jurnalistik.co.id – Teheran menegaskan sikap tegas terkait rencana penggunaan wilayah negara-negara Arab untuk menyerang Republik Islam Iran di masa mendatang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan peringatan tersebut pada hari Minggu.
Baghaei menyebut respons Iran akan berbeda dan bersifat tegas bila agresi baru dilakukan, sementara wilayah di kawasan itu dimanfaatkan untuk menyerang Iran. Ia juga menekankan pentingnya negara-negara tetangga menjunjung prinsip bertetangga baik.
Dalam konferensi pers di Teheran, Baghaei mengatakan negara-negara di kawasan—terutama yang menempatkan fasilitas mereka di bawah kendali Amerika Serikat dan rezim Zionis selama perang baru-baru ini—perlu meninjau kembali langkah mereka. Ia mengaitkan peringatan tersebut dengan pengalaman kawasan yang dinilai pernah “pahit” akibat kehadiran dan intervensi militer AS.
Baghaei menggarisbawahi, “Jika di masa depan kita menyaksikan agresi lain oleh Amerika dan rezim Zionis dan wilayah mereka digunakan untuk menyerang Iran, tentu tanggapannya akan berbeda.” Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan penegasan bahwa Iran adalah tetangga abadi di kawasan.
Menurut Baghaei, Iran telah menyampaikan keluhan secara cepat dan jelas kepada negara-negara regional. Fokusnya diarahkan kepada negara-negara yang menyediakan wilayah serta fasilitas bagi rezim AS dan Israel selama agresi militer yang terjadi.
Baghaei menilai negara-negara yang memberikan ruang bagi tindakan agresif memikul tanggung jawab internasional. Ia menyebut partisipasi dalam serangkaian tindakan tersebut menjadikan mereka ikut terlibat dalam proses agresi, sehingga konsekuensinya tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab yang lebih luas.
Ia juga menyinggung dinamika diplomatik Iran di forum internasional. Baghaei mengatakan partisipasi Iran pada Majelis Umum PBB ke-81 dipandangnya sebagai salah satu penampilan internasional yang paling sukses.
Berita Terkait
Dalam konteks tersebut, Baghaei menambahkan bahwa para pejabat Iran sempat mengadakan pertemuan yang baik dengan hampir semua negara Teluk Persia bagian selatan saat berlangsungnya Sidang Umum PBB. Rangkaian pertemuan itu dipaparkan sebagai bagian dari komunikasi dan penyampaian posisi Iran kepada pihak-pihak terkait.
Selain itu, Baghaei menyinggung kehadiran perdana menteri Israel di Uni Emirat Arab (UEA). Ia memperingatkan bahwa rezim Zionis berupaya menabur benih pemberontakan di kawasan tersebut, sehingga negara-negara tetangga diminta tidak membiarkan ruang dan fasilitas mereka disalahgunakan.
Baghaei lalu menyerukan agar negara-negara di sekitar tidak memberikan kesempatan bagi pihak-pihak yang dinilai tidak menunjukkan kepedulian terhadap keamanan dan kemakmuran regional. Ia menekankan bahwa penyalahgunaan wilayah dan fasilitas hanya akan memperpanjang ketegangan serta membawa risiko bagi stabilitas kawasan.
Dengan rangkaian pernyataan tersebut, Baghaei ingin menegaskan bahwa Teheran memandang penggunaan wilayah negara lain sebagai bagian dari skenario agresi sebagai persoalan serius. Peringatan ini, menurutnya, sekaligus menjadi sinyal bahwa Iran tidak akan mengabaikan keterlibatan pihak-pihak regional yang membuka fasilitas bagi tindakan AS dan Israel.
Secara keseluruhan, pesan Baghaei menempatkan prinsip bertetangga baik sebagai dasar hubungan kawasan, sambil menegaskan bahwa pengalaman intervensi militer AS telah meninggalkan dampak yang “pahit” bagi banyak negara. Ia menilai pengambilan sikap ulang menjadi langkah yang perlu dilakukan sebelum situasi bergerak ke arah yang lebih berbahaya.
Baghaei juga menegaskan bahwa negara-negara kawasan perlu melakukan penilaian ulang terhadap langkah yang sebelumnya dinilai berkontribusi pada aksi militer, terutama bila fasilitas mereka kemudian diarahkan pada kepentingan Amerika Serikat dan rezim Zionis. Ia menempatkan prinsip hubungan bertetangga baik sebagai rambu utama agar ketegangan tidak makin melebar.
Dalam penjelasannya, ia menggarisbawahi bahwa komunikasi Iran tidak berhenti pada peringatan, melainkan disertai penyampaian keluhan kepada pihak-pihak regional secara cepat dan jelas. Selain itu, ia menilai keterlibatan Iran dalam Majelis Umum PBB ke-81 menjadi momen penting untuk memperkuat posisi, termasuk melalui pertemuan pejabat Iran dengan hampir semua negara Teluk Persia bagian selatan pada rangkaian sidang tersebut.
Di sisi lain, Baghaei mengaitkan perhatian pada dinamika kawasan dengan kehadiran perdana menteri Israel di Uni Emirat Arab, serta kekhawatiran bahwa pihak tersebut berupaya memicu ketidakstabilan. Karena itu, negara-negara tetangga diminta tidak membuka ruang maupun fasilitas yang bisa disalahgunakan, sebab penggunaan semacam itu dinilainya berpotensi memperpanjang ketegangan dan meningkatkan risiko terhadap stabilitas kawasan secara menyeluruh.












