Bisnis & Ekonomi

Bursa Asia Senin Berpeluang Menguat, Dipacu Ekspektasi Suku Bunga Mereda dan Minyak Menguat

×

Bursa Asia Senin Berpeluang Menguat, Dipacu Ekspektasi Suku Bunga Mereda dan Minyak Menguat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bursa Asia Hari Senin Berpeluang Naik Efek Dua Faktor Ini - Market

jurnalistik.co.id – Bursa saham Asia Senin diperkirakan dibuka lebih tinggi, seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap langkah kebijakan moneter Federal Reserve. Sentimen tersebut ditopang data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dinilai lebih lemah dari perkiraan, sehingga tekanan agar suku bunga terus dinaikkan ikut menurun.

Di saat yang sama, harga minyak mentah yang menguat memberikan dorongan tambahan bagi sejumlah pelaku pasar. Pergerakan komoditas juga ikut terkait dinamika geopolitik, khususnya upaya pemerintah Yaman merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok Houthi.

Indikasi kenaikan juga terlihat dari prospek perdagangan di beberapa bursa utama Asia. Saham-saham Jepang, Korea Selatan, serta Taiwan dipantau mengarah pada pembukaan lebih baik pada awal pekan.

Di pasar AS, penguatan sudah lebih dulu terjadi pada Jumat pekan lalu. Nasdaq 100 bergerak naik 0,2% setelah kontrak dasarnya ditutup pada rekor tertinggi pada Jumat, sementara S&P 500 menguat tipis pada pembukaan perdagangan di Asia.

Penguatan di Wall Street tersebut dipicu oleh laporan yang menunjukkan penambahan lapangan kerja AS pada bulan September lebih rendah daripada perkiraan para ekonom. Selain itu, pertumbuhan upah juga disebut melambat, yang membuat ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan tampak berkurang.

Sentimen suku bunga menjadi salah satu faktor kunci dalam pergerakan pasar global. Dengan data ketenagakerjaan yang lebih lemah, pasar menilai ruang bank sentral untuk melanjutkan pengetatan bisa tidak seagresif sebelumnya.

Di sisi komoditas, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik melewati US$103 per barel pada awal Senin. Kontrak tersebut tercatat sempat menguat hampir 5% pada pekan lalu, dan pada awal perdagangan hari ini tren kenaikan tetap berlanjut.

Penguatan harga minyak juga terus ditopang oleh keputusan OPEC+. Organisasi negara-negara produsen minyak dan sekutunya, OPEC+, sepakat untuk mempertahankan kuota produksi tanpa perubahan pada bulan depan. Konteks itu memberi dukungan pada proyeksi pasokan, sehingga harga tetap terangkat.

Namun, tidak semua instrumen bergerak dengan arah yang sama. Harga emas relatif stabil setelah mencatat kerugian mingguan terbesar sejak Juni, menandakan pasar masih mencermati arah kebijakan moneter dan dinamika permintaan aset lindung nilai.

Dengan kombinasi sentimen yang lebih seimbang antara prospek suku bunga dan penguatan minyak, pasar Asia berada pada fase penyesuaian menuju pembukaan hari Senin. Fokus perhatian berikutnya tetap tertuju pada perkembangan data ekonomi dan arah harga komoditas, yang pada gilirannya berpotensi memengaruhi pergerakan indeks di kawasan.

Secara keseluruhan, pasar merespons dua pendorong utama: meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah, serta menguatnya minyak seiring dinamika geopolitik di kawasan Yaman. Kombinasi faktor tersebut menjadi alasan utama mengapa banyak bursa di Asia diproyeksikan bergerak menguat pada awal pekan ini.

Bagi investor, perubahan ekspektasi terhadap langkah bank sentral biasanya langsung tercermin pada preferensi risiko. Ketika proyeksi pengetatan dinilai melandai, pasar cenderung memberi ruang lebih besar bagi saham, sementara pelaku juga menunggu sinyal lanjutan dari indikator ekonomi berikutnya untuk menegaskan arah kebijakan moneter.

Di saat bersamaan, reli minyak mentah terus menjadi salah satu penggerak utama karena menggabungkan dua elemen yang sama-sama mendapat perhatian: dukungan dari kesepakatan OPEC+ untuk mempertahankan kuota, serta dinamika geopolitik di Yaman yang berhubungan dengan perebutan wilayah yang selama ini dikuasai kelompok Houthi.

Sementara itu, pergerakan emas yang relatif stabil memperlihatkan bahwa pasar belum sepenuhnya mengalihkan seluruh fokusnya hanya pada peluang suku bunga. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya sikap menunggu, seiring pelaku pasar menilai bagaimana kombinasi sentimen suku bunga dan komoditas akan membentuk arah indeks di berbagai bursa kawasan.