tim dari Indomaret pusat di Jakarta juga ikut mendampingi petani dalam proses pemetikan, pembersihan, hingga pengemasan buah. Kelengkeng kemudian dikemas menggunakan mika 500 gram berlabel “Kelengkeng Kabupaten Batang”.
Dengan pendampingan tersebut, kualitas tampilan kelengkeng Batang dinilai semakin siap bersaing dengan produk impor. Upaya ini sekaligus menjadi jalan agar buah lokal dari Batang bisa masuk ke pasar yang lebih luas tanpa mengorbankan mutu dan konsistensi pasokan.
Di sisi lain, para petani berharap kerja sama ini diikuti dukungan berkelanjutan dari Pemkab Batang, terutama untuk kebutuhan logistik pertanian seperti pupuk khusus atau booster kelengkeng yang masih didatangkan dari luar negeri. Dukungan tersebut dinilai penting agar produksi bisa terus terjaga dan tidak terhambat kebutuhan teknis di lapangan.
“Semoga ada support khusus dari Pemkab Batang, khususnya Pak Bupati, baik link jalur untuk memudahkan impor bahan tersebut atau support fisik lain untuk kepentingan budi daya sampai produksi lebih baik lagi,” tutur Aditya.
Kerja sama antara Pemkab Batang dan Indomaret ini memperlihatkan upaya mempertemukan hasil panen petani lokal dengan pasar modern yang lebih teratur. Dengan target penyerapan yang sudah dipasang sejak awal, kelengkeng Batang kini memiliki peluang lebih besar untuk bergerak dari pasar lokal menuju distribusi yang lebih luas dan berkelanjutan.







