jurnalistik.co.id – Persaingan ekonomi di Asia Tenggara kembali menonjol setelah sejumlah negara merilis gambaran kinerja pada kuartal III-2026. Di saat banyak ekonomi ASEAN bergerak dengan laju yang relatif moderat, Vietnam memperlihatkan akselerasi yang jauh lebih kencang dibanding negara tetangga.
Untuk periode hingga 6 November 2026, data pertumbuhan menunjukkan Vietnam mencatat ekspansi ekonomi 9,95% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III-2026. Angka itu menjadi yang tertinggi di antara empat negara ASEAN yang sudah mengeluarkan data pertumbuhan untuk periode tersebut.
Indonesia berada di posisi berikutnya dengan pertumbuhan 5,47% yoy pada kuartal III-2026. Singapura mencatat 5,4%, sementara Malaysia tumbuh 5,3%. Dengan komposisi angka tersebut, laju Vietnam terlihat hampir dua kali lipat dibanding tiga negara lainnya.
Vietnam melaju hampir dua digit
Pertumbuhan Vietnam pada kuartal III-2026 tidak berdiri di satu pendorong saja. Performa tersebut menunjukkan akselerasi yang cukup kuat, yang salah satunya ditopang oleh aktivitas industri, investasi infrastruktur, arus modal asing, serta penguatan ekspor.
Secara sektoral, data National Statistics Office Vietnam mencatat sektor industri dan konstruksi tumbuh 11,21% sepanjang Januari–September 2026. Kontribusi sektor ini terhadap pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut mencapai 49,62%, menandakan bahwa mesin produksi dan pembangunan menjadi komponen penting dalam pembentukan pertumbuhan.
Di sisi pembiayaan dan ekspansi, dorongan investasi juga tercermin dari realisasi foreign direct investment (FDI). Dalam sembilan bulan pertama 2026, nilai FDI Vietnam tercatat mencapai US$21,07 miliar atau setara Rp381,05 triliun (dengan asumsi kurs US$1-Rp18.085). Nilai itu meningkat 12,1% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya, sekaligus menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Penguatan permintaan luar negeri turut memperkokoh aktivitas industri. Nilai ekspor barang Vietnam pada Januari–September 2026 mencapai US$434,3 miliar, melonjak 24,5% secara tahunan. Kinerja ekspor yang tinggi ini ikut menopang rangkaian kegiatan manufaktur dan rantai produksi dalam negeri.
Indonesia, Malaysia, dan Singapura saling berdekatan
Di bawah Vietnam, Indonesia, Malaysia, serta Singapura menunjukkan pola pertumbuhan yang relatif saling berdekatan pada kuartal III-2026. Walau jaraknya tidak terlalu jauh, perbedaannya tetap terlihat dari angka pertumbuhan tahunan masing-masing negara.
Berita Terkait
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% yoy pada kuartal III-2026. Angka tersebut meningkat dibanding pertumbuhan 5,29% pada kuartal II-2026. Menurut uraian data, capaian ini ditopang oleh permintaan domestik, konsumsi rumah tangga, investasi, serta belanja pemerintah.
Malaysia mencatat pertumbuhan 5,3% pada kuartal III-2026 berdasarkan estimasi awal Departemen Statistik Malaysia. Performa itu melambat dibanding pertumbuhan 6% pada kuartal sebelumnya. Dalam komposisinya, ekspansi pada sektor jasa, manufaktur, dan konstruksi disebut menjadi penopang utama.
Sementara itu, Singapura tumbuh 5,4% pada periode yang sama berdasarkan estimasi awal. Laju tersebut lebih rendah dibanding 6,2% pada kuartal II-2026. Perubahan kecepatan ini dikaitkan dengan dinamika sektor teknologi, terutama melalui ekspansi industri elektronik dan manufaktur yang terkait teknologi.
Dengan susunan angka tersebut, pembacaan yang muncul adalah adanya kontestasi pertumbuhan yang ketat di kelompok “lima besar” ASEAN versi data kuartal III. Vietnam tampil berbeda karena berlari lebih cepat, sedangkan Indonesia, Singapura, dan Malaysia berada di rentang yang tidak jauh.
Perbandingan kawasan: data tidak selalu seragam
Persaingan pertumbuhan ekonomi di ASEAN tidak hanya melibatkan empat negara yang sudah merilis data kuartal III-2026. Sebagian negara lain belum memiliki rilis untuk kuartal tersebut, sehingga perbandingan harus menggunakan periode terakhir yang tersedia.
Filipina dan Thailand, misalnya, masih menggunakan data kuartal II-2026 dalam kompilasi terakhir. Untuk Kamboja, Laos, Myanmar, Brunei Darussalam, serta Timor-Leste, kompilasi yang digunakan berasal dari data tahun 2025.
Meski demikian, gambaran setahun penuh dapat dibaca melalui proyeksi lembaga internasional. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook Oktober 2026 memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% pada 2026. Proyeksi untuk Malaysia sebesar 5,2%, sementara Singapura diproyeksikan tumbuh 5%.
Di luar kelompok yang kerap disorot, IMF memperkirakan Filipina tumbuh 3,4% dan Thailand 2,1% pada 2026. Untuk negara lainnya, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kamboja sebesar 3%, Laos 4,5%, Myanmar 2%, Brunei Darussalam 1,9%, serta Timor-Leste 4%.
Dari keseluruhan proyeksi tersebut, benang merahnya konsisten: Vietnam diperkirakan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan ASEAN pada 2026. Sementara itu, negara-negara lain bergerak dalam rentang yang lebih rendah dibanding Vietnam, meski tetap mencerminkan variasi pendorong seperti konsumsi domestik, investasi, ekspor, dan ekspansi sektor jasa serta industri.












