jurnalistik.co.id – Harga emas dan perak bergerak melemah di tengah kenaikan minyak dan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS). Kombinasi dua faktor itu membuat sentimen pasar logam cenderung tertahan, sementara pelaku menunggu rilis data inflasi AS untuk membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Pada perdagangan Senin (12/10/2026), harga emas ditutup di level US$ 4171,09 per troy ons. Harga emas turun 0,54% dan pelemahan ini mengakhiri reli emas yang sempat berjalan selama dua hari sebelumnya.
Memasuki Selasa (13/10/2026), pada pukul 06.23 WIB, emas kemudian menunjukkan perbaikan tipis. Harga emas menguat 0,03% menjadi US$ 4172,27 per troy ons, meski tekanan dari sentimen pasar masih terasa.
Salah satu pendorong utama pelemahan emas disebut berasal dari lonjakan dolar AS. Indeks dolar melambung ke 102,589, yang menjadi level tertinggi sejak April 2025 ketika dunia sempat terguncang oleh perang dagang.
Dalam mekanisme perdagangan, penguatan dolar membuat transaksi komoditas—termasuk emas—lebih mahal saat dikonversi. Kondisi itu berujung pada penurunan minat beli, terutama ketika dolar berada di dekat puncak dalam rentang waktu relatif panjang. “Kami melihat adanya tekanan jual pada emas karena dolar berada di dekat level tertinggi dalam satu setengah tahun,” kata Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange, dikutip dari Refinitiv.
Di saat yang sama, investor juga cenderung bersikap lebih hati-hati menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketidakpastian geopolitik membuat pasar tidak terburu-buru mengambil posisi agresif pada aset yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter.
Perhatian pasar kemudian tertuju pada jadwal data inflasi AS yang dinilai dapat menjadi petunjuk kebijakan suku bunga The Fed. Pelaku pasar akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh, serta sejumlah data penting yang dirilis pekan ini.
Berita Terkait
Data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS dijadwalkan rilis pada Rabu, disusul Indeks Harga Produsen (PPI) dan data penjualan ritel pada Kamis. Wyckoff menilai, laporan-laporan tersebut berpotensi tidak menunjukkan tanda-tanda inflasi yang mulai mereda. “Data itu kemungkinan akan menjadi sentimen negatif bagi pasar logam,” tambahnya.
Secara umum, pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini. Namun, berdasarkan perangkat FedWatch milik CME, peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 87,7%, sehingga meningkatkan tekanan terhadap aset seperti emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Dalam lingkungan suku bunga yang tinggi, sebagian investor cenderung mengalihkan pilihan ke aset yang menawarkan pendapatan berbasis imbal hasil. Emas, di sisi lain, tidak menghasilkan bunga, sehingga daya tariknya dapat menurun ketika prospek suku bunga masih dipandang ketat oleh pasar.
Selain faktor dolar dan ekspektasi The Fed, pergerakan harga minyak turut menjadi penanda perubahan sentimen. Di pasar komoditas, harga minyak naik mendekati level tertinggi dalam hampir dua pekan pada Senin, dan lonjakan tersebut ikut memengaruhi dinamika di pasar aset berisiko dan komoditas.
Dalam pemberitaan itu, disebutkan bahwa serangan terhadap Arab Saudi mengalahkan sentimen potensi tambahan pasokan ke pasar. Sentimen tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyambut ekspor diesel baru dari Rusia, serta adanya kesepakatan gencatan senjata Rusia-Ukraina yang mencakup infrastruktur energi.
Tekanan juga tampak pada harga perak. Pada perdagangan Senin (12/10/2026), harga perak ditutup di posisi US$ 60,32 per troy ons atau melemah 0,81%. Setelah itu, perak mencoba melakukan pemulihan, namun geraknya tidak cukup kuat untuk membalikkan tekanan.
Pada Selasa (13/10/2026) pukul 06.23 WIB, harga perak melandai 0,04% menjadi US$ 60,29 per troy ons. Dengan dolar yang masih menjadi penentu arah jangka pendek dan minyak yang tetap menguat, pergerakan perak berpotensi terus mengikuti sensitivitas pasar terhadap ekspektasi suku bunga The Fed.












