Bisnis & Ekonomi

9 Sentimen Pekan Ini: Super Wednesday Dipengaruhi Pertemuan IMF

×

9 Sentimen Pekan Ini: Super Wednesday Dipengaruhi Pertemuan IMF

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 9 Sentimen Bayangi RI Pekan Ini: Super Wednesday - Pertemuan IMF

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan serangkaian rilis penting dari Amerika Serikat serta China berpotensi mengarahkan pergerakan pasar keuangan hari ini hingga pekan depan.

Di sisi lain, dinamika geopolitik turut menambah sensitivitas pelaku pasar, terutama setelah sinyal-sinyal baru terkait konflik di kawasan Timur Tengah.

Kinerja pasar pekan lalu menjadi penanda awal

Pada perdagangan pekan lalu, pasar keuangan Indonesia ditutup lebih kuat setelah sempat menghadapi kekhawatiran kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,04% ke level 6.093,76 pada Jumat (9/10/2026), setelah sempat tertekan di bawah level psikologis 6.000.

Dalam sepekan, IHSG tercatat naik 0,94%.

Penguatan indeks ditopang sektor industri yang naik 2,1%, disusul material dasar 1,7%, serta konsumer non-primer sebesar 1%.

Sebanyak 381 saham menguat, sementara 238 saham melemah dan 172 stagnan.

Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 29,63 miliar di seluruh market pada periode tersebut, meski dalam sepekan masih tercatat net sell Rp 3,75 triliun.

Di antara saham yang menonjol, PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk (AKKU) menjadi jawara dengan lonjakan 102,50% ke Rp81.

PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (ASMI) menyusul dengan kenaikan 85,71% ke Rp39, sedangkan PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) naik 59,62% ke Rp83.

Namun, penurunan terdalam datang dari PT ERA Merida Sejahtera Tbk (DOOH) yang melemah 26,23% ke Rp270.

Selain itu, PT Inter Delta Tbk (INTD) turun 22,68% ke Rp300 dan PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) terkoreksi 21,54% ke Rp204.

Di pasar valuta, rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (9/10/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup melemah.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.875/US$ atau menguat 0,08% dibandingkan penutupan Kamis (8/10/2026) di Rp17.890/US$.

Dalam sepekan, rupiah masih mencatat pelemahan 0,04%.

Sementara itu, dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melesat ke 7,237% pada Jumat, atau menjadi level tertinggi sejak 7 Agustus 2026.

Kenaikan imbal hasil tersebut menandai harga SBN yang tengah jatuh karena dijual investor.

Wall Street menguat, tetapi pasar dibayangi imbal hasil

Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada Jumat (9/10/2026), ditopang saham teknologi setelah pasar bergejolak akibat lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield), harga minyak yang tetap tinggi, serta koreksi saham terkait kecerdasan buatan (AI).

Nasdaq Composite naik 0,64% ke 27.366,17, S&P 500 menguat 0,59% ke 7.811,54, sedangkan Dow Jones Industrial Average menanjak 423,31 poin atau 0,83% ke 51.654,95.

Penguatan saham terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Presiden Rusia Vladimir Putin setuju memasok diesel ke AS.

Saham teknologi memimpin kenaikan, termasuk Microsoft yang naik 2% serta Amazon yang menguat 3%.

Saham perusahaan keamanan siber Palo Alto Networks melonjak 5%.

Di saat yang sama, harga minyak masih menjadi perhatian pasar.

Minyak mentah WTI ditutup sekitar US$92 per barel, sedangkan Brent bertahan di atas US$104 per barel.

Sepanjang pekan lalu, ketiga indeks utama AS masih mencatat penguatan: Nasdaq naik 0,6%, Dow Jones bertambah 0,9%, dan S&P 500 menguat sekitar 1,2%.

Meski begitu, pasar tetap dibayangi lonjakan imbal hasil Treasury tenor panjang yang menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun.

Investor kemudian menanti musim laporan keuangan yang semakin ramai pekan depan, termasuk kinerja sejumlah bank besar AS.

Di sisi risiko, konflik Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga minyak masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi sentimen saham.

Agenda global menjadi katalis utama

Pergerakan pasar keuangan global dan Indonesia pekan ini akan dipusatkan pada sejumlah agenda penting serta rilis data ekonomi dari China hingga AS.

Pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok, Thailand menjadi salah satu sorotan, karena sejumlah pejabat penting dijadwalkan hadir dan menyampaikan pidato.

Di antaranya, Chairman The Fed Kevin Warsh akan terlibat dalam agenda pertemuan.

Rabu pekan ini dipandang krusial karena akan ada data inflasi AS dan China, termasuk neraca perdagangan China.

Adapun dari dalam negeri, sentimen relatif sepi, namun perhatian juga mengarah pada kekhawatiran dinamika politik yang memanas menjelang peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Geopolitik: risiko eskalasi di Timur Tengah

Sentimen perang juga ikut mewarnai prospek pasar.

Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan bantuan kepada Arab Saudi untuk menyerang kelompok Houthi di Yaman setelah serangan mematikan di Bandara Riyadh.

Trump mengatakan, “Kami mungkin akan melakukannya. Kami akan mempertimbangkannya,” kepada wartawan di Gedung Putih, Sabtu (10/10/2026), seperti yang dikutip dari Reuters.

Dua pejabat pemerintah Arab Saudi menyebut Riyadh telah meminta dukungan pertahanan darurat dari AS untuk membantu koalisi pimpinan Saudi melawan Houthi yang didukung Iran.

Otoritas penerbangan Arab Saudi menyampaikan serangan di Bandara Internasional King Khalid menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya.

Kelompok Houthi juga kembali memperingatkan maskapai dan penumpang agar tidak menggunakan bandara serta wilayah udara Saudi.

Serangan tersebut menambah ketegangan di kawasan, saat Houthi mengancam jalur pelayaran minyak di Selat Bab el-Mandeb.

Di saat yang sama, Iran mengganggu lalu lintas energi melalui Selat Hormuz.

Gangguan pada kedua jalur strategis tersebut berpotensi memperparah tekanan pasokan energi global dan menjaga harga minyak tetap tinggi.

Keterlibatan militer AS juga berisiko memperluas konflik.

Inggris menyatakan mengkaji dukungan tambahan bagi Arab Saudi, tetapi menegaskan belum akan terlibat dalam operasi ofensif.

Pertemuan IMF dan Bank Dunia 12–18 Oktober

Para pejabat keuangan dunia dijadwalkan berkumpul di Bangkok, Thailand, dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia pada 12 hingga 18 Oktober.

Agenda ini berlangsung di tengah gejolak geopolitik, lonjakan biaya energi, kenaikan suku bunga, serta utang publik yang terus membengkak.

Pertemuan mengusung tema “Thailand’s New Horizons: Empowering People, Building Resilience”, yang menekankan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan ketahanan.

Forum akan membahas prospek ekonomi global, stabilitas keuangan, pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, serta peran investasi swasta dalam pembangunan.

Pertemuan yang berlangsung di luar Washington dalam tiga tahun terakhir ini juga disebut akan menyoroti perang AS–Israel melawan Iran yang memasuki bulan kedelapan, termasuk dampaknya terhadap inflasi.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan sekitar 18.000 orang telah terdaftar menghadiri pertemuan tersebut.

Presiden Bank Dunia Ajay Banga mengingatkan bahwa tekanan ekonomi kembali meningkat akibat lonjakan harga solar dan pupuk, sekaligus ancaman fenomena cuaca El Niño ekstrem.

IMF memperkirakan ekonomi global tumbuh 3% pada 2026, namun menyebut sejumlah negara yang terdampak perang berisiko mengalami penurunan proyeksi pertumbuhan.

IMF juga memperingatkan utang publik global berada pada level tertinggi sejak Perang Dunia II dan diproyeksikan melampaui 100% produk domestik bruto (PDB) sebelum 2030.

Rilis data China dan AS yang dinantikan pasar

Selain pertemuan IMF, pasar menantikan beberapa rilis data pada 14 Oktober.

China akan merilis data inflasi konsumen (CPI) dan produsen (PPI) September 2026.

Pada Agustus, inflasi konsumen China tercatat 0,8% secara tahunan, naik dari 0,5% pada Juli.

Sementara itu, inflasi produsen meningkat menjadi 3,8% dari 3,5%.

Data tersebut menjadi petunjuk mengenai kekuatan permintaan domestik serta tekanan biaya di ekonomi terbesar kedua dunia.

Pada hari yang sama, China juga akan mengumumkan data perdagangan September 2026.

Pada Agustus, surplus perdagangan China mencapai US$119,09 miliar.

Ekspor tumbuh 25% secara tahunan menjadi US$401,44 miliar, sedangkan impor naik 28,2% menjadi US$282,36 miliar.

Investor akan memperhatikan apakah lonjakan perdagangan tersebut berlanjut.

Pada 14 Oktober, AS juga menunggu rilis data inflasi September.

Angka ini dipandang dapat memberi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Pada Agustus, inflasi tahunan AS bertahan di 3,4%, sedangkan inflasi bulanan naik 0,4% terutama didorong harga bensin.

Jika tekanan harga kembali meningkat, ruang pelonggaran moneter The Fed dapat semakin terbatas, dan dampaknya berpotensi merembet ke pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, rupiah, serta pasar saham negara berkembang.

Agenda lanjutan: utang Indonesia hingga pidato The Fed

Pada 15 Oktober, Bank Indonesia dijadwalkan merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode Agustus 2026.

Pada Juli, utang luar negeri Indonesia tercatat US$454,8 miliar, dengan utang luar negeri pemerintah sebesar US$218,4 miliar dan utang luar negeri swasta sebesar US$194,5 miliar.

Data terbaru akan menjadi perhatian untuk melihat perkembangan kewajiban eksternal Indonesia di tengah suku bunga global yang tinggi serta tekanan nilai tukar.

Pada hari yang sama, AS akan merilis indeks harga produsen (PPI) September 2026.

Pada Agustus, inflasi produsen tahunan naik menjadi 5,4% dari 4,8% pada Juli.

Kenaikan biaya produksi dan transportasi menjadi sorotan karena dapat diteruskan ke harga konsumen.

Selanjutnya, agenda pidato pejabat The Fed pada 14 hingga 16 Oktober juga dipantau pasar.

Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan Michelle W. Bowman dijadwalkan menghadiri agenda di Bangkok pada 14 Oktober.

Sehari kemudian, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan berdiskusi dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva.

Pada 16 Oktober, pasar menunggu publikasi data produksi industri dan utilisasi kapasitas.