jurnalistik.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat rangkaian kejadian bencana di Indonesia pada awal Oktober 2026. Dalam pekan pertama bulan ini, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi peristiwa yang paling menonjol, disertai laporan banjir di Sumatera Utara.
Pada 2 Oktober 2026, BNPB menerima informasi mengenai banjir yang melanda Desa Hilimbowo di Kecamatan O’o’u dan Desa Ndraso Maniamolo di Kecamatan Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Kejadian tersebut dilaporkan berlangsung pada Jumat (2/10).
BNPB menyebut curah hujan tinggi menjadi pemicu banjir. Dampak yang terdokumentasi mencapai 75 kepala keluarga terdampak, dengan kerusakan sementara meliputi sekitar 60 unit rumah, satu fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, serta satu balai desa.
Setelah laporan masuk, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nias Selatan bersama pemerintah desa, kecamatan, dan dinas terkait melakukan koordinasi dan kaji cepat untuk mengidentifikasi dampak banjir. Berdasarkan laporan terakhir, banjir berangsur surut.
Penanganan lanjutan direncanakan melalui pembersihan material lumpur serta normalisasi sungai dan tembok penahan. Upaya ini diarahkan untuk memulihkan kondisi setelah genangan surut dan mengurangi potensi gangguan serupa saat hujan kembali terjadi.
Karhutla masih dominan di beberapa wilayah
Selain laporan banjir, BNPB mencatat sejumlah kejadian karhutla yang tersebar di beberapa daerah. Kejadian pertama dilaporkan BPBD Kabupaten Bangka Tengah di Desa Padang Baru, Kecamatan Pangkalan Baru, pada Kamis (1/10) pukul 15.39 WIB.
Informasi awal diterima dari Komandan Regu 2 berdasarkan laporan warga yang melihat kebakaran di sekitar kawasan Perbakin. BPBD Kabupaten Bangka Tengah kemudian mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) beserta satu unit truk tangki air berkapasitas 5.000 liter dan peralatan pemadaman.
Proses pemadaman dilakukan bersama petugas pemadam kebakaran, Samapta Polres Bangka Tengah, relawan BPBD, serta masyarakat setempat. Meskipun menghadapi kendala angin kencang, api berhasil dipadamkan pada pukul 17.35 WIB, dengan luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 10 hektare.
Pembaruan pada Jumat (2/10) pukul 17.50 WIB menyebutkan personel TRC BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melaporkan api telah berhasil dipadamkan. Langkah lanjutan difokuskan pada pemantauan pascapemadaman.
Di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, karhutla terjadi di Kelurahan Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, pada Kamis (1/10) sekitar pukul 21.30 WITA. Kebakaran diperkirakan melanda lahan seluas 25 hektare, sementara penyebabnya masih dalam penyelidikan.
Hingga Jumat (2/10) pukul 04.00 WITA, api masih menyala di sejumlah titik. TRC BPBD Kabupaten Bantaeng bersama petugas pemadam kebakaran, TNI, Polri, pemerintah desa dan kecamatan, serta masyarakat setempat terus melakukan pemantauan dan penanganan, dengan asesmen awal serta koordinasi antarunsur untuk mendukung pengendalian kebakaran.
Berita Terkait
Karhutla lain juga dilaporkan di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Kejadian berlangsung pada Jumat (2/10) pukul 10.20 WIB di Desa Dawuhan, Kecamatan Padamara, dengan kebakaran bermula dari lahan tebu di belakang rumah warga sebelum meluas ke area sekitarnya.
Petugas Pusdalops BPBD Kabupaten Purbalingga yang berada di sekitar lokasi segera melaporkan kejadian kepada BPBD dan Pos Pemadam Kebakaran Kabupaten Purbalingga. Kebakaran diperkirakan dipicu kondisi cuaca panas dan dedaunan kering, dan menghanguskan sekitar 2,5 hektare lahan tebu.
Tim gabungan yang terdiri dari TRC BPBD, petugas pemadam kebakaran, TNI, Polri, pemerintah desa, serta masyarakat melakukan pemadaman hingga api berhasil dikendalikan pada pukul 12.30 WIB. Pada kejadian ini, tidak terdapat korban jiwa maupun dampak langsung yang dirasakan masyarakat.
Imbauan BNPB jelang pancaroba
BNPB mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melapor apabila menemukan titik api kepada petugas setempat. Imbauan ini disampaikan seiring masih banyaknya kejadian karhutla di berbagai wilayah.
BNPB juga menekankan peningkatan kewaspadaan pada awal Oktober, mengingat masa transisi atau pancaroba kerap diwarnai cuaca ekstrem mendadak, termasuk hujan lebat dengan suhu ekstrem dan angin kencang berdurasi singkat. Kondisi tersebut dapat mempercepat risiko bencana, baik yang berkaitan dengan kebakaran maupun banjir lokal.
Upaya kesiapsiagaan yang dianjurkan antara lain membersihkan got, selokan, dan talang air dari sampah agar aliran air lancar saat hujan lebat mendadak. Selain itu, BNPB meminta masyarakat memotong dahan pohon yang sudah tua atau terlalu rimbun di sekitar rumah agar tidak tumbang saat diterjang angin kencang, serta memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini dari BMKG.
Gempa M6,1 mengguncang Sumba Barat Daya
Di sisi lain, BNPB melaporkan gempa bumi dengan magnitudo 6,1 mengguncang Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (4/10) pukul 05.55 WIB. Pusat gempa berada di laut, 14 km barat daya Kodi, Sumba Barat Daya, dengan kedalaman 10 km pada koordinat 9,70 LS – 118,92 BT.
Gempa dilaporkan tidak berpotensi tsunami. Berdasarkan pemantauan sementara, guncangan dirasakan kuat selama kurang lebih 1 menit di Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba Barat hingga Kabupaten Manggarai Barat.
Sebagian masyarakat merasakan gempa, namun situasi disebut kondusif dan tidak ada kepanikan. Hingga siaran pers diterbitkan, BPBD setempat masih melakukan monitoring pascagempa di lapangan, dan belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa.
BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta memastikan informasi bersumber dari instansi resmi. Jika terjadi gempa susulan, masyarakat diminta menghindari bangunan retak dan tidak berada di tepi pantai untuk sementara.












