jurnalistik.co.id – Sanaa—Trita Parsi, Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, menyampaikan kekhawatiran Iran terhadap eskalasi konflik antara Houthi dan Arab Saudi. Menurutnya, benturan yang terus berlanjut berpotensi membuat situasi “lepas kendali”.
Parsi mengatakan bahwa Iran sebenarnya memiliki perhitungan sekaligus kegelisahan yang muncul dari dinamika tersebut. Di satu sisi, Teheran diuntungkan oleh kemampuan Houthi memberi tekanan tambahan pada pasar minyak, namun di sisi lain Iran tetap waswas jika perkembangan perang berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Iran menawarkan fasilitasi dialog
Parsi menjelaskan bahwa Iran menawarkan diri untuk memfasilitasi dialog antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman. Ia menilai Iran “memiliki alasan kuat” untuk berupaya mencegah kondisi agar tidak semakin tidak terkendali.
Ia menekankan bahwa kekhawatiran Iran bukan sekadar reaksi jarak jauh, melainkan terkait kemungkinan perang berkembang dengan cara yang tak diharapkan. Parsi menyebut Iran khawatir situasi bisa “lepas kendali”, meskipun mereka juga memahami adanya keuntungan ekonomi yang bisa didapat dari tekanan terhadap pasar minyak.
Houthi bukan proksi
Lebih jauh, Parsi memusatkan perhatian pada batasan pengaruh Teheran terhadap Houthi. Ia menyatakan “sangat jelas bahwa mereka bukanlah proksi”, dan menegaskan bahwa Houthi “independen”.
Dengan posisi itu, Parsi menggambarkan bahwa Iran tidak bisa sepenuhnya mengarahkan keputusan Houthi seperti layaknya aktor yang berada di bawah kendali langsung. Akibatnya, muncul kekhawatiran di pihak Iran bahwa situasi dapat berkembang menuju skenario yang “lepas kendali” melalui cara yang tidak menguntungkan bagi Teheran.
Pengaruh Iran terbatas dalam menentukan gencatan senjata
Berita Terkait
Parsi juga mengaitkan kekhawatirannya dengan upaya diplomatik yang sebelumnya didorong Iran. Ia mencatat bahwa Teheran telah mendorong gencatan senjata regional dalam nota kesepahaman yang ditandatangani dengan AS pada bulan Juni.
Menurutnya, pada saat itu fokusnya terutama merujuk pada Lebanon, tetapi kini cakupannya juga mencakup Yaman. Namun, ia mengingatkan bahwa daya tawar Iran tidak bersifat tanpa batas dan tidak otomatis menjamin adanya persetujuan dari pihak Houthi.
Parsi menegaskan bahwa masih belum jelas apakah Iran memiliki daya tawar yang cukup untuk menekan Houthi agar menyetujui gencatan senjata. Ia menyebut syarat yang diinginkan Houthi, yaitu pencabutan blokade [Saudi], dan menilai kemungkinan besar penekanan tersebut bergantung pada apakah tuntutan itu dapat dipenuhi.
Tekanan militer memperlebar operasi
Dalam konteks medan pertempuran, Parsi menyinggung menguatnya serangan yang dilakukan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Ia menyatakan bahwa operasi udara memperluas cakupannya dengan menyasar sejumlah posisi dan konsentrasi pasukan Ansar Allah Houthi.
Parsi menyebut penyasarannya terjadi di front timur dan timur laut kota Taiz. Dengan meluasnya sasaran serangan, gambaran yang muncul adalah bahwa konflik tidak bergerak menuju mereda, melainkan terus memperlihatkan dinamika eskalatif di lapangan.
Lewat rangkaian poin tersebut, Parsi menempatkan kekhawatian Iran pada dua lapis persoalan: ketidakpastian kendali atas arah konflik serta keterbatasan pengaruh Teheran terhadap keputusan Houthi yang independen. Dalam pandangannya, kombinasi tekanan politik dan militer yang berlangsung dapat membuat situasi semakin sulit dipulihkan ke arah yang lebih terkendali.
Dalam penjelasannya, Parsi menggambarkan upaya Teheran sebagai langkah pencegahan agar ketegangan tidak bergeser menjadi rangkaian keputusan yang saling memicu. Ia menilai, meski ada sisi ekonomi yang berpotensi menguntungkan dari dinamika konflik tersebut, manfaat itu tidak menghapus kebutuhan untuk menjaga jalur politik tetap terbuka dan terkendali.
Parsi juga menempatkan masalah pada tingkat “kesepakatan”, bukan sekadar niat. Ia menegaskan bahwa pembahasan gencatan senjata tidak cukup hanya didorong dari satu arah, karena tuntutan Houthi menyangkut pencabutan blokade [Saudi]. Karena itu, daya tekan Iran perlu diuji melalui kemampuan memenuhi prasyarat yang diinginkan pihak Houthi, yang belum tentu mudah dipastikan hasilnya.
Di saat yang sama, gambaran di medan pertempuran mempertebal keraguan. Serangan udara yang terus memperluas jangkauan, termasuk pada front timur dan timur laut kota Taiz, menunjukkan bahwa intensitas konflik tidak memberi sinyal untuk mereda. Bagi Teheran, kombinasi tekanan militer dan ketidakpastian arah negosiasi membuat risiko eskalasi yang makin sulit dipulihkan menjadi semakin nyata.












