jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah pada Senin (12/10/2026), dengan penurunan 2,59% hingga ditutup di level 5.936,14 pada penutupan perdagangan Sesi II. Pergerakan indeks juga memperlihatkan tekanan yang berlanjut sepanjang sesi, sampai akhirnya menyentuh titik terendah di area 5.917.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 6.128,72 sampai dengan 5.917. Dengan penutupan di bawah level pembuka sesi, laju pelemahan menegaskan bahwa sentimen masih didominasi sikap kehati-hatian pelaku pasar.
Di sisi saham individu, kejatuhan yang menonjol datang dari saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Pada periode yang sama, BREN tercatat amblas 11,48% secara point-to-point, sehingga turut memperberat tekanan terhadap laju indeks.
Perdagangan hari itu mencatat aktivitas yang cukup padat, tercermin dari total nilai transaksi hingga penutupan mencapai Rp13,73 triliun. Dari sisi volume, sebanyak 62,18 miliar saham berpindah tangan dengan frekuensi transaksi sekitar 1,87 juta kali.
Komposisi aktivitas perdagangan juga menunjukkan bahwa arus jual lebih dominan dibanding pembelian. Kondisi ini sejalan dengan fakta bahwa IHSG tetap berada di wilayah merah hingga akhir sesi.
Rupiah ikut melemah
Di pasar valuta, rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut bergerak turun. Nilai tukar melemah 0,11% dan ditutup pada level Rp17.903/US$ pada Senin (12/10/2026).
Perubahan nilai tukar tersebut menjadi bagian dari gambaran dinamika pasar pada hari yang sama, ketika IHSG juga mengalami koreksi cukup dalam. Kombinasi pelemahan di pasar saham dan valuta mempertegas situasi pasar yang cenderung tidak nyaman bagi investor.
Berita Terkait
Sektor penekan IHSG
Pelemahan IHSG juga ditopang oleh kinerja beberapa kelompok sektor utama. Saham energi tercatat terkoreksi hingga 5,88%, saham perindustrian melemah 5,21%, dan saham infrastruktur turun 4,71%.
Dengan tiga sektor tersebut berada dalam tekanan, indeks menjadi lebih sulit untuk berbalik arah pada tahap penutupan. Pergerakan lintas sektor itu memperlihatkan bahwa koreksi tidak hanya terjadi pada satu segmen, melainkan menyebar pada beberapa pilar pergerakan.
Di tengah kondisi tersebut, level penutupan Sesi II di 5.936,14 menjadi penanda bahwa pelemahan berlangsung sampai akhir. Rentang pergerakan yang sempit namun tetap berada di bawah area awal sesi—yaitu dari 6.128,72 turun menuju 5.917—menunjukkan dominasi tekanan jual.
Meski perdagangan mencatat frekuensi transaksi yang tinggi, hasil akhirnya tetap mengarah pada penurunan indeks. Pada saat yang sama, BREN dengan penurunan 11,48% menjadi salah satu faktor yang ikut memperkuat tekanan terhadap IHSG.
Secara keseluruhan, IHSG menutup perdagangan Senin (12/10/2026) dengan koreksi 2,59% ke 5.936,14. Nilai transaksi Rp13,73 triliun dari 62,18 miliar saham, bersama penguatan tekanan jual dan pelemahan rupiah ke Rp17.903/US$, melengkapi rangkaian data pergerakan pasar pada sesi tersebut.
Sepanjang sesi, pola pergerakan IHSG menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya muncul di akhir perdagangan, melainkan sudah terasa sejak awal karena indeks berada dalam fase melemah dan sulit kembali ke area pembuka. Saat indeks bergerak di kisaran bawah, pelaku pasar cenderung menjaga posisi secara lebih defensif, sehingga upaya pemulihan tidak langsung mendapatkan respons yang memadai. Situasi ini turut tercermin dari jarak antara level tertinggi harian di 6.128,72 dan level terendah yang sempat menyentuh 5.917, sebelum akhirnya ditutup pada 5.936,14.
Aktivitas transaksi yang mencapai Rp13,73 triliun dengan perputaran 62,18 miliar saham juga menggambarkan bahwa perguliran posisi terjadi cukup intens. Namun, tingginya aktivitas tersebut tidak berujung pada pergeseran sentimen ke arah positif, karena arus jual tetap lebih dominan dibanding pembelian. Di saat yang bersamaan, pelemahan rupiah ke Rp17.903/US$ menambah sensitivitas pelaku pasar, sementara koreksi pada sektor energi (-5,88%), perindustrian (-5,21%), dan infrastruktur (-4,71%) memperluas tekanan lintas segmen. Dengan demikian, kombinasi dari komposisi sektor yang melemah dan penurunan saham BREN sebesar 11,48% turut mempertahankan arah koreksi hingga penutupan sesi.












