jurnalistik.co.id – Kapal dagang Indonesia, Ourang Medan, dikenal sebagai salah satu peristiwa paling mengganggu di sejarah pelayaran. Tragedi ini terus diperdebatkan karena seluruh awak ditemukan tewas tanpa luka yang jelas, sementara kapal kemudian terbakar, meledak, dan akhirnya karam di tengah laut.
Dalam berbagai penuturan, misteri itu bermula dari sinyal darurat yang diterima sejumlah kapal. Sinyal tersebut berisi suara rintihan yang meminta pertolongan, lengkap dengan perintah agar segera ada dokter.
Di salah satu kutipan yang disebut berasal dari Daily Mirror (22 November 1940), terdengar ucapan: “S.O.S dari kapal Ourang Medan. Segera kirim dokter,”. Dalam konteks pelayaran, S.O.S memang dipahami sebagai tanda bahwa pihak di kapal berada dalam keadaan genting.
Kapten kapal penerima kemudian menindaklanjuti pesan tersebut dengan menelaah isi siaran, termasuk permintaan informasi posisi. Setelah menghubungi kembali melalui gelombang pendek, muncul rangkaian sandi yang memuat rincian kondisi yang tidak biasa.
Menurut kutipan dari Leekster Courant (24 Januari 1948), pesan yang disampaikan berbunyi: “S.O.S dari Ourang Medan 20° Lintang Barat dan 179° Bujur Timur….Kami terombang-ambing…wakil kapten tewas di anjungan…. kapten dan kepala mesin tewas di ruang peta… kemungkinan seluruh awak meninggal dunia…sebagian awak……,”. Di versi cerita berikutnya, komunikasi bahkan disebut berlanjut dengan pengakuan mendadak sebelum akhirnya putus.
Bagian lain yang dikaitkan dengan percakapan tersebut memuat kalimat: “Aku mati.. aku mati..,”. Setelah itu, hubungan komunikasi dinyatakan terputus, dan kapten kapal yang merespons segera mengubah haluan untuk menuju koordinat yang disebutkan.
Perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar 16 jam. Saat kapal tiba, Ourang Medan ditemukan terombang-ambing serta sedikit miring ke kanan, namun tanpa bendera atau nama.
Kapten kemudian merapat dan naik ke kapal bersama beberapa anak buah. Di atas Ourang Medan, mereka menemukan 12 mayat yang tergeletak di berbagai sudut kapal, termasuk seekor anjing.
Para korban digambarkan dalam kondisi kaku dengan mata terbuka lebar dan mulut menganga. Kapten juga memeriksa beberapa mayat, termasuk kapten Ourang Medan sendiri, dan tidak ditemukan luka, lebam, atau tanda kekerasan.
Berita Terkait
Namun, pemeriksaan belum sempat berlanjut sepenuhnya ketika teriakan terjadi karena kapal mengalami kebakaran. Awak kapal Inggris yang semula berada di Ourang Medan kemudian kembali ke kapal mereka, menyisakan rentang waktu yang sangat singkat sebelum kejadian besar berikutnya.
Beberapa detik setelah mereka mundur, ledakan dahsyat disebut mengguncang lautan. Api lalu melahap Ourang Medan, hingga kapal tersebut tenggelam beberapa jam kemudian.
Dalam pemberitaan de Locomotief (3 Februari 1948), Ourang Medan disebut sebagai kapal dagang dengan berat lebih dari 5.000 ton. Kapal itu juga disebut berusia sekitar 40 tahun dan telah berulang kali berganti kepemilikan.
Nama Ourang Medan sendiri disebut memiliki keterkaitan dengan pemilik terakhir yang diduga kuat berasal dari Indonesia. Istilah tersebut dikaitkan dengan bahasa Indonesia atau Melayu yang berarti “Pria dari Medan”.
Meskipun berbagai detail peristiwa dipaparkan, penyebab pasti kematian awak tetap menjadi titik utama perdebatan. Ada dugaan kapal mengangkut bahan beracun atau bahan peledak untuk keperluan perang, namun dugaan itu dinyatakan tidak dapat dibuktikan karena kapal beserta bukti-buktinya tenggelam.
Di sisi lain, muncul pula perkiraan bahwa para awak terjangkit penyakit misterius. Akan tetapi, klaim semacam itu juga tidak bisa dikonfirmasi, sehingga kesimpangsiuran terus bertahan hingga sebagian orang menganggap tragedi Ourang Medan sebagai fiksi atau cerita tentang kapal hantu.
Ketidakjelasan tersebut kemudian membuat peristiwa ini menarik perhatian Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA). Dalam laporan rahasia yang dirilis pada 2003, CIA disebut menegaskan bahwa Ourang Medan bukanlah kapal hantu dan bahwa peristiwa tersebut benar-benar ada.
Laporan tersebut juga dikatakan mengonfirmasi keberadaan penemuan mayat dan adanya ledakan. Kendati demikian, CIA tetap disebut tidak menemukan jawaban yang memadai, lalu memasukkannya sebagai misteri atas rahasia laut yang tak terpecahkan.
Di bagian yang dikaitkan dengan CIA, terdapat pernyataan: “Saya yakin, tragedi S.S. Ourang Medan juga menyimpan jawaban atas “rahasia” itu,” ungkap CIA. Hingga kini, kalimat tersebut terus melekat sebagai penutup dari pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab tentang apa yang sebenarnya terjadi di kapal tersebut.












