Bisnis & Ekonomi

Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp17.896 per Dolar AS

×

Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp17.896 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Ditutup Menguat di Rp17.896/US$ - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah menutup perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, dengan penguatan yang sangat terbatas. Kurs berada di level Rp17.896 per US$, atau naik 0,04% dibanding posisi sebelumnya.

Di tengah pergerakan tersebut, perhatian pasar masih tertuju pada tekanan dari dolar Amerika Serikat (AS). Indeks dolar (US dollar index) dilaporkan bertahan di angka 102,29, sehingga sentimen valas di kawasan tetap cenderung berfluktuasi.

Sore itu, sejumlah mata uang Asia bergerak melemah. Dolar Taiwan tergerus 0,73%, won Korea Selatan melemah 0,57%, peso Filipina turun 0,07%, dan ringgit Malaysia melemah 0,04%.

Perubahan juga terlihat pada mata uang China, baik yuan maupun yuan offshore. Keduanya masing-masing tercatat turun tipis sebesar 0,01%.

Sementara itu, tidak semua mata uang melemah. Beberapa di antaranya menguat, termasuk rupee India dan yen Jepang, serta rupiah yang bergerak dengan penguatan yang lebih terbatas dibanding mata uang lain di kawasan.

Penguatan rupiah yang tipis tersebut turut dibarengi dinamika di pasar surat utang. Pergerakan yield menjadi salah satu faktor yang menopang arah pergerakan, khususnya ketika sebagian tenor mengalami penurunan.

Untuk tenor 1 tahun, yield turun 4,4 basis poin (bps) menjadi 6,67%. Selanjutnya tenor 2 tahun juga turun 1 bps ke level 6,78%, sedangkan tenor 3 tahun turun 1,4 bps menjadi 6,91%.

Tenor acuan 10 tahun ikut bergerak turun, dengan yield dilaporkan turun 1,9 bps menjadi 7,19%. Pola penurunan pada beberapa titik tenor ini memberikan latar pasar yang lebih mendukung di tengah kuatnya tekanan dolar.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga terlihat melakukan intervensi melalui operasi moneter. Intervensi tersebut dijalankan lewat beberapa instrumen sekaligus, yang pada laporan ini tercermin dari transaksi swap.

Melansir informasi BI, bank sentral menjual dolar AS melalui transaksi swap dengan nilai total US$540 juta. Rincian tenor swap yang disebutkan adalah 1 bulan sebesar US$145 juta, 3 bulan sebesar US$150 juta, 6 bulan sebesar US$50 juta, serta 12 bulan sebesar US$195 juta.

Lewat transaksi tersebut, BI memasok dolar AS kepada perbankan. Dengan suplai itu, perbankan dibantu dalam memenuhi kebutuhan dolar, sekaligus membantu meredam tekanan pembelian dolar AS di pasar spot.

Secara keseluruhan, kombinasi penurunan yield pada beberapa tenor surat utang dan intervensi melalui swap menjadi dua elemen yang tampak berpengaruh terhadap penutupan rupiah. Meski demikian, besaran penguatannya tetap kecil, selaras dengan kondisi indeks dolar yang berada di kisaran 102,29.

Di saat mata uang Asia bergerak tidak seragam, arah rupiah yang menguat terbatas menunjukkan dinamika yang masih dikendalikan oleh kombinasi faktor eksternal dan langkah kebijakan domestik. Pergerakan kurs tetap ditentukan oleh bagaimana tekanan dolar AS berlanjut, serta bagaimana pasar merespons pasokan valas yang disalurkan melalui instrumen BI.

Dengan kurs akhir di Rp17.896 per US$ pada hari Selasa tersebut, pasar menutup perdagangan pada level yang menggambarkan kehati-hatian. Penguatan tipis ini sekaligus mencerminkan bahwa dukungan domestik melalui operasi moneter berjalan di tengah kebutuhan valas yang masih sensitif terhadap pergerakan dolar.

Penguatan rupiah yang tidak terlalu lebar juga memperlihatkan bahwa pelaku pasar memilih strategi menunggu perkembangan. Meski yield obligasi melemah pada beberapa tenor, respons kurs tetap terlihat hati-hati, sejalan dengan indeks dolar yang bertahan di kisaran 102,29.

Dari sisi instrumen kebijakan, mekanisme swap yang melibatkan penjualan dolar AS turut menjadi penyangga. Dengan total nilai yang disebutkan mencapai US$540 juta, pasokan tersebut membantu perbankan memenuhi kebutuhan valas sekaligus menekan dorongan pembelian dolar di pasar spot.

Karena beberapa mata uang Asia bergerak melemah—termasuk dolar Taiwan, won Korea Selatan, dan ringgit Malaysia—arah rupiah pada akhirnya lebih banyak ditentukan oleh keseimbangan antara tekanan dari dolar AS dan aliran valas yang disalurkan melalui transaksi BI. Kombinasi itu membuat penguatan tetap terbatas meski sentimen valas berfluktuasi.