jurnalistik.co.id – Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir atau Tata menyampaikan penjelasan terkait komunikasi antara pemerintah Indonesia dan Malaysia setelah Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menghubungi Presiden Prabowo Subianto terkait asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Tata, pihaknya telah menindaklanjuti panggilan tersebut dengan berkomunikasi langsung dengan Menteri Luar Negeri Malaysia. Dalam pembicaraan itu, Indonesia memaparkan langkah-langkah yang sudah dijalankan untuk menangani karhutla.
Langkah Indonesia yang disampaikan Tata
Tata menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia telah mengerahkan sumber daya dalam upaya penanggulangan. Ia merinci, Indonesia menerjunkan lebih dari 60 ribu personel serta menyiapkan sekitar 48 helikopter dan pesawat untuk melakukan water bombing.
Selain itu, Tata juga menyebut adanya pengalihan cuaca sebagai bagian dari respons penanganan. Pernyataan tersebut ia sampaikan di Halim Perdanakusuma, mengutip Detikcom pada Minggu (11/10/2026).
“Ya kita sudah berkomunikasi dengan…dari saya sudah berbicara juga dengan Menlu Malaysia, dan juga kita sudah jelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia seperti kita sudah menerjunkan lebih dari 60 ribu personel. Kita telah menerjunkan juga sekitar 48 helikopter dan pesawat untuk melakukan water bombing dan juga pengalihan cuaca,” kata Tata.
Tata menegaskan bahwa meskipun penanganan terus dilakukan, situasi karhutla masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya, penyebaran udara yang terjadi saat ini tidak bisa sepenuhnya dikendalikan dari pihak Indonesia.
Tantangan akibat arah dan kondisi udara
Dalam penjelasannya, Tata menyampaikan bahwa tantangan tersebut berkaitan dengan kondisi udara yang sedang berlangsung. Ia juga menyampaikan harapan agar persoalan karhutla segera mereda.
Harapan itu, menurut Tata, berkaitan dengan perkiraan datangnya hujan pada masa berikutnya. Dengan adanya musim hujan, ia menilai peluang agar kondisi membaik akan semakin terbuka.
“Memang ini merupakan tantangan karena udaranya saat ini tidak berada di pihak kita, harapan kita segera ini akan reda karena juga diperkirakan cuaca akan ada hujan,” ujarnya.
Telepon Anwar Ibrahim ke Prabowo pada 8 Oktober 2026
Dalam pemberitaan yang sama, disebutkan bahwa PM Anwar Ibrahim menelpon Prabowo untuk membahas persoalan karhutla pada Kamis (8/10/2026). Di kesempatan tersebut, Prabowo menyatakan kesiapannya untuk mengambil langkah yang diperlukan guna mengatasi situasi penyebab kabut asap di Malaysia.
Berita Terkait
Anwar juga menyampaikan bahwa ia berbicara langsung dengan Prabowo sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi yang menimbulkan kekhawatiran. Pernyataan itu disampaikan Anwar saat berbicara kepada wartawan usai meninjau persiapan penyampaian Anggaran 2027 di Kementerian Keuangan.
“Masalah kabut asap ini memang mengkhawatirkan. Saya secara pribadi menghubungi Presiden Prabowo, dan beliau setuju untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” kata Anwar, yang juga menjabat sebagai Menteri Keuangan.
Komitmen kerja sama dan mitigasi dampak
Anwar menyebut bahwa selama beberapa minggu terakhir Malaysia telah menyatakan kesiapan untuk menawarkan kerja sama dengan Indonesia. Langkah ini, menurutnya, berangkat dari kekhawatiran atas dampak kabut asap yang dirasakan, termasuk perhatian terhadap kesehatan masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa kabut asap menjadi perhatian serius dalam konteks kesehatan. Anwar menyampaikan bahwa koordinasi dan bentuk kerja sama tetap menjadi bagian dari upaya mitigasi yang sedang berjalan.
“Jadi, selama beberapa minggu terakhir, kami (Malaysia) telah menyatakan kesiapan untuk memberikan kerja sama apa pun, mengingat kabut asap ini mengkhawatirkan dan saya tahu hal ini menjadi perhatian terkait kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Selain kerja sama, Anwar juga menyampaikan bahwa berbagai langkah telah dilakukan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan. Salah satu contohnya adalah peningkatan operasi penyemaian awan yang dilakukan hampir setiap hari.
Ia menuturkan bahwa operasi tersebut dilakukan oleh Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF) bersama instansi terkait. Namun, Anwar menilai bahwa situasinya tetap mengkhawatirkan meskipun upaya mitigasi terus dijalankan.
“Berbagai langkah telah diambil untuk memitigasi dampaknya. Sebagai contoh, kami meningkatkan operasi penyemaian awan-yang dilakukan hampir setiap hari oleh Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF) dan instansi terkait-namun situasinya tetap mengkhawatirkan,” lanjutnya.
Instruksi koordinasi antar kementerian dan ASEAN
Anwar menyatakan telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri Datuk Seri Mohamad Hasan serta Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Datuk Seri Arthur Joseph Kurup untuk menghubungi rekan sejawat mereka. Tujuannya adalah memperkuat upaya penanganan situasi kabut asap melalui penguatan koordinasi lintas pihak.
Ia menambahkan bahwa Mohamad juga diminta untuk menghubungi Sekretariat ASEAN. Permintaan itu dimaksudkan untuk mengoordinasikan pertemuan para menteri yang membidangi masalah lingkungan.
Dengan rangkaian komunikasi yang melibatkan otoritas diplomatik, Anwar dan Prabowo menempatkan kerja sama sebagai langkah penting dalam merespons kabut asap yang mengkhawatirkan. Dari pihak Indonesia, Tata menegaskan penanganan tetap berjalan melalui penguatan pengerahan personel dan dukungan penerbangan untuk water bombing, sembari menantikan membaiknya kondisi udara.
Meski demikian, baik Tata maupun Anwar sama-sama menyoroti adanya faktor tantangan yang mempengaruhi efektivitas mitigasi secara langsung. Di tengah upaya penanggulangan, harapan untuk meredanya kabut asap diletakkan pada perubahan cuaca yang diperkirakan akan terjadi dengan datangnya masa hujan.












