Bisnis & Ekonomi

Inflasi India Tembus Level Puncak Hampir Dua Tahun, Dekat Batas Toleransi

×

Inflasi India Tembus Level Puncak Hampir Dua Tahun, Dekat Batas Toleransi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Inflasi India Sentuh Level Tertinggi dalam Dua Tahun - Market

jurnalistik.co.id – Inflasi India pada September kembali melesat dan mencapai level tertinggi dalam hampir dua tahun. Kenaikan tersebut membuat laju harga konsumen mendekati batas atas kisaran toleransi bank sentral, yakni 2%–6%.

Dalam data yang dirilis Kementerian Statistik dan Implementasi Program pada Senin, indeks harga konsumen (IHK) tumbuh 5,54% secara tahunan. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak akhir 2024.

Jika dibandingkan Agustus, laju inflasi meningkat dari 4,83% setelah revisi. Kenaikan September juga sekaligus mempertegas bahwa tekanan harga masih belum mereda.

Secara hasil survei, angka 5,54% pada umumnya sejalan dengan estimasi median 5,58% dalam survei Bloomberg terhadap para ekonom. Namun, reaksi pasar justru terlihat lebih sensitif pada perkembangan suku bunga setelah data inflasi keluar.

Perhatian pelaku pasar mengarah pada bagaimana angka September memperkuat alasan kebijakan Reserve Bank of India (RBI). Beberapa hari sebelum publikasi data, komite kebijakan moneter RBI memutuskan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Rapat RBI berlangsung secara bulat dan menetapkan suku bunga acuan di 5,50%. Yang tidak kalah penting, bank sentral mengubah arah kebijakan menjadi “pengetatan yang terukur” untuk menjaga inflasi tetap dalam jalur yang ditargetkan.

Keputusan tersebut sekaligus menandai langkah pertama dalam hampir empat tahun untuk menaikkan suku bunga. Dengan inflasi yang mendekati batas toleransi, kebijakan itu dinilai memberi sinyal bahwa pengetatan akan dilakukan secara bertahap namun tetap terukur.

Untuk pasar pendapatan tetap, respons setelah data inflasi juga tampak pada pergerakan obligasi pemerintah. Obligasi pemerintah India mencatat penurunan setelah rilis IHK September.

Imbal hasil obligasi acuan berdurasi 10 tahun diperdagangkan sekitar 10 basis poin lebih tinggi. Nilainya berada di level 7,40%, mencerminkan ekspektasi pasar yang bergeser seiring data inflasi dan interpretasi terhadap lintasan kebijakan suku bunga.

Secara keseluruhan, angka inflasi 5,54% memberi gambaran bahwa kenaikan harga masih berada dalam rentang yang menuntut kewaspadaan. Ketika inflasi berada dekat batas atas kisaran toleransi 2%–6%, ruang kebijakan menjadi semakin sempit bagi bank sentral untuk bergerak akomodatif.

Dalam konteks tersebut, kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi langkah yang berfungsi untuk meredam tekanan inflasi. Dengan perubahan kebijakan ke “pengetatan yang terukur”, RBI memberi kerangka bahwa respons moneter akan diselaraskan dengan perkembangan data, tanpa perubahan yang bersifat mendadak.

Dari sisi statistik, data inflasi September disusun berdasarkan rilis kementerian statistik yang sama. Peningkatan dari 4,83% pada Agustus—yang juga telah direvisi—menunjukkan bahwa perubahan tren inflasi tidak hanya bersumber dari angka awal, tetapi juga dipengaruhi pembaruan data.

Sementara itu, kedekatan inflasi dengan batas toleransi menjadi faktor utama yang membuat pasar memperhitungkan kelanjutan pengetatan. Penilaian seperti ini biasanya berdampak pada penentuan imbal hasil obligasi, karena ekspektasi suku bunga di masa depan ikut memengaruhi harga obligasi.

Dengan IHK yang naik 5,54% dan imbal hasil 10 tahun yang berada di 7,40%, terlihat bahwa pasar menilai risiko inflasi masih relevan. Kenaikan imbal hasil sekitar 10 basis poin setelah data keluar memperkuat sinyal bahwa penyesuaian kebijakan tidak berhenti pada satu kali keputusan.

Jika menilik pola yang tampak, keputusan RBI untuk menaikkan suku bunga acuan dan menggeser arah kebijakan datang dalam momentum yang sama dengan data inflasi yang tinggi. Karena inflasi September menjadi yang tertinggi sejak akhir 2024, bobot data tersebut cenderung besar dalam pembacaan arah kebijakan moneter.

Di tahap ini, yang menjadi penentu berikutnya adalah apakah inflasi dapat kembali menjauh dari batas atas kisaran toleransi 2%–6%. Jika tekanan harga tetap tinggi, pasar kemungkinan akan terus menilai bahwa “pengetatan yang terukur” perlu dipertahankan sesuai kebutuhan.

Untuk sekarang, angka 5,54% pada September bukan hanya menunjukkan level inflasi, tetapi juga membentuk ekspektasi baru atas lintasan suku bunga. Dengan demikian, data inflasi sekaligus menjadi penguat narasi kebijakan RBI—yang selanjutnya tercermin pada pergerakan obligasi pemerintah dan perubahan imbal hasil di pasar.