jurnalistik.co.id – Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menilai Indonesia perlu mengejar laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi untuk memperkuat arah pembangunan. Ia menyebut target pertumbuhan hingga 8% sebagai salah satu agenda penting yang perlu dikejar, sekaligus diarahkan agar selaras dengan dinamika kependudukan yang sedang berlangsung.
Menurut Juda, dorongan untuk mengejar pertumbuhan tersebut berkaitan erat dengan momentum demografi. Ia menilai Indonesia sedang berada pada fase yang memberi peluang besar untuk mengubah struktur penduduk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Juda menekankan bahwa pemanfaatan bonus demografi tidak bisa ditunda terlalu lama. Indonesia, kata dia, hanya memiliki rentang waktu sekitar 10–15 tahun ke depan untuk mengoptimalkan momentum tersebut agar benar-benar menghasilkan dampak ekonomi yang nyata.
Dalam penjelasannya, Juda menyatakan bahwa saat ini Indonesia masih berada dalam periode emas demografi (golden period). Pada fase ini, jumlah penduduk usia produktif relatif lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia nonproduktif, sehingga kapasitas kerja dan produktivitas berpotensi meningkat bila dikelola dengan baik.
Periode emas dan penguatan produktivitas
Juda memandang kondisi demografis tersebut sebagai fondasi untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar, negara memiliki peluang untuk mendorong output yang lebih tinggi melalui peningkatan kualitas, efisiensi, serta kemampuan bekerja sesuai kebutuhan pasar.
Selain aspek produktivitas, ia juga menyoroti pentingnya memperkuat daya saing perusahaan Indonesia di pasar global. Ketika tenaga kerja dapat ditingkatkan kualitasnya, perusahaan dinilai lebih siap bersaing, baik dari sisi kinerja maupun kemampuan merespons persaingan usaha yang semakin ketat.
Ia juga menggarisbawahi bahwa momentum demografi seharusnya tidak diperlakukan semata sebagai angka pertumbuhan penduduk usia kerja. Momentum itu perlu diterjemahkan menjadi peningkatan kemampuan dan kesempatan, sehingga manfaatnya dapat mengalir ke aktivitas ekonomi yang lebih luas.
Berita Terkait
Dalam forum Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026, Juda menyampaikan penegasan bahwa bonus demografi bukan hasil yang otomatis. Ia menilai dibutuhkan prasyarat agar penduduk usia produktif benar-benar menjadi nilai tambah ekonomi, bukan hanya menjadi komposisi demografis.
Bonus demografi tidak otomatis menjadi bonus ekonomi
Juda menegaskan hal itu melalui pernyataan berikut: “Tapi tentu saja bonus demografi ini tidak otomatis menjadi bonus ekonomi. Penduduk usia produktif yang besar hanya akan menjadi keunggulan jika mereka memiliki pendidikan, keterampilan, kesehatan, dan kesempatan kerja yang memadai,” ujarnya.
Poin utama dari pandangan tersebut adalah adanya keterkaitan antara komposisi usia produktif dan kualitas sumber daya manusia. Ia mengisyaratkan bahwa pendidikan dan keterampilan berperan langsung dalam menentukan produktivitas, sementara kesehatan menjadi penopang agar kemampuan bekerja dapat terjaga dalam jangka panjang.
Selain kualitas, Juda juga menyoroti tersedianya kesempatan kerja yang memadai. Dengan kesempatan yang sesuai, penduduk usia produktif dapat terserap ke dalam aktivitas ekonomi secara lebih efektif, sehingga potensi demografis dapat berubah menjadi kontribusi terhadap pertumbuhan.
Dengan demikian, pengejaran pertumbuhan ekonomi hingga 8% tidak berdiri sendiri, melainkan diposisikan sebagai bagian dari strategi memanfaatkan jendela waktu demografi. Juda menyebut bahwa periode 10–15 tahun merupakan kesempatan yang perlu dimaksimalkan untuk memastikan arah kebijakan sejalan dengan kebutuhan penciptaan nilai tambah ekonomi.
Ia juga mengingatkan bahwa tanpa pendidikan, keterampilan, kesehatan, dan lapangan kerja yang cukup, keunggulan demografis berisiko tidak termanifestasi. Dalam kondisi tersebut, bonus demografi tidak akan otomatis berubah menjadi bonus ekonomi, sehingga target pertumbuhan yang lebih tinggi pun akan lebih sulit dicapai.
Melalui penilaiannya, Juda seolah ingin memastikan fokus pembahasan tidak berhenti pada kondisi demografi, tetapi juga pada syarat yang harus dipenuhi agar kemajuan ekonomi benar-benar terjadi. Dari sudut pandang tersebut, peningkatan kapasitas manusia dan perbaikan kesempatan kerja menjadi elemen kunci yang menentukan keberhasilan pemanfaatan momentum demografi.












