Bisnis & Ekonomi

Pertemuan Ajay Banga, Suahasil Tegaskan Defisit APBN 3% dan Rasio Utang 60%

×

Pertemuan Ajay Banga, Suahasil Tegaskan Defisit APBN 3% dan Rasio Utang 60%

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Temui Bos Bank Dunia, Suahasil Tegaskan Komitmen Defisit APBN 3% - Market

jurnalistik.co.id – Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan komitmen pemerintah menjaga kredibilitas fiskal dalam pertemuan bilateral di Bangkok, Thailand, dengan Presiden World Bank Group, Ajay Banga, pada 13/10/2026.

Dalam pertemuan tersebut, Suahasil menyampaikan bahwa kredibilitas menjadi dasar penting bagi upaya pembangunan ekonomi, sekaligus memperkuat kemitraan strategis yang menjadi perhatian bersama dalam agenda prioritas pemerintah.

Ia menekankan pesan utama melalui pernyataannya, “Satu-satunya mata uang yang kami miliki adalah kredibilitas. Karena itu, kami ingin menjaga kredibilitas kami dan menegaskan kembali komitmen terhadap defisit anggaran 3% serta rasio utang 60% terhadap produk domestik bruto (PDB),” tegasnya.

Defisit 3% dan rasio utang 60% ditegaskan kembali

Suahasil menyampaikan bahwa komitmen kebijakan fiskal pemerintah tidak berhenti pada penyampaian target, tetapi juga ditegaskan kembali dalam forum internasional untuk menunjukkan konsistensi arah pengelolaan anggaran dan pengendalian beban utang.

Ia mengaitkan penegasan tersebut dengan tujuan menjaga ruang kebijakan agar program-program pembangunan dapat berjalan selaras dengan prioritas yang ditetapkan pemerintah.

Dengan menyebut defisit anggaran sebesar 3% dan rasio utang setara 60% terhadap PDB, Menkeu menempatkan dua indikator itu sebagai rujukan kredibilitas yang ingin terus dijaga dalam pelaksanaan kebijakan.

Prioritas pembangunan mencakup pangan, energi, dan penguatan manusia

Suahasil juga memaparkan sejumlah program prioritas yang dimaksud dalam penguatan pembangunan ekonomi, termasuk ketahanan pangan dan energi.

Selain itu, pemerintah menaruh perhatian pada pengembangan sumber daya manusia, khususnya melalui bidang kesehatan dan pendidikan, sebagai bagian dari upaya membangun fondasi jangka panjang.

Di sisi lain, ia menyebut penguatan usaha kecil dan menengah sebagai salah satu fokus yang turut didorong untuk memperluas kemampuan pelaku usaha dalam menopang aktivitas ekonomi.

Langkah berikutnya adalah hilirisasi sumber daya alam, yang dinyatakan menjadi bagian dari agenda untuk meningkatkan nilai tambah dan memastikan pengelolaan potensi domestik berjalan lebih terarah.

Pendalaman sektor keuangan dan penciptaan lapangan kerja bernilai tambah

Dalam pembahasan yang sama, Suahasil menegaskan pentingnya pendalaman sektor keuangan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan sistem ekonomi mendukung kebutuhan pembangunan.

Ia juga menyoroti penciptaan lapangan kerja yang memiliki nilai tambah yang lebih baik, sehingga perumusan kebijakan tidak hanya berfokus pada perluasan kesempatan kerja, tetapi juga pada kualitas nilai yang dihasilkan melalui aktivitas ekonomi.

Dengan demikian, pesan yang dibawa Suahasil dalam pertemuan bilateral tersebut berputar pada dua lapis arah: menjaga kredibilitas fiskal melalui indikator defisit dan rasio utang, serta mendorong rangkaian prioritas pembangunan yang mencakup sektor-sektor kunci sesuai agenda pemerintah.

Pertemuan bilateral di Bangkok yang melibatkan Presiden World Bank Group, Ajay Banga, menjadi momentum bagi pemerintah untuk menegaskan komitmen kebijakan sekaligus menyelaraskan dukungan strategis bagi prioritas yang telah ditetapkan.

Sejalan dengan itu, penegasan komitmen defisit anggaran 3% dan rasio utang 60% terhadap PDB disampaikan sebagai bentuk konsistensi dalam pengelolaan fiskal, sementara fokus program diarahkan pada ketahanan pangan dan energi, pengembangan sumber daya manusia, penguatan UMKM, serta hilirisasi sumber daya alam.

Melalui penyampaian tersebut, Suahasil menutup penjelasannya dengan menekankan bahwa pendalaman sektor keuangan dan penciptaan lapangan kerja bernilai tambah menjadi bagian yang menyatu dalam kerangka prioritas pembangunan yang dibahas dalam forum pertemuan bilateral.

Dalam penjelasan tersebut, Suahasil menggambarkan bahwa pengendalian fiskal berfungsi sebagai penopang kepercayaan, sehingga arah kebijakan dapat dibaca jelas oleh mitra internasional maupun pelaku ekonomi. Ia menekankan perlunya konsistensi pelaksanaan agar ruang kebijakan tetap terjaga untuk mendukung kesinambungan program pembangunan sesuai agenda yang telah ditetapkan.

Suahasil juga menegaskan keterkaitan antara indikator kredibilitas dengan rangkaian prioritas pembangunan yang dibawa dalam pertemuan bilateral. Penajaman sektor keuangan, perhatian pada ketahanan pangan dan energi, penguatan sumber daya manusia, dorongan pada UMKM, serta agenda hilirisasi ditempatkan sebagai bagian dari upaya menyelaraskan penguatan ekonomi dengan penciptaan lapangan kerja bernilai tambah.