jurnalistik.co.id – Pengiriman smartphone global pada kuartal III 2026 kembali menunjukkan kinerja yang melemah, bahkan menjadi yang terendah dalam 14 tahun terakhir. Kondisi ini terjadi ketika harga ritel perangkat ikut terdorong naik, sejalan dengan keterbatasan pasokan komponen utama.
Menurut laporan Counterpoint, harga jual ritel smartphone mengalami lonjakan hingga 20 persen. Kenaikan tersebut tidak hanya berdampak pada angka penjualan, tetapi juga membentuk tekanan biaya yang pada akhirnya memengaruhi keputusan produsen perangkat.
Di sisi lain, realisasi pengiriman smartphone global pada periode yang sama mencatat penurunan sekitar 20 persen secara year-on-year (yoy). Angka itu mencerminkan pelemahan yang terjadi secara nyata di industri, bukan sekadar ekspektasi pasar.
Counterpoint menyoroti bahwa faktor kunci berasal dari pasokan memori yang terbatas. Komponen memori yang dimaksud meliputi DRAM dan NAND, yang disebut terus mengalami kenaikan harga.
Kenaikan harga memori tersebut kemudian ikut membentuk pembengkakan biaya produksi melalui BoM atau Bill of Materials. Ketika komponen semakin mahal, biaya keseluruhan perangkat turut bergerak naik dan membuat margin menjadi lebih sulit dijaga.
Dalam laporan Counterpoint yang dikutip, situasi BoM dan pasokan yang terbatas “secara signifikan mengganggu pengiriman OEM”. Artinya, keterbatasan pasokan tidak berhenti di level biaya saja, melainkan ikut mengganggu kemampuan produsen untuk memenuhi permintaan pasar.
Tekanan tersebut lantas memunculkan efek berantai di rantai industri. Counterpoint menjelaskan bahwa biaya yang lebih tinggi pada akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual.
Setelah menimbang perhitungan biaya, sejumlah OEM juga diketahui memilih untuk membatasi pasokan. Langkah pembatasan ini pada praktiknya semakin memperketat ketersediaan perangkat, sehingga pasar menghadapi tantangan ganda: biaya produksi yang lebih tinggi dan pasokan yang lebih terbatas.
Berita Terkait
Pada saat yang sama, kenaikan harga jual rata-rata juga ikut tercermin dari dinamika ritel. Kondisi tersebut memperjelas bahwa krisis memori bukan hanya memengaruhi pabrik, tetapi telah menyentuh harga di titik penjualan.
Kuartal ketiga menjadi fase dampak yang lebih penuh
Dalam penjelasan yang disampaikan Counterpoint, kuartal III disebut menjadi periode lanjutan setelah periode sebelumnya. Shilpi Jain, analis senior Counterpoint, menilai bahwa “Pada kuartal ketiga merupakan periode kuartalan kedua berturut-turut yang menanggung dampak penuh dari krisis memori,”.
Kalimat itu menekankan bahwa masalah yang muncul sebelumnya tidak segera mereda. Sebaliknya, dampaknya terus berlanjut hingga kuartal berikutnya, sehingga tekanan pada pengiriman dan biaya semakin terlihat.
Dengan demikian, angka pengiriman yang berada di posisi terendah dalam 14 tahun terakhir dapat dibaca sebagai akumulasi dari masalah pasokan memori yang belum pulih. Ketika DRAM dan NAND masih menghadapi kenaikan harga, proses perencanaan produksi dan pengiriman pun cenderung ikut terhambat.
Dalam konteks industri smartphone, pengaruh krisis memori biasanya tidak bersifat sesaat. Ketika komponen menjadi semakin mahal, perusahaan perlu menyesuaikan kapasitas dan strategi pasokan, dan penyesuaian itu sering baru tampak penuh dari kuartal ke kuartal.
Meski pasar masih berusaha menyesuaikan diri, sinyal yang ditunjukkan pada kuartal III memperlihatkan bahwa tantangan pasokan terus menjadi penentu. Bagi konsumen, situasinya tercermin pada harga ritel yang lebih tinggi, sedangkan bagi pelaku industri, kendala berada pada kemampuan menjaga pengiriman dalam situasi biaya yang melonjak.
Secara keseluruhan, potret kuartal III 2026 menegaskan hubungan langsung antara krisis memori, kenaikan biaya produksi, serta penurunan pengiriman. Selama keterbatasan pasokan DRAM dan NAND belum mereda, tekanan terhadap pengiriman OEM dan harga jual di ritel berpotensi terus berlanjut.












