Bisnis & Ekonomi

Catat, Ini 10 Emiten dengan Imbal Hasil Dividen Tertinggi

×

Catat, Ini 10 Emiten dengan Imbal Hasil Dividen Tertinggi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Catat! Ini 10 Emitem Paling Jor-Joran Kasih Imbal Hasil Tertinggi

jurnalistik.co.id – Saham dengan dividen ber-yield tinggi terus menarik minat investor yang mengejar pendapatan pasif dari pasar modal. Selain peluang kenaikan harga saham, pembagian dividen juga dapat menyumbang arus kas yang lebih rutin.

Pada data perdagangan saham, terdapat 10 emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun yang mencatatkan yield sekitar 10% atau lebih. Angka yield dalam daftar tersebut dibulatkan menjadi satu angka di belakang koma agar lebih mudah dibaca.

10 emiten dengan imbal hasil dividen tertinggi

PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) menjadi yang teratas dengan yield 18,6% dan kapitalisasi pasar Rp11,77 triliun. Posisi berikutnya ditempati PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dengan yield 16,3% serta kapitalisasi pasar Rp17,07 triliun.

Dari sektor perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan yield 11,4% dengan kapitalisasi pasar Rp389,20 triliun. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyusul pada level yield 11,0% dengan kapitalisasi pasar Rp477,41 triliun.

Masuk kategori barang konsumsi, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatat yield 11,3% dan kapitalisasi pasar Rp67,72 triliun. Sementara itu, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) berada di yield 10,7% dengan kapitalisasi pasar Rp10,38 triliun.

Adapun dari kelompok komoditas, daftar ini diisi oleh PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) dengan yield 10,8% dan kapitalisasi pasar Rp12,83 triliun. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mencatat yield 10,2% dengan kapitalisasi pasar Rp39,01 triliun.

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatat yield 10,0% dan kapitalisasi pasar Rp75,17 triliun, sedangkan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) juga berada di yield 10,0% dengan kapitalisasi pasar Rp78,26 triliun.

Keberagaman sektor pada daftar tersebut memberi investor lebih banyak alternatif untuk menyesuaikan saham dividen dengan karakter risikonya. Di dalamnya ada perbankan, batu bara, pertambangan emas, bauksit, perkebunan kelapa sawit, barang konsumsi, hingga industri kesehatan.

Cara menghitung yield dividen

Perhitungan yield memakai harga saham saat ini dibandingkan dengan akumulasi dividen per saham secara tahunan atau selama 12 bulan terakhir. Rumus sederhananya adalah total dividen tahunan per saham dibagi harga saham terkini, lalu dikalikan 100%.

Sebagai ilustrasi, emiten BMRI memiliki dividen per saham sebesar Rp476,96 untuk 12 bulan terakhir. Nilai tersebut dibagi harga saham saat penulisan di level Rp4.180 per saham, kemudian dikalikan 100% sehingga yield imbal hasil dividen BMRI tercatat setara 11,41%.

Karena itu, yield tidak berdiri sendiri semata-mata akibat besarnya dividen yang dibagikan. Pergerakan harga saham turut menentukan besar-kecilnya yield yang terlihat.

Ketika harga saham turun sementara dividennya tetap, yield dapat meningkat. Sebaliknya, kenaikan harga saham bisa membuat yield tampak lebih rendah meskipun nominal dividen tidak berubah.

Yield tinggi bukan jaminan murah atau layak beli

Meski daftar ini menonjolkan yield tinggi, angka tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa saham bersangkutan murah atau layak dibeli. Angka dalam daftar bersifat historis dan tidak memberikan kepastian bahwa perusahaan akan membagikan dividen dengan nominal serupa pada periode berikutnya.

Investor tetap perlu menilai kualitas fundamental yang menopang distribusi dividen. Hal yang disebut meliputi pertumbuhan laba, kemampuan menghasilkan arus kas, tingkat utang, payout ratio, serta konsistensi pembagian dividen dari waktu ke waktu.

Perlu dicatat pula bahwa yield tinggi bisa muncul karena penurunan harga saham. Yield juga dapat dipengaruhi pembagian dividen khusus yang belum tentu berulang pada periode selanjutnya.

Dengan pertimbangan tersebut, dividen yield sebaiknya dipandang sebagai salah satu indikator awal dalam proses penyaringan saham. Angka yield bukan satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan investasi.

Artikel ini disusun berdasarkan data dan ringkasan CNBC Indonesia Research yang ditulis pada 04 Oktober 2026 pukul 13.30. Fokus pembahasannya adalah daftar emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun dengan yield sekitar 10% atau lebih.