Bisnis & Ekonomi

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Sentimen Membebani AMMN dan BYAN

×

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Sentimen Membebani AMMN dan BYAN

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Balik Arah Jadi Merah, Terbeban Sentimen & Saham-saham Ini - Market

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Sesi I Kamis (8/10/2026) berbalik melemah dan menutup perdagangan di zona merah. Indeks turun 0,8% ke level 6.097,4, setelah pada awal perdagangan sempat menguat.

Pada awal sesi, IHSG bergerak positif hingga mencapai titik tertinggi di 6.179,09. Namun, laju indeks kemudian bergeser menjadi melemah dan perlahan turun hingga 6.088,88.

Pergerakan tersebut turut dipengaruhi pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar yang menjadi penekan utama sepanjang Sesi I. Di antaranya, saham PT Amman Mineral Tbk (AMMN) dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) tercatat ikut membebani indeks.

Sejalan dengan itu, saham-saham dengan bobot besar yang bergerak di sektor teknologi, energi, dan infrastruktur juga mengalami koreksi. Teknologi melemah 1,82%, energi turun 1,72%, sedangkan infrastruktur terkoreksi 1,51% pada periode yang sama.

Aktivitas perdagangan pada Sesi I juga tercatat tinggi. Bursa Efek Indonesia mencatat nilai transaksi mencapai Rp7,05 triliun dengan total saham yang berpindah tangan sekitar 43,8 miliar lembar.

Frekuensi perdagangan tercatat terjadi sebanyak 1,13 juta kali, menggambarkan transaksi yang cukup sering di tengah pergeseran sentimen pada fase tengah hari. Perubahan arah indeks dari penguatan menuju pelemahan terjadi setelah sempat menyentuh level tertinggi di awal sesi.

Daftar saham pelemah terbesar pada Sesi I

Beberapa saham menjadi top laggards per Sesi I Kamis (8/10/2026), dengan dampak penurunan yang beragam terhadap pergerakan indeks. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melemah 6,51 poin, sementara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turun 4,11 poin.

Penurunan juga terlihat pada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang turun 4 poin. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terkoreksi sebesar 3,71 poin, diikuti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang melemah 3,51 poin.

Selain itu, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun 3,35 poin dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) melemah 3,15 poin. Di sektor perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga ikut turun sebesar 2,96 poin pada Sesi I.

Dari sisi saham lain, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 2,67 poin, sedangkan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) terkoreksi 1,85 poin. Kombinasi pelemahan beberapa saham besar tersebut membantu menjelaskan mengapa IHSG akhirnya berbalik ke zona merah pada paruh awal perdagangan.

Dengan demikian, dinamika Sesi I menunjukkan transisi yang cepat dari penguatan menuju koreksi. Pada saat indeks bergerak menjauh dari puncak awal sesi, tekanan dari beberapa emiten berkapitalisasi besar menjadi faktor yang paling terasa pada pergerakan IHSG di 6.097,4.

Peralihan arah IHSG itu terlihat konsisten: setelah sempat berada di fase menguat dan mengunjungi puncak awal sesi, tekanan jual kemudian membuat indeks menyusut dari area tertinggi menuju kisaran 6.088,88. Meski pada akhirnya ditutup di 6.097,4, pergerakan sepanjang Sesi I tetap mencerminkan dominasi pelemahan yang lebih kuat dibanding penguatan yang sempat terjadi di awal.

Dari sisi komposisi penekan, dampak koreksi tidak hanya datang dari satu sektor. Saham-saham berkapitalisasi besar yang disebutkan, seperti AMMN dan BYAN, menjadi bagian dari katalis melemahnya indeks, sementara sektor teknologi, energi, dan infrastruktur turut bergerak turun masing-masing 1,82%, 1,72%, dan 1,51% pada periode yang sama. Kombinasi koreksi lintas sektor tersebut membuat pergerakan indeks cenderung sulit kembali stabil di dekat puncak awal sesi.

Aktivitas perdagangan yang tinggi juga ikut menggambarkan dinamika pergantian sentimen di tengah hari. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp7,05 triliun dengan perpindahan sekitar 43,8 miliar lembar saham, sementara frekuensi mencapai 1,13 juta kali. Dengan frekuensi yang cukup sering, perubahan arah indeks dari penguatan menuju pelemahan setelah menyentuh level tertinggi awal sesi menjadi lebih terasa karena transaksi terjadi terus-menerus ketika pelaku pasar menyesuaikan eksposur ke emiten yang melemah pada Sesi I, termasuk beberapa yang disebutkan seperti BMRI, GOTO, BREN, dan BBRI.