Bisnis & Ekonomi

Dalam ekonomi seperti ini: ‘kue’ pertumbuhan terbesar, siapa yang paling diuntungkan?

×

Dalam ekonomi seperti ini: ‘kue’ pertumbuhan terbesar, siapa yang paling diuntungkan?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: In This Economy.. Siapa yang Menikmati 'Kue' Ekonomi Terbesar? - Market

jurnalistik.co.id – Keluhan warga tentang suasana ekonomi yang terasa lesu kini makin mudah ditemukan, baik di pemberitaan maupun percakapan di media sosial. Fenomena yang kerap dibungkus istilah seperti “in this economy” juga beriringan dengan viralnya narasi perubahan gaya hidup yang dinilai tidak sejalan dengan angka-angka resmi.

Keadaan ini memunculkan pertanyaan yang sama: jika perekonomian masih tumbuh dan bahkan sempat mencatat laju di atas 5% dalam beberapa kuartal, mengapa sebagian besar orang justru merasa kondisinya tidak membaik? Di sinilah muncul jarak antara persepsi publik dan indikator makroekonomi yang menjadi acuan.

Dalam analisis terbaru yang disinggung oleh ekonom, gambaran pertumbuhan nasional tetap menunjukkan ekspansi, tetapi ada kecenderungan melambat di periode yang paling akhir dilaporkan. Data yang disebut untuk kuartal terakhir yang tersedia, yaitu kuartal II-2026, menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,29%.

Angka tersebut turun dibanding kuartal sebelumnya. Pada kuartal I-2026, pertumbuhan tercatat 5,61%, sehingga peralihan dari satu kuartal ke kuartal berikutnya memperlihatkan adanya perlambatan.

Meski begitu, narasi pertumbuhan di tingkat tahun masih relatif bertahan dibanding sebagian ekspektasi pesimistik. Sepanjang 2025, laju pertumbuhan tetap berada di atas 5%, namun tidak merata di seluruh periode tahunan tersebut.

Rinciannya, pada 2025 pertumbuhan disebut hanya tidak menembus level di atas 5% pada kuartal pertama tahun tersebut. Artinya, selain kuartal I, kuartal-kuartal lain dalam 2025 masih mempertahankan kinerja yang lebih kuat di atas ambang 5%.

Perbedaan ritme inilah yang ikut menjelaskan mengapa keluhan publik bisa tetap terasa dominan walau angka total terlihat “bagus”. Pertumbuhan agregat tidak otomatis berarti pengalaman ekonomi seluruh kelompok ikut membaik dengan arah dan kecepatan yang sama.

Yang juga ditekankan adalah soal siapa yang benar-benar merasakan manfaat dari pertumbuhan tersebut. Dalam pembacaan economis yang dirujuk, “kue” pertumbuhan tidak dinikmati secara merata.

Kelompok dengan pengeluaran terbesar disebut justru menjadi pihak yang paling menikmati hasil dari laju ekonomi. Sementara itu, kelompok lain menghadapi kondisi yang berbeda: tidak hanya merasakan perlambatan, sebagian bahkan mengalami penurunan.

Kontras tersebut berimplikasi pada cara publik menilai kondisi ekonomi sehari-hari. Saat pendapatan dan daya beli kelompok tertentu lebih cepat menyesuaikan dengan momentum pertumbuhan, sementara kelompok lain mengalami pengikisan, persepsi di lapangan cenderung tetap negatif.

Istilah “vibecession” yang menguat menggambarkan situasi ketika suasana yang dirasakan masyarakat berjalan paralel dengan narasi penurunan atau stagnasi—meski pada level indikator nasional tidak selalu menunjukkan kemunduran yang sama.

Dengan kata lain, pertumbuhan yang tercatat di statistik bisa tetap berlangsung, tetapi pemanfaatannya tidak menyebar ke seluruh lapisan secara merata. Ketimpangan penerimaan manfaat inilah yang memperlebar jarak antara data makro dan pengalaman konsumen.

Ketika sebagian orang berada dalam posisi yang memungkinkan mereka memanfaatkan perubahan ekonomi—misalnya melalui kemampuan belanja yang lebih tinggi—narasi peningkatan standar hidup cenderung muncul lebih kuat. Sebaliknya, bagi kelompok yang pengeluarannya lebih tertekan, perubahan kondisi sering kali terasa lewat pengetatan kebutuhan, bukan lewat perbaikan.

Itulah mengapa diskusi publik bisa tetap ramai, bahkan ketika laporan kinerja pertumbuhan nasional menunjukkan angka yang melampaui 5% dalam beberapa kuartal. Penjelasan yang paling konsisten dalam analisis yang dirujuk adalah bahwa daya tarik “pertumbuhan” tidak otomatis berarti manfaat yang sama bagi semua.

Menjelang kuartal-kuartal berikutnya, sinyal perlambatan yang terlihat dari penurunan 5,61% menjadi 5,29% pada kuartal II-2026 juga menjadi pengingat bahwa tren tidak selalu lurus. Bila dinamika distribusi manfaat tetap timpang, sentimen masyarakat dapat terus tertinggal dari optimisme statistik.

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang paling diuntungkan” menjadi inti pembacaan. Saat kelompok berpengeluaran terbesar disebut paling merasakan dampak positif, sedangkan kelompok lain mengalami perlambatan hingga penurunan, maka ekonomi yang tumbuh tetap bisa terasa tidak menyejahterakan secara merata.