jurnalistik.co.id – Bank Dunia dalam laporan terbarunya memperkirakan kondisi ekonomi Indonesia tetap berada pada jalur pertumbuhan yang relatif stabil. Dalam proyeksinya, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditahan di angka 5,2% untuk dua tahun ke depan, yakni 2026 dan 2027.
Proyeksi tersebut disampaikan Bank Dunia melalui East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2026. Di dalam laporan itu, Bank Dunia menuliskan bahwa ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh pada kisaran yang sama untuk periode akhir tahun mendatang.
Dibandingkan dengan gambaran umum kawasan, proyeksi Bank Dunia menunjukkan posisi Indonesia yang lebih kuat. Rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik disebut berada pada level 4,5%.
Saat dilihat dari perspektif kawasan ASEAN, Bank Dunia juga memberikan pembanding lintas negara. Dalam perbandingan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia disebut hanya kalah dari Vietnam yang diproyeksikan dapat mencapai 7,4% hingga akhir tahun mendatang.
Artinya, proyeksi Bank Dunia menunjukkan Indonesia masih berada di kelompok pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding sebagian besar negara ASEAN lainnya. Namun, di tingkat regional ASEAN, Indonesia tidak menjadi yang teratas karena proyeksi Vietnam berada di level yang lebih tinggi.
Meski berada di atas rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik serta hanya tertinggal dari Vietnam dalam perbandingan ASEAN, proyeksi Bank Dunia tetap menyisakan ruang selisih terhadap target pemerintah. Bank Dunia menyebutkan angka pertumbuhan yang diproyeksikan masih berada di bawah target pemerintah.
Berita Terkait
Laporan tersebut menempatkan angka proyeksi Bank Dunia di bawah kisaran pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah sebesar 5,4%. Dengan kata lain, meskipun proyeksi Bank Dunia menggambarkan stabilitas di kisaran 5,2% untuk 2026 hingga 2027, target pemerintah berada pada tingkat yang lebih tinggi.
Perbedaan antara proyeksi dan target menjadi poin penting karena menggambarkan ekspektasi yang tidak sepenuhnya selaras. Di satu sisi, angka Bank Dunia memberi gambaran lintasan pertumbuhan yang konsisten untuk tahun-tahun yang akan datang. Di sisi lain, target pemerintah menunjukkan ambisi pertumbuhan yang lebih tinggi dari proyeksi tersebut.
Dalam konteks laporan East Asia and Pacific Economic Update, penyebutan angka untuk Indonesia berserta perbandingan kawasan menjadi cara Bank Dunia menempatkan kondisi domestik ke dalam lanskap regional yang lebih luas. Pembanding Asia Timur dan Pasifik pada level 4,5% serta pembanding ASEAN—khususnya Vietnam pada 7,4%—menjadi kerangka agar pembaca dapat menilai posisi Indonesia secara relatif.
Secara keseluruhan, pesan utama proyeksi Bank Dunia adalah stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 di angka 5,2%. Namun, stabilitas itu masih berada di bawah kisaran target pertumbuhan yang diproyeksikan pemerintah sebesar 5,4%, sehingga arah capaian tetap akan bergantung pada bagaimana realisasi mengikuti proyeksi.
Rangka perbandingan itu juga menegaskan bahwa proyeksi Bank Dunia bukan sekadar angka tunggal. Dengan menempatkan Indonesia di tengah performa kawasan, pembaca diarahkan untuk menilai apakah pertumbuhan Indonesia cukup kompetitif atau justru masih tertinggal dalam dinamika regional yang berlangsung bersamaan.
Di sisi lain, selisih antara kisaran 5,2% versi Bank Dunia dan kisaran 5,4% yang dipatok pemerintah memperlihatkan adanya jarak ekspektasi kebijakan. Artinya, meski lintasan pertumbuhan yang diproyeksikan terdengar stabil, hasil akhirnya tetap bergantung pada kemampuan realisasi untuk mendekati atau melampaui target yang lebih ambisius.
Untuk periode 2026 dan 2027, stabilitas yang disebut Bank Dunia dapat dibaca sebagai sinyal bahwa pertumbuhan tidak diperkirakan berubah tajam. Namun, karena proyeksi tetap berada di bawah target, pembahasan tentang arah capaian menjadi lebih relevan pada bagaimana pemerintah mengarahkan langkah agar pertumbuhan yang terjadi dapat bergerak ke angka target.












