Bisnis & Ekonomi

Wamenkeu Juda Agung: RI Perlu Belajar Industrialisasi dari Vietnam dan Korea Selatan

×

Wamenkeu Juda Agung: RI Perlu Belajar Industrialisasi dari Vietnam dan Korea Selatan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kemenkeu: RI Perlu Belajar Industrialisasi dari Vietnam-Korsel - Market

jurnalistik.co.id – Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan Indonesia perlu mempelajari pengalaman industrialisasi sejumlah negara untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas industri di dalam negeri. Ia menilai arah kebijakan tersebut penting agar struktur ekonomi tidak terlalu bergantung pada produk dengan tingkat kecanggihan yang rendah.

Pernyataan itu disampaikan Juda dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta pada Selasa (13/10/2026). Dalam forum tersebut, ia menyoroti persoalan kesenjangan kemampuan industri Indonesia dibanding beberapa negara yang lebih dulu bergerak naik kelas.

Juda menekankan bahwa Indonesia masih berada pada posisi yang tertinggal dalam aspek kompleksitas ekonomi. Ia menyebut Vietnam, Thailand, serta Korea Selatan (Korsel) sebagai contoh negara yang telah menunjukkan kemajuan dalam membangun kapabilitas produktif dan diversifikasi industri.

Menurut Juda, kompleksitas ekonomi dapat dipahami sebagai ukuran untuk melihat seberapa beragam dan seberapa maju pengetahuan atau kapabilitas produktif yang dimiliki suatu wilayah atau negara. Indikator ini, lanjutnya, membantu membaca kualitas ekosistem ekonomi dari sisi kemampuan menghasilkan produk-produk yang lebih rumit dan bernilai tambah lebih tinggi.

Dalam paparannya, Juda menggunakan data Ricardo Hausmann dari Harvard Growth Lab. Ia menyampaikan bahwa Indonesia saat ini menempati peringkat ke-69 dari 140 negara, sehingga posisinya berada di bawah beberapa negara pembanding seperti Malaysia, Thailand, bahkan India.

Ia tidak memaparkan bahwa ketertinggalan tersebut semata-mata bersifat angka. Namun, ia mengaitkannya dengan pola struktural yang tampak dalam komposisi produksi dan ekspor. Dengan begitu, ukuran kompleksitas ekonomi dipakai sebagai cermin untuk menilai arah transformasi industri yang selama ini berjalan.

Juda menilai pola itu terlihat dari cara Indonesia memasok pasar luar negeri. Ia menegaskan bahwa karakter ekspor yang cenderung terkonsentrasi pada produk tertentu akan membuat proses upgrading industri berjalan lebih lambat dibanding negara yang mampu memperluas spektrum industrinya.

“Hal ini juga tercermin dari sebagian ekspor kita yang masih bertumpu pada produk berbasis sumber daya alam dan produk dengan kompleksitas rendah hingga menengah,” kata Juda dalam paparannya.

Perkataan tersebut menggambarkan adanya tantangan dalam memperkuat industri dengan basis teknologi dan pengetahuan yang lebih mendalam. Pada praktiknya, produk dengan kompleksitas rendah hingga menengah biasanya memiliki ruang yang lebih terbatas untuk menghasilkan lonjakan nilai tambah, sehingga mendorong ekonomi tumbuh dengan kualitas yang kurang berkelanjutan.

Karena itu, Juda mengarahkan perhatian pada perlunya pelajaran dari negara-negara yang telah berhasil mengubah struktur ekonominya. Ia menyebut contoh Vietnam, Thailand, serta Korsel sebagai rujukan, terutama dalam hal bagaimana negara-negara tersebut membangun industri yang lebih beragam dan lebih berkapasitas.

Dalam konteks forum kebijakan, pesan Juda juga dapat dibaca sebagai ajakan agar perumusan strategi industrialisasi tidak berhenti pada dukungan umum. Ia mendorong agar kebijakan lebih terarah pada peningkatan kapabilitas produktif, yang pada akhirnya ikut menentukan posisi kompleksitas ekonomi Indonesia dibanding negara lain.

Di sisi lain, pemeringkatan Indonesia yang berada di bawah beberapa negara pembanding juga menjadi sinyal bahwa upaya peningkatan kualitas industri perlu diiringi dengan langkah yang konsisten. Bila transformasi tidak dipercepat, maka ketergantungan pada produk berbasis sumber daya alam berpotensi bertahan dan membuat pencapaian kompleksitas ekonomi sulit melonjak.

Juda juga menempatkan diskusi ini dalam tujuan yang lebih luas, yakni mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia melihat bahwa pertumbuhan yang hanya bertumpu pada ekspansi sektor tertentu tanpa upgrading industri dapat membuat manfaat ekonomi kurang merata dan kemampuan penciptaan pekerjaan bernilai tambah menjadi lebih terbatas.

Dengan menyinggung data Ricardo Hausmann dan hasil peringkat dari 140 negara, Juda memberi kerangka pembacaan yang lebih terukur untuk menggambarkan tantangan yang dihadapi. Ia berusaha menunjukkan bahwa persoalan industrialisasi bukan hanya menyangkut kapasitas produksi, tetapi juga menyangkut kemampuan menghasilkan variasi produk yang lebih canggih.

Forum Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 menjadi panggung bagi penyampaian penilaian tersebut, sekaligus membuka ruang diskusi kebijakan. Dalam pandangan Juda, pembelajaran dari Vietnam, Thailand, dan Korsel dapat menjadi salah satu referensi penting dalam merancang langkah yang lebih efektif untuk mengubah kualitas industri nasional.

Pada akhirnya, fokus pembahasan mengarah pada kebutuhan transformasi yang lebih nyata agar kompleksitas ekonomi Indonesia naik. Dengan posisi peringkat ke-69 dari 140 negara yang disebutkan Juda, dorongan untuk memperkuat industri dengan kompleksitas lebih tinggi menjadi bagian dari agenda yang tidak bisa ditunda.