Bisnis & Ekonomi

Rupiah Dipantau Usai Kabar The Fed, Ini Perkiraan Nilai Tukar Hari Ini

×

Rupiah Dipantau Usai Kabar The Fed, Ini Perkiraan Nilai Tukar Hari Ini

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pasar Cermati Kabar dari The Fed, Cek Prediksi Rupiah Hari Ini - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif pada perdagangan Kamis (8/10/2026), dengan potensi bias menguat di kisaran Rp17.800–Rp17.900 per US$. Pergerakan ini mengikuti respons pasar terhadap nada kebijakan moneter dari The Fed, terutama setelah rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) edisi September.

Dalam risalah tersebut, para pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) pada dasarnya mendukung keputusan yang cenderung hawkish. Narasi yang muncul adalah bahwa meskipun imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor panjang sempat meningkat, kondisi keuangan AS masih dipandang mampu menopang pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, risalah juga menyinggung bahwa pergerakan pasar masih menunjukkan dinamika yang relatif mendukung, tercermin dari kenaikan harga saham dan spread yield obligasi yang tetap sempit. Gambaran ini pada awalnya dapat memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, karena sikap hawkish umumnya cenderung meningkatkan daya tarik aset berimbal hasil di AS.

Namun, prospek itu tidak sepenuhnya mendapat sambutan luas saat pelaku pasar mulai memikirkan ulang konteks ekonomi yang melatarbelakangi kebijakan The Fed. Penyebabnya, risalah FOMC disusun sebelum adanya revisi signifikan terhadap data inflasi, dan sebelum muncul bukti yang menunjukkan pasar tenaga kerja AS mulai melunak.

Indikator yang menjadi sorotan datang dari data penciptaan lapangan kerja non-pertanian (non-farm payrolls) yang anjlok menjadi 29.000 pada September. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,2%, sehingga memperkuat sinyal bahwa tekanan pada tenaga kerja tidak sekuat sebelumnya.

Perubahan pada data ekonomi tersebut dipandang ikut menggeser penilaian sebagian pejabat The Fed terhadap langkah suku bunga berikutnya. Nada penyesuaian terlihat dari pernyataan yang disampaikan secara terpisah pekan lalu oleh Wakil Gubernur The Fed Philip Jefferson dan Gubernur The Fed New York John Williams.

Kedua pejabat tersebut menyatakan bahwa bank sentral masih memiliki waktu untuk menilai perkembangan ekonomi sebelum mempertimbangkan kenaikan suku bunga lanjutan. Pesan semacam itu, secara tidak langsung, menahan ekspektasi kenaikan berikutnya pada Fed Fund Rate (FFR).

Efeknya mulai terlihat pada ekspektasi pasar. Probabilitas kenaikan FFR, menurut Fedwatch, turun menjadi 19,4%. Penurunan ini mengisyaratkan bahwa meski nada komunikasi pejabat The Fed sebelumnya cenderung hawkish, pasar tidak lagi sepenuhnya yakin bahwa langkah kenaikan suku bunga akan segera terealisasi dalam waktu dekat.

Faktor hawkish bertemu sinyal ekonomi yang melemah

Secara teori, sikap hawkish memang berpotensi menekan mata uang negara berkembang melalui penguatan dolar AS dan penyesuaian arus modal. Akan tetapi, dalam konteks terbaru, sejumlah elemen justru meredam respons tersebut: data tenaga kerja yang lebih lemah dan sinyal bahwa evaluasi kebijakan masih menunggu konfirmasi ekonomi.

Dengan demikian, pelaku pasar cenderung memilih pendekatan yang lebih hati-hati. Mereka mempertimbangkan bahwa risalah September menggambarkan dukungan terhadap keputusan yang tegas, tetapi realisasi data setelahnya menunjukkan kondisi ekonomi yang tidak seluruhnya sejalan dengan narasi “jalan yang mulus” untuk kebijakan hawkish lanjutan.

Di tengah pergeseran interpretasi itu, rupiah diproyeksikan lebih mungkin melakukan konsolidasi ketimbang bergerak agresif. Bias penguatan yang masih mungkin muncul tercermin dari turunnya probabilitas kenaikan FFR, sementara kisaran pergerakan menunggu kejelasan tambahan dari data ekonomi lanjutan AS.

Bagi perdagangan hari ini, investor kemungkinan akan tetap mengamati dinamika respons pasar terhadap kombinasi antara nada hawkish dari pejabat The Fed dan sinyal pelunakan ekonomi, khususnya dari indikator tenaga kerja. Jika ekspektasi kenaikan FFR terus melemah, dukungan untuk rupiah dapat berlanjut, setidaknya dalam bentuk penopang pada kisaran Rp17.800–Rp17.900 per US$.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang, sambil menunggu penajaman arah kebijakan moneter AS. Pasar tampaknya belum sepenuhnya menutup ruang penguatan, tetapi juga belum cukup yakin untuk mendorong kenaikan secara cepat tanpa data yang konsisten.