jurnalistik.co.id – Donald Trump menyerukan pergantian Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dengan alasan Ukraina membutuhkan kepemimpinan baru. Seruan itu muncul setelah Zelensky mengkritik kesepakatan AS terkait pasokan bahan bakar yang melibatkan diesel dari Rusia.
Menurut laporan BBC yang disebut dalam pemberitaan, Trump menyampaikan desakan tersebut di luar Gedung Putih pada Sabtu (10/10). Ia menilai sudah saatnya Ukraina memiliki presiden baru.
“Sudah saatnya Ukraina memiliki presiden baru,” kata Trump seperti dikutip dalam konteks responsnya terhadap kritik Zelensky. Ia mengatakan negara tersebut perlu figur kepemimpinan yang berbeda.
Zelensky sebelumnya memperingatkan bahwa kesepakatan baru untuk memasukkan jutaan ton diesel Rusia ke AS akan menyediakan dana bagi Moskow guna melanjutkan perang melawan negaranya. Dalam pandangannya, langkah itu memberi keuntungan bagi Presiden Rusia Vladimir Putin.
Menanggapi hal tersebut, Trump menyatakan Zelensky “ingin menciptakan masalah bagi dunia” dengan terus mengizinkan serangan terhadap kilang-kilang minyak Rusia. Ia menegaskan agar Zelensky menghentikan jabatannya sebagai presiden.
Trump menambahkan, “Dia sebaiknya benar-benar berhenti,” ujarnya. Kalimat itu disampaikannya sebagai tuntutan langsung terhadap Zelensky.
Dalam penjelasannya, Trump mengaitkan isu tersebut dengan kondisi pasokan energi global, khususnya diesel, yang menurutnya sangat terbatas. Ia menyebut keterbatasan itu terkait perang yang dipicu oleh AS dan Israel terhadap Iran, sehingga jalur perdagangan energi ikut terganggu.
Akibat situasi tersebut, Selat Hormuz disebut tertutup—jalur yang dinilai penting bagi seperlima produk minyak dunia. Pada saat yang sama, Rusia juga masih terlibat perang dengan Ukraina.
Trump menyoroti bahwa Ukraina baru-baru ini meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi serta fasilitas transportasi Rusia. Langkah itu, menurutnya, semakin menekan pasar energi di tengah rantai pasokan yang sudah terancam.
Berita Terkait
Ia kemudian menyampaikan pernyataan yang menggambarkan batas yang tidak ingin dilampaui terkait serangan terhadap pihak Rusia. “Kami bilang, ‘Anda boleh melakukan apa saja terhadap Rusia, tapi jangan serang kilang-kilang minyaknya’, karena hal itu menimbulkan masalah bagi dunia,” kata Trump.
Trump juga menilai ada pilihan lain yang seharusnya dapat ditempuh. “Dia sebenarnya bisa saja membuat banyak kesepakatan, namun entah mengapa, dia tidak pernah melakukannya,” ucapnya dalam menilai sikap Zelensky terkait situasi energi dan kesepakatan yang dikritik.
Uraian Trump tersebut mendapat tanggapan dari utusan Putin, Kirill Dmitriev. Ia menyebut intervensi Trump sebagai sesuatu yang “ikonik dan bersejarah,” serta mengatakan Ukraina membutuhkan kepemimpinan yang benar-benar berfokus pada perdamaian.
Sementara itu, Zelensky merespons dengan menyatakan bahwa narasi tersebut dapat memungkinkan Moskow menggalang dana baru untuk memperoleh peralatan militer guna melanjutkan perang. Ia menegaskan bahwa esensi persoalan tetap pada konsekuensi kesepakatan yang disebutnya memberi ruang bagi pendanaan konflik.
Zelensky juga menuduh Moskow menganggap kesepakatan tersebut sebagai tanda bahwa mereka “bisa terus berperang dan terus menjatuhkan bom ke kota-kota” menyusul serangan mematikan baru di Zaporizhzhia. Ia menempatkan seruan Trump dan perdebatan kesepakatan energi dalam konteks dampak langsung terhadap kelanjutan perang.
Dalam pemberitaan yang sama, rangkaian pernyataan itu memperlihatkan pergeseran narasi dari kritik Zelensky terhadap kesepakatan berbasis diesel Rusia, menuju desakan Trump agar Ukraina mengubah posisi kepemimpinan. Di tengah ketegangan yang terus berlangsung, soal bahan bakar dan arah kebijakan energi menjadi sorotan yang memengaruhi persepsi publik dan posisi diplomatik.
Di tengah perdebatan itu, seruan Trump tidak berdiri sendiri, melainkan terkait langsung dengan tuduhan terhadap langkah Zelensky terkait kesepakatan pasokan yang melibatkan diesel dari Rusia. Bagi Trump, isu bahan bakar dan arah kebijakan energi berkelindan dengan kelanjutan perang.
Zelensky, dalam pandangannya, menilai bahwa konsekuensi kesepakatan tersebut justru membuka peluang bagi Moskow untuk menyusun ulang dukungan materi guna melanjutkan agresi. Ia menempatkan peringatan terhadap dampak pendanaan sebagai inti dari kritiknya, bukan sekadar perbedaan pandangan politik.
Perseteruan narasi lalu bergeser menjadi penilaian tentang siapa yang dianggap paling tepat memimpin langkah menuju masa depan Ukraina. Utusan Putin menggambarkan respons Trump sebagai momen yang “bersejarah,” sementara Zelensky tetap menegaskan fokus pada konsekuensi perang dan dampaknya bagi kota-kota yang diserang.












