Internasional

Putin “Turun Gunung” Sampaikan Pandangan Teheran ke Trump, Peluang Akhiri Perang Dinilai Terbuka

×

Putin “Turun Gunung” Sampaikan Pandangan Teheran ke Trump, Peluang Akhiri Perang Dinilai Terbuka

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Putin "Turun Gunung" Bawa Pesan Iran ke Trump, Perang Bisa Selesai

jurnalistik.co.id – Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan menyampaikan pandangan Teheran mengenai kemungkinan mengakhiri perang Iran kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Langkah ini menambah sorotan pada peran Moskow di tengah konflik yang terus berdampak pada pasar energi global.

Laporan media pemerintah Rusia menyebut juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Putin menyampaikan pesan tersebut dengan persetujuan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Kantor berita Rusia Interfax kemudian mengutip pernyataan Peskov terkait komunikasi itu.

Di saat yang sama, ada pula pemberitaan lain yang menyebut Putin berbicara melalui telepon dengan Trump setelah bertemu Pezeshkian dalam sela-sela pertemuan tingkat tinggi di Turkmenistan. Namun, hingga saat ini rincian usulan Iran yang dibawa Teheran belum dijabarkan secara terbuka.

Gedung Putih juga disebut belum memberikan konfirmasi atas laporan percakapan Putin dan Trump. Tanpa informasi yang lebih rinci, peluang pembicaraan untuk menghentikan perang masih sulit dinilai secara pasti.

Perang Iran dan dampaknya pada energi

Perang Iran bermula pada 28 Februari 2026, setelah serangan udara AS dan Israel terhadap sejumlah target di Iran. Sejak saat itu, konflik berkembang menjadi salah satu faktor utama yang ikut mengguncang pasokan energi dunia.

Ketegangan makin meningkat ketika Iran mengintensifkan serangan terhadap kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi internasional. Perkembangan tersebut ikut menambah ketidakpastian terhadap distribusi minyak dan bahan bakar di pasar global.

Dalam situasi yang sama, harga diesel dunia juga ikut terangkat seiring gangguan pasokan energi. Kondisi ini diperparah oleh peningkatan serangan terhadap fasilitas energi yang berada di sejumlah wilayah, termasuk kilang-kilang di Rusia serta target energi di Timur Tengah.

Kesepakatan diesel Rusia yang ikut memengaruhi dinamika

Beberapa laporan menyebut pesan Iran muncul sehari setelah Trump mengumumkan bahwa Rusia akan memasok lebih dari 4 juta ton diesel ke pasar global. Trump menyatakan kesepakatan itu dicapai bersama Putin melalui percakapan telepon.

Menurut pengumuman tersebut, tambahan pasokan diharapkan membantu meredakan tekanan pada pasar bahan bakar ketika perang di Iran dan Ukraina ikut mendorong kenaikan harga energi. Di unggahan Truth Social pada Jumat, Trump menyebut rencana pengiriman tahap awal lebih dari 300.000 ton, lalu 500.000 ton pada November dan 1 juta ton setelahnya.

Trump juga menyinggung bahwa Rusia akan mengirimkan tambahan 3 juta ton diesel, dengan rencana yang bergantung pada kondisi kilang minyak negara tersebut. Pemerintah AS kemudian turut melonggarkan sanksi terhadap diesel Rusia secara sementara hingga April 2027 melalui izin umum yang diterbitkan Departemen Keuangan AS pada Jumat.

Kritik dari Ukraina dan tekanan politik AS

Kelonggaran sanksi itu langsung menuai kritik dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Zelenskyy memperingatkan bahwa pelonggaran tanpa komitmen Rusia untuk meredakan perang berisiko memperpanjang konflik.

Dalam pernyataannya di media sosial, Zelenskyy menilai pemberian kelonggaran kepada Moskow tidak akan membawa perdamaian dan justru dapat membantu membiayai perang Rusia. Kritik ini datang di tengah kondisi ketika Ukraina meningkatkan serangan terhadap kilang-kilang Rusia.

Di sisi lain, Iran dan kelompok Houthi yang bersekutu dengannya juga disebut menyerang fasilitas energi di Timur Tengah. Dampaknya, pasokan bahan bakar global dilaporkan semakin terbatas ketika kebutuhan pasar masih tinggi.

Selat Hormuz tetap jadi titik rawan

Ketidakpastian juga masih berpusat pada Selat Hormuz yang dinilai rawan. Iran meningkatkan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi kawasan tersebut, sementara pejabat senior Garda Revolusi Iran pada Rabu menyatakan Teheran akan memblokir seluruh jalur yang dianggap ilegal di Selat Hormuz.

Walau begitu, ekspor minyak mentah dari Timur Tengah pada September disebut kembali mencapai tingkat sebelum perang. Pemulihan itu disebut antara lain didukung pengawalan militer AS terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz di sepanjang pesisir Oman.

Namun, kesepakatan sementara yang ditandatangani AS dan Iran pada Juni untuk menghentikan permusuhan dan membuka ruang negosiasi sebelumnya disebut tidak bertahan lama. Dalam konteks seperti ini, dinamika keamanan di jalur energi berpotensi terus memengaruhi pergerakan harga.

Trump juga disebut menghadapi tekanan politik domestik untuk menurunkan harga bahan bakar menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November. Dengan belum tersedianya rincian usulan Iran yang disampaikan Putin, peluang penyelesaian perang tetap belum jelas.

Tetapi, komunikasi antara Moskow dan Washington yang berjalan beriringan dengan kesepakatan pasokan diesel Rusia menunjukkan keterkaitan antara isu diplomasi dan energi. Di tengah ketegangan yang belum mereda, perkembangan tersebut akan menjadi penentu arah pembicaraan berikutnya.