Bisnis & Ekonomi

Raffi Ahmad Komentari Saham RANS yang Mulai Dekati Harga IPO

×

Raffi Ahmad Komentari Saham RANS yang Mulai Dekati Harga IPO

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tanggapan Raffi Ahmad Soal Saham RANS Balik Dekati Harga IPO - Market

jurnalistik.co.id –

Raffi Ahmad, pendiri sekaligus pemegang saham mayoritas PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), menanggapi pelemahan harga saham perusahaan yang belakangan bergerak di bawah level awal pelaksanaan penawaran umum perdana.

Menurut pemberitaan Bloomberg Technoz, saham RANS saat ini berada di kisaran Rp180 per saham. Pernyataan itu disampaikan Raffi saat ditemui di Jakarta pada Kamis (8/10/2026).

“Tunggu dong, kalau itu kan ada gebrakannya,” kata Raffi.

Dalam satu bulan terakhir, saham RANS tercatat melemah sebesar 13,46%. Pelemahan tersebut terjadi setelah saham sempat menyentuh level Rp208 per saham pada bulan sebelumnya.

Pergerakan terkini ini menempatkan saham RANS kembali menjadi sorotan pelaku pasar, terutama di tengah jarak harga dengan level penawaran saat IPO. Pada fase awal perdagangan, saham menunjukkan respons yang cukup agresif, lalu kemudian mengalami penyesuaian.

Saat penawaran saham perdana atau IPO pada Juli 2026, harga penawaran RANS dibanderol sebesar Rp170 per saham. Di hari pertama perdagangan, saham langsung menyentuh batas auto rejection atas (ARA) dan ditutup di level Rp228 per saham.

Penutupan di Rp228 itu berarti saham melonjak 34,12% dibandingkan harga IPO. Pada periode yang sama, respons awal tersebut mencerminkan adanya antusiasme pasar ketika penawaran mulai diperdagangkan.

Beberapa waktu setelah IPO, saham RANS juga sempat mencatat titik tertinggi. Sesaat setelah IPO, saham bergerak ke level puncaknya di Rp272 per saham.

Namun, setelah mencapai level tertinggi tersebut, harga kemudian bergerak turun dan kembali menghadapi fase koreksi. Kondisi ini yang akhirnya mempertemukan saham RANS pada level yang kini berada di Rp180 per saham, sesuai data yang disebutkan dalam artikel.

Bagi investor, perubahan arah harga dari puncak menuju level yang lebih rendah biasanya menjadi bagian dari dinamika pasar pasca-IPO. Pergerakan itu dapat memengaruhi cara pelaku pasar membaca momentum jangka pendek, termasuk ekspektasi terhadap kemungkinan pemulihan.

Di tengah konteks itulah, Raffi menyampaikan komentar yang menekankan sikap menunggu. Kalimat yang ia ucapkan, “Tunggu dong, kalau itu kan ada gebrakannya,” menjadi respons langsung terhadap situasi penurunan harga saham yang sedang berlangsung.

Pernyataan Raffi muncul pada waktu saham RANS dilaporkan telah mengalami penurunan 13,46% selama satu bulan terakhir. Sebelumnya, saham sempat menyentuh Rp208 per saham, sebelum kemudian bergerak lebih lemah hingga level Rp180 per saham.

Jika ditarik ke fase IPO, jarak antara harga penawaran di Rp170 dan pergerakan harian setelahnya menunjukkan bahwa saham sempat mendapatkan dorongan kuat pada awal perdagangan. Pada hari pertama, saham bahkan mencapai batas ARA dan berakhir di Rp228 per saham.

Sementara itu, catatan tertinggi di Rp272 per saham yang sempat disentuh sesaat setelah IPO memberi gambaran bahwa terdapat fase ekspansi harga pada tahap awal. Akan tetapi, setelah momentum tersebut, harga mengalami penyesuaian yang akhirnya membawa saham ke level yang lebih rendah dalam periode berjalan.

Dengan kondisi terbaru tersebut, perhatian pasar kembali tertuju pada arah lanjutan saham RANS. Komentar Raffi yang bernada menunggu merefleksikan perspektif pribadinya terhadap situasi yang tengah terjadi, tanpa menyebutkan rincian baru dalam pernyataannya.

Secara keseluruhan, rangkaian data yang disebutkan dalam laporan—mulai dari harga IPO sebesar Rp170, penutupan hari pertama di Rp228, puncak di Rp272, hingga pelemahan 13,46% menuju Rp180—memberi gambaran perjalanan harga RANS dari awal IPO hingga pergerakan terkini yang sedang dipantau.

Rentang pergerakan saham RANS yang disebutkan dalam artikel—dari harga penawaran Rp170, lonjakan penutupan hari pertama di Rp228, hingga sempat menyentuh Rp272—lalu kemudian kembali bergerak ke kisaran Rp180—menunjukkan adanya volatilitas yang menjadi sorotan pelaku pasar.

Dengan jarak pergerakan tersebut, komentar Raffi yang memilih nada menunggu dapat dibaca sebagai upaya merespons ketidakpastian jangka pendek tanpa memperluas keterangan baru, sementara data pelemahan 13,46% selama satu bulan terakhir tetap menjadi indikator utama yang diperhatikan publik.