Bisnis & Ekonomi

Emas Berupaya Bangkit, Ramalan Harga Terbaru Picu Kekhawatiran

×

Emas Berupaya Bangkit, Ramalan Harga Terbaru Picu Kekhawatiran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Emas Mencoba Bangkit: Ramalan Harga Terbaru Bikin Sedih

jurnalistik.co.id – Harga emas dunia pada awal pekan ini masih bergerak dengan kecenderungan tertahan, seiring tingginya tekanan suku bunga Amerika Serikat (AS). Kendati demikian, sejumlah pandangan di pasar tetap membuka peluang penguatan untuk periode menengah hingga panjang.

Pada perdagangan hari ini, Senin (12/10/2026) pukul 06.31 WIB, emas berada di level US$4193,75 per troy ons. Angkanya nyaris tidak berubah, dengan pelemahan tipis sebesar 0,002%.

Di sesi terakhir pekan lalu, Jumat (9/10/2026), harga emas justru mencatat kenaikan 1,45% menjadi US$4193,83 per troy ons. Sepanjang pekan tersebut, emas masih mampu menguat 1,24% secara kumulatif.

Pergerakan emas pada minggu berjalan diperkirakan akan banyak ditentukan oleh rilis data makro AS, terutama inflasi yang dijadwalkan terbit pada Rabu (14/10/2026). Menjelang data tersebut, sentimen pasar terlihat terbagi di kalangan pelaku profesional maupun investor ritel.

Dalam survei emas Kitco, sebanyak 7 dari 14 analis atau 50% menyatakan harga emas berpeluang naik pekan ini. Sementara itu, 2 analis (14%) memprediksi harga akan turun, sedangkan 5 analis lainnya (36%) memperkirakan pergerakan cenderung mendatar atau belum dapat menentukan arah.

Gambaran yang relatif optimistis juga terlihat dari survei terhadap 206 investor ritel. Sebanyak 93 investor (45%) memperkirakan harga emas naik, 77 investor (37%) memprediksi penurunan, dan sisanya 36 investor (18%) memilih skenario harga bergerak stabil.

Direktur riset senior pasar Barchart.com, Darin Newsom, juga menilai harga emas masih punya peluang untuk menguat dalam pekan ini. Menurutnya, dinamika fundamental pasar tidak mengalami perubahan besar, namun terdapat faktor pendorong apabila situasi geopolitik mereda.

Newsom menambahkan, jika Presiden AS Donald Trump mempertahankan komitmen untuk tidak melancarkan serangan udara tambahan ke Iran hingga pemilu paruh waktu, harga energi berpotensi menurun. Kondisi tersebut diyakini dapat memberi ruang bagi pemulihan harga logam mulia.

Dari sisi teknikal, perhatian pasar diarahkan pada level support di US$4.104. Apabila level tersebut ditembus secara meyakinkan, harga berpotensi melanjutkan penurunan menuju rentang US$3.943 hingga US$3.800.

Di sisi lain, area US$4.493 hingga US$4.533 dipandang sebagai zona resistensi penting. Perubahan arah yang lebih menguat, menurut kerangka teknikal, perlu dikonfirmasi melalui kemampuannya menembus dan bertahan pada rentang tersebut.

Proyeksi dari lembaga keuangan besar juga menunjukkan bahwa pasar sedang menimbang kembali ekspektasi suku bunga. Goldman Sachs, misalnya, memangkas proyeksi harga emas akhir 2026 menjadi US$4.900 per troy ounce, turun US$500 dari estimasi sebelumnya sebesar US$5.400.

Bank tersebut menyebut penundaan pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) sebagai faktor utama yang menekan prospek emas. Berbeda dengan itu, UBS memperkirakan harga emas dapat mencapai US$5.200 per troy ounce pada Juni 2027, serta US$5.400 pada September 2027.

Crédit Agricole juga memasang target US$5.000 untuk akhir 2026, yang nilainya lebih tinggi dibandingkan proyeksi UBS pada periode yang sama. Perbedaan proyeksi tersebut terutama dipengaruhi oleh penilaian masing-masing lembaga terhadap arah suku bunga, pergerakan dolar AS, serta permintaan emas dari bank sentral dan investor.

Secara spesifik, Goldman Sachs cenderung berhati-hati dalam jangka pendek karena pemangkasan suku bunga diperkirakan mundur hingga 2027. UBS menilai, tekanan di jangka pendek masih ada, tetapi pembelian bank sentral dan diversifikasi cadangan devisa akan menjadi penopang untuk horizon yang lebih panjang.

Crédit Agricole melihat peluang pemulihan menuju US$5.000 pada akhir 2026, terutama bila pembelian bank sentral kembali menguat dan tekanan harga energi mereda. UBS juga memperkirakan pembelian emas bank sentral mencapai 750-1.000 ton sepanjang tahun.

Bukan hanya kebijakan moneter, dukungan bagi emas juga dinilai datang dari faktor lain. Kekhawatiran terhadap utang pemerintah, potensi pelemahan dolar AS, serta permintaan dari China dan India disebut menjadi elemen yang ikut menopang harga.

Bagaimana dengan perak? Pergerakan logam mulia ini justru terlihat lebih bergairah. Pada Senin (12/10/2026) pukul 06.37 WIB, harga perak tercatat menguat 0,22% ke YS$ 60,93 per troy ons.

Di perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (9/10/2026), harga perak melesat 2,5% menjadi US$60,81 per troy ons. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa momentum perak pada awal periode berjalan masih berusaha mempertahankan kenaikan yang dibawa dari akhir pekan.