jurnalistik.co.id – Bank Indonesia (BI) mencatat kemenangan di lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang digelar pada Jumat, 9 Oktober 2026. Dalam lelang tersebut, BI memenangkan nilai Rp30 triliun.
Nilai yang dimenangkan itu menjadi lebih besar dibanding lelang sebelumnya pada 25 September 2026. Saat itu, BI memenangkan Rp15 triliun, sehingga pencapaian kali ini meningkat menjadi dua kali lipat.
Meski perolehan BI bertambah, keputusan lelang justru terjadi di tengah kondisi yield yang melemah. Yield rata-rata tertimbang di seluruh tenor tercatat turun, sejalan dengan dinamika pasar saat proses lelang berlangsung.
Data lelang menunjukkan bahwa minat pasar juga menguat. Nominal penawaran SRBI yang masuk naik dari Rp64,11 triliun menjadi Rp76,23 triliun, atau bertumbuh 18,9% dalam rentang dua pekan.
Penurunan yield terjadi di berbagai tenor pemenang
Pergerakan yield terlihat pada tenor yang dimenangkan. Untuk tenor 6 bulan, yield turun menjadi 6,46% dari level sebelumnya 6,65%.
Pada tenor 12 bulan, yield juga mengalami penurunan dari 6,75% menjadi 6,6%. Penurunan paling tajam tercatat pada tenor 9 bulan, ketika yield bergerak turun menjadi 6,48% dari 6,75%.
Dengan kata lain, penurunan yield tidak hanya terjadi pada tenor tertentu, melainkan juga merata di beberapa segmen masa jatuh tempo yang dilelang.
Yield penawaran investor ikut terkoreksi
Bukan hanya yield pemenang yang menurun. Rata-rata yield dari penawaran investor juga bergerak lebih rendah di semua tenor.
Berita Terkait
Untuk tenor 6 bulan, yield penawaran turun dari 6,75% menjadi 6,55%. Lalu pada tenor 9 bulan, yield terkoreksi dari 6,78% menjadi 6,52%.
Adapun tenor 12 bulan mencatat penurunan dari 6,86% menjadi 6,68%. Perubahan ini memperlihatkan bahwa tekanan imbal hasil di pasar terbukti lebih mereda dibanding periode lelang sebelumnya.
Kondisi obligasi global mendukung penurunan yield
Menurut gambaran yang menyertai lelang, saat proses berlangsung tekanan di pasar obligasi global cenderung mereda. Salah satu indikatornya terlihat dari pergerakan yield US Treasury.
Yield US Treasury tercatat turun 4,8 basis poin menjadi 5,2% setelah sebelumnya sempat berada di 5,3%. Pelemahan yield ini kemudian diikuti oleh pergerakan di sebagian besar obligasi global.
Di kawasan pasar surat utang negara (SUN), terutama untuk tenor pendek, yield juga mengalami penurunan. Kombinasi pelemahan di instrumen global itu menjadi latar yang ikut membentuk respons pasar saat lelang SRBI berlangsung.
Dengan demikian, kenaikan nilai yang dimenangkan BI—dari Rp15 triliun menjadi Rp30 triliun—terjadi bersamaan dengan meningkatnya nominal penawaran yang masuk, sekaligus diiringi turunnya yield pada seluruh tenor yang tercatat dalam data lelang.
Hasil akhir ini sekaligus menunjukkan bahwa, pada lelang tanggal 9 Oktober 2026, minat investor terhadap SRBI meningkat, sementara imbal hasil yang diminta pasar justru menurun. Kombinasi tersebut menjadi bagian dari gambaran pergeseran sentimen di pasar rupiah dan pasar pendapatan tetap saat yield obligasi global menunjukkan koreksi.
Kenaikan nilai yang dimenangkan BI pada lelang 9 Oktober 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa permintaan pasar tidak hanya bertumpu pada skala pembelian, tetapi juga tercermin pada penawaran yang masuk. Saat penawaran meningkat, yield yang direfleksikan dalam harga juga bergerak lebih rendah.
Penurunan yield yang tampak pada beberapa tenor pemenang—mulai dari 6 bulan, 9 bulan, hingga 12 bulan—memberi sinyal bahwa penyesuaian imbal hasil terjadi di sepanjang segmen masa jatuh tempo yang dilelang. Pola yang sejalan terlihat pada yield penawaran investor yang ikut terkoreksi, sehingga tekanan imbal hasil cenderung mereda dibanding periode sebelumnya.
Di sisi lain, pelemahan yield pada instrumen global ikut melandasi respons tersebut. Setelah US Treasury terkoreksi turun, pergerakan pada obligasi global lain ikut menunjukkan arah yang relatif sama, termasuk pada surat utang negara dengan tenor pendek. Kombinasi dinamika global dan penguatan minat di lelang membantu menjelaskan mengapa nilai yang dimenangkan naik, sementara imbal hasil yang diminta pasar menurun.












