Bisnis & Ekonomi

IHSG Melemah Lagi, Saham BREN Jadi Pendorong Indeks Turun 1,33%

×

IHSG Melemah Lagi, Saham BREN Jadi Pendorong Indeks Turun 1,33%

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Finis di Zona Merah, Saham BREN Jadi Biang Keladi - Market

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah lagi pada Kamis, 15 Oktober 2026. Indeks komposit turun 1,33% ke level 5.863, setelah sepanjang perdagangan tetap berada di zona merah.

Pada sesi tersebut, IHSG bergerak dalam rentang 5.917 hingga titik terdalam di 5.804. Sepanjang perdagangan, tekanan jual membuat pergerakan indeks tidak mampu berbalik arah hingga penutupan.

Aktivitas transaksi juga menunjukkan dinamika yang ramai. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, nilai perdagangan mencapai Rp13,52 triliun, dengan total 35,25 miliar saham yang ditransaksikan melalui 1,69 juta kali frekuensi perdagangan.

Dari sisi komposisi pergerakan saham, pasar masih didominasi sentimen negatif. Tercatat 108 saham mengalami penguatan, sementara 567 saham melemah, dan 120 saham lainnya stagnan.

Penekan utama berasal dari saham-saham berbobot besar

Di balik pelemahan IHSG, kinerja sejumlah saham big caps menjadi faktor yang paling terasa. Tekanan pada saham-saham dengan bobot besar terhadap indeks tercatat memberi dampak langsung pada arah IHSG yang terus terpuruk selama sesi berjalan.

Salah satu saham yang disebut menjadi penopang pelemahan indeks adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Pergerakan BREN yang melemah ikut menyeret indeks, seiring dengan pelemahan pada sejumlah big caps lainnya yang turut memiliki pengaruh signifikan terhadap komposit.

Mayoritas sektor turun, dengan pelemahan terbesar pada beberapa kelompok saham

Secara sektoral, berbagai kelompok saham ikut mengalami tekanan. Saham konsumen non primer tercatat turun hingga 3,21%, sementara saham energi melemah 2,99% dan saham perindustrian turun 2,42%.

Selain itu, saham infrastruktur juga menjadi pemberat indeks. Kelompok ini melemah 2,41%, sedangkan saham transportasi turut terkoreksi dengan penurunan sebesar 2,05% pada periode perdagangan yang sama.

Dengan kondisi tersebut, pelemahan tidak hanya terjadi pada satu kelompok saham, melainkan menyebar pada beberapa segmen. Kombinasi penurunan dari beberapa sektor utama kemudian memperkuat tekanan terhadap IHSG.

Hasil akhirnya, IHSG menutup perdagangan pada 5.863 dengan penurunan 1,33%. Rentang pergerakan 5.917 sampai 5.804 serta besarnya aktivitas transaksi menggambarkan bahwa sentimen pasar cukup aktif, tetapi arah tetap dikendalikan oleh dominasi saham yang melemah.

Meski indeks sempat berada di area atas sepanjang perdagangan, pergerakan pada akhirnya tidak mampu mengunci arah positif. Kesenjangan antara level maksimum 5.917 dan penutupan di 5.863 menegaskan bahwa pelemahan lebih dominan di fase akhir sesi, bukan sekadar gejolak sesaat.

Data transaksi yang tetap tinggi memperlihatkan bahwa pelaku pasar aktif mengeksekusi posisi, namun aktivitas yang ramai itu justru berkelindan dengan sentimen yang cenderung menekan harga. Nilai perdagangan Rp13,52 triliun dengan 1,69 juta kali frekuensi transaksi menjadi indikasi adanya arus keputusan yang cepat, ketika mayoritas saham bergerak melemah.

Komposisi pergerakan saham juga memperkuat gambaran tekanan yang lebih luas. Dari total yang bergerak, 567 saham mengalami penurunan, sementara yang menguat hanya 108 saham dan 120 saham stagnan. Kondisi “lebih banyak melemah daripada menguat” biasanya membuat arah indeks lebih sulit berbalik meski ada upaya penyangga di beberapa titik.

Pada saat yang sama, faktor bobot besar di pasar berperan sebagai penentu arah komposit. Saat saham-saham big caps ikut terkoreksi, dampaknya tidak berhenti pada satu komponen, melainkan merembet ke persepsi terhadap kondisi indeks secara keseluruhan—termasuk melalui pelemahan pada BREN yang disebut ikut menyeret pergerakan.

Secara sektoral, penyebaran pelemahan memperjelas bahwa penurunan tidak hanya bertumpu pada satu kelompok. Dengan konsumen non primer turun 3,21%, energi melemah 2,99%, perindustrian turun 2,42%, infrastruktur terkoreksi 2,41%, serta transportasi turun 2,05%, tekanan terbentuk dari beberapa segmen sekaligus. Kombinasi penurunan lintas sektor ini kemudian memperkuat alasan mengapa IHSG akhirnya bertahan di zona merah hingga penutupan.