Bisnis & Ekonomi

IHSG Berpotensi Lanjut Menguat Usai FTSE Russel Pertahankan Status Emerging

×

IHSG Berpotensi Lanjut Menguat Usai FTSE Russel Pertahankan Status Emerging

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat Usai Keputusan FTSE Russel - Market

jurnalistik.co.id – Perdagangan Rabu (7/10/2026) berpotensi membawa indeks kembali menguat, seiring keputusan FTSE Russel yang mempertahankan status emerging untuk Indonesia. Kondisi ini menjadi salah satu pemicu pelaku pasar menahan posisi lebih lama sebelum menguji area teknikal tertentu.

Dalam catatan risetnya, Fanny Suherman selaku Head of Retail Research BNI Sekuritas menyebut IHSG masih memiliki ruang untuk mencoba level atas. Ia menautkan arah pergerakan indeks dengan keputusan FTSE Russel yang mempertahankan status tersebut belakangan ini.

“IHSG berpotensi naik untuk tes resistance di 6.200-6.250 seiring FTSE mempertahankan secondary emerging status Indonesia. Hati-hati jika gagal break 6.250, IHSG berpotensi koreksi kembali,” kata Fanny dalam catatannya, Rabu (7/10/2026).

Dengan kerangka yang sama, BNI Sekuritas juga menetapkan rentang level yang dipakai sebagai acuan pergerakan. Perusahaan memperkirakan level support IHSG berada pada 6.070-6.150, sementara resistance berada di 6.200-6.250.

Proyeksi tersebut menempatkan zona 6.200-6.250 sebagai titik yang akan menjadi perhatian utama pada sesi berjalan. Jika indeks mampu bergerak menembus area tersebut, maka peluang pengujian lanjutan tetap terbuka.

Sebaliknya, skenario alternatifnya juga sudah diingatkan sejak awal. Fanny menekankan kehati-hatian bila indeks gagal break 6.250, karena dalam kondisi tersebut IHSG berpotensi mengalami koreksi kembali.

Sejalan dengan itu, MNC Sekuritas menyoroti dinamika teknikal yang masih terlihat dari aktivitas transaksi. Secara khusus, perusahaan menilai IHSG masih didominasi volume pembelian yang meningkat setelah menguat 1,21% ke 6.192.

Indikasi peningkatan volume pembelian ini dipandang sebagai faktor yang dapat menopang upaya kenaikan indeks. Namun, arah berikutnya tetap akan diuji melalui kemampuan IHSG merespons level resistance yang telah disebutkan dalam proyeksi BNI Sekuritas.

Dengan adanya dua rujukan level—support di 6.070-6.150 dan resistance di 6.200-6.250—pelaku pasar biasanya akan memusatkan perhatian pada reaksi indeks di rentang tersebut. Pada fase pengujian resistance, pergerakan dapat bergerak lebih agresif, tetapi tetap bergantung pada apakah terjadi penerimaan pasar setelah indeks mendekati atau menembus kisaran 6.200-6.250.

Jika IHSG terhenti di area resistance dan tidak berhasil menembus, potensi koreksi yang sebelumnya diingatkan menjadi relevan untuk dipantau. Poin pentingnya adalah kondisi tersebut terkait dengan pernyataan spesifik bahwa kegagalan break di 6.250 dapat memunculkan tekanan sehingga indeks kembali bergerak turun.

Di sisi lain, jika IHSG dapat bertahan dari area bawah yang menjadi tumpuan, maka peluang melanjutkan penguatan akan tetap ada. Rentang support 6.070-6.150 menjadi batas yang digunakan untuk mengukur sejauh mana minat beli masih mampu menjaga pergerakan agar tidak berbalik arah terlalu cepat.

Secara keseluruhan, pandangan kedua sekuritas sama-sama mengarah pada peluang penguatan, dengan catatan pengujian level atas dan kewaspadaan bila resistance gagal ditembus. Pada saat yang sama, indikator volume pembelian yang meningkat setelah IHSG menguat 1,21% ke 6.192 menjadi sinyal tambahan yang memengaruhi pembacaan teknikal untuk perdagangan hari ini.

Penguatan yang berpotensi terjadi juga tercermin dari bagaimana pelaku pasar cenderung menunggu konfirmasi lanjutan sebelum memperpanjang posisi. Ketika indeks mendekati kisaran 6.200-6.250, respons harga akan menjadi penentu apakah momentum naik dapat terus berlanjut atau justru memudar.

Dari sisi teknikal, batas support 6.070-6.150 berfungsi sebagai acuan untuk menilai kekuatan minat beli. Jika indeks tetap bertahan di atas zona tersebut, pasar biasanya punya ruang untuk melakukan penyesuaian posisi secara bertahap, tanpa harus langsung mengubah bias ke arah defensif.

Selain level-level yang telah diuraikan, kenaikan volume pembelian setelah IHSG menguat 1,21% ke 6.192 turut memengaruhi cara membaca pergerakan. Meski demikian, validasi tetap harus dilihat dari keberhasilan indeks merespons resistance yang menjadi fokus utama, karena kegagalan menembusnya dapat memicu koreksi kembali.