jurnalistik.co.id – Uganda tengah dihebohkan oleh kabar penangkapan seorang pria bernama Moses Mujurizi. Ia dituduh membunuh sekaligus memakan 38 orang dalam rentang sekitar 15 tahun.
Pengumuman penangkapan itu disampaikan oleh Kepala Angkatan Pertahanan Uganda, Jenderal Muhoozi Kainerugaba, yang menyampaikan kabar melalui platform X. Ia menyatakan aparat keamanan telah menangkap Mujurizi.
Kainerugaba menulis bahwa tersangka merupakan pembunuh berantai dan kanibal. Dalam unggahannya, ia menyampaikan, “Saya senang dapat menginformasikan kepada warga bahwa aparat keamanan telah menangkap sosok jahat bernama Moses Mujurizi. Dia adalah pembunuh berantai dan kanibal terburuk dalam sejarah Uganda,” sebagaimana dikutip media Firstpost.
Menurut keterangan yang disampaikan Kainerugaba, Mujurizi diduga melakukan pembunuhan pada periode 2010 hingga 2025. Lokasi yang disebut mencakup distrik Masaka, Ibanda, dan Kazo.
Selain mengumumkan penangkapan, Kainerugaba juga menyatakan tersangka akan menjalani persidangan secara terbuka. Ia menegaskan rencana penanganan perkara tersebut melalui kalimat, “Kami akan mengadilinya secara terbuka dan pastinya akan mengeksekusinya,” tulisnya.
Meski demikian, tuduhan terhadap Mujurizi belum pernah dibuktikan di pengadilan. Karena itu, ia saat ini masih berstatus tersangka.
Modus yang diduga muncul dari laporan investigasi Sejumlah laporan media menyebut dugaan cara pelaku menjalankan aksinya. NDTV melaporkan bahwa penyelidik menduga Mujurizi menargetkan satu keluarga secara beruntun, dengan membobol rumah terlebih dahulu sebelum menyerang penghuni menggunakan parang.
Sementara itu, Metro memuat informasi lain terkait proses sebelum serangan terjadi. Laporan tersebut menyebut dugaan pelaku menjebol dinding rumah sebelum melakukan penyerangan.
Di tengah penyelidikan yang bergulir, kasus-kasus terdahulu juga kembali disorot. Salah satu yang disebut berkaitan adalah pembunuhan terhadap sembilan orang yang memiliki hubungan dengan keluarga pendeta Pentakosta Steven Mugambe di distrik Rakai pada Januari 2013, menurut Pulse.
Peristiwa pada 2013 itu muncul di tengah penyelidikan lanjutan atas rangkaian pembunuhan yang sebelumnya pernah meneror wilayah Greater Masaka lebih dari satu dekade lalu. Media juga mengaitkan kabar baru ini dengan jejak kejadian di kawasan yang sama.
Berita Terkait
- Kapolda Gorontalo Irjen Pol. Nurworo Danang sampaikan pesan kamtibmas lewat Jumat Keliling, ajak warga jaga kerukunan
- Dansat Brimob Polda Gorontalo Tekankan Jaga Kesehatan dan Disiplin Personel Saat Apel Pagi
- Hari Kesembilan Operasi Patuh Otanaha 2026, Kabag Ops Ditlantas Polda Gorontalo Tegur Kendaraan ODOL
Investigasi media pada Desember 2013 sebelumnya menyoroti seorang tersangka bernama Fred Mujulizi. Ia dikenal pula sebagai Kulaish Kamugisha, dan dikaitkan dengan serangan di sejumlah wilayah, termasuk Masaka, Rakai, Lyantonde, Sanga, dan Kalisizo.
Laporan terdahulu menyebut sekitar 35 orang tewas dalam serangan serupa di Greater Masaka sepanjang 2013. Namun, jumlah tersebut tidak diverifikasi secara independen sebagai korban yang secara khusus terkait dengan Mujulizi.
Polisi juga pernah menyelidiki dugaan pembunuhan di Masaka dan Rakai pada 2012 hingga 2013. Dalam penyelidikan pada periode tersebut, penyidik mempertimbangkan kemungkinan adanya pihak yang membantu tersangka agar dapat menghindari penahanan.
Perkara lain yang dibawa ke pengadilan pada Oktober 2026 Di bagian lain, Uganda Radio Network melaporkan bahwa Fred Mujulizi dan Huzairuh Kyambadde dihadapkan ke pengadilan pada 16 Oktober 2026. Keduanya didakwa terkait pembunuhan dan perdagangan manusia.
Laporan tersebut menghubungkan dakwaan dengan kematian seorang perempuan di Greater Masaka pada 28 September. Jaksa menduga korban dipancing dengan janji hubungan asmara sebelum akhirnya dibunuh dalam peristiwa yang diduga berkaitan dengan praktik ritual.
Menurut Pulse, Mujulizi dan Kyambadde ditahan di Penjara Pusat Masaka hingga 5 November 2026 sambil menunggu kelanjutan proses penyidikan. Dengan demikian, rangkaian perkara yang beredar melibatkan beberapa nama dan episentrum wilayah yang berbeda.
Walau ada kemiripan wilayah serta jenis kejahatan yang diduga, laporan yang tersedia belum memastikan hubungan langsung antara kasus kedua tersangka tersebut dengan pengumuman penangkapan Moses Mujurizi. Hingga kini, keterkaitan antarkasus masih menunggu pembuktian dalam proses hukum.
Peringatan keras dan permintaan pembuktian di pengadilan Dalam pengumuman yang sama, Kainerugaba turut mengunggah foto Moses Mujurizi dalam kondisi diborgol. Ia juga memberikan peringatan kepada pihak lain yang diduga terlibat dalam pembunuhan serupa.
Dalam unggahan itu, Kainerugaba menulis, “Saya punya pesan untuk para pembunuh di Uganda: kami akan memburu kalian.” Pernyataan bernada tegas tersebut memperlihatkan tekanan politik dan penegakan hukum yang ingin ditunjukkan sejak awal.
Meski demikian, rincian bukti fisik yang disebut ditemukan di kediaman tersangka belum diungkapkan secara lengkap. Sementara seluruh tuduhan terhadap Mujurizi masih harus diuji melalui proses hukum, statusnya tetap berada pada tahap tersangka.
Dengan berjalannya penyelidikan dan persidangan, publik akan menunggu klarifikasi atas tuduhan pembunuhan dan dugaan kanibalisme yang melibatkan 38 korban. Tahap pembuktian di pengadilan menjadi penentu apakah klaim yang disampaikan aparat dan laporan-laporan media akan terbukti atau gugur.












