jurnalistik.co.id – Rupiah ditutup melemah pada Kamis (15/10/2026) sebesar 0,2% menjadi Rp17.936/US$ setelah tekanan jual meningkat di pasar keuangan. Pergerakan nilai tukar terjadi seiring aksi jual yang cukup masif di pasar saham.
Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 5.826,75. Penurunan tersebut menggambarkan memburuknya sentimen pasar pada sore hari.
Sentimen yang sama kemudian merembet ke pasar obligasi, ditandai dengan kenaikan yield di sebagian besar tenor. Pada tenor 5 tahun, yield mencatat kenaikan terdalam sebesar 5,4 basis poin (bps) menjadi 7,07%.
Pergerakan yield juga terlihat pada tenor 8 tahun yang naik 4,7 bps menjadi 7,23%, serta tenor acuan 10 tahun yang terkerek 3,2 bps menjadi 7,24%. Sebelumnya pada siang hari, pasar surat utang masih cenderung defensif pada tenor pendek hingga menengah.
Pola yang terjadi di domestik justru berlawanan dengan arah pergerakan yield di pasar global, terutama US Treasury. Pada waktu yang sama, US Treasury turun 9,6 bps menjadi 5,08%, sehingga nada pasar surat utang global bergerak mengikuti dinamika tersebut.
Di luar Amerika Serikat, pergerakan juga tercermin pada beberapa negara lain. Yield obligasi pemerintah Jepang untuk tenor 10 tahun turun 10,3 bps menjadi 2,88%, sementara Korea Selatan turun 5,5 bps menjadi 4,19%.
Prancis turut mengalami penurunan, dengan yield turun 12,1 bps menjadi 4,75%. Dengan demikian, beberapa pasar global menunjukkan pelemahan yield pada tenor yang dibahas, berbeda dari kondisi yang terjadi di pasar domestik.
Berita Terkait
Pada Kamis sore itu, pasar surat utang domestik berbalik arah: yield naik di hampir semua tenor. Kondisi ini terjadi setelah aksi jual meluas di pasar saham, yang memperkuat tekanan terhadap instrumen pendapatan tetap.
Sentimen domestik makin ditambah oleh respons pasar usai rilis data utang luar negeri. Utang luar negeri tercatat meningkat menjadi US$459,3 miliar pada Agustus 2026, naik US$24,44 miliar atau sekitar 5,6% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut juga disebut sebagai utang luar negeri tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Dengan latar itu, pasar tampak menaruh perhatian pada beban pembiayaan dari utang luar negeri seiring pelemahan rupiah, jatuhnya IHSG, dan kenaikan yield pada sejumlah tenor obligasi.
Ketika rupiah melemah dan tekanan jual merembet dari ekuitas, pasar pendapatan tetap terlihat merespons dengan lebih cepat. Data utang luar negeri yang meningkat menjadi US$459,3 miliar pada Agustus 2026 turut menambah fokus pelaku pasar pada dinamika pembiayaan, terutama di tengah kurs yang sedang tertekan.
Di sisi obligasi domestik, pergeseran tercermin melalui kenaikan yield yang terjadi merata pada beberapa tenor. Setelah perubahan mulai terlihat sejak sesi sebelumnya cenderung defensif pada tenor pendek hingga menengah, menjelang Kamis sore yield kemudian bergerak lebih tinggi, dengan tenor menengah dan panjang turut ikut terangkat.
Perbedaan arah tersebut juga tampak ketika dibandingkan dengan pergerakan di pasar global. Pada periode yang sama, US Treasury mengalami penurunan yield sebesar 9,6 bps menjadi 5,08%, sehingga nada surat utang internasional bergerak mengikuti pelemahan imbal hasil tersebut.
Pola penurunan yield global tidak berhenti pada Amerika Serikat. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun turun 10,3 bps menjadi 2,88%, Korea Selatan turun 5,5 bps menjadi 4,19%, dan Prancis turun 12,1 bps menjadi 4,75%. Kombinasi ini menunjukkan kecenderungan pelemahan yield di beberapa pasar yang disebutkan.
Dengan demikian, penguatan tekanan pada domestik semakin menonjol karena terjadi berlawanan arah dengan global. Setelah aksi jual meluas di pasar saham dan sentimen melemah, yield obligasi domestik naik di hampir semua tenor, sementara perhatian pasar tetap ditopang oleh rilis utang luar negeri yang dinilai berada pada level tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.












