jurnalistik.co.id – Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan kembali bergerak dalam fase konsolidasi setelah menguat pada sesi akhir pekan lalu. Di awal pekan, tekanan tetap datang dari harga minyak dunia yang masih tinggi serta penguatan indeks dolar AS.
Pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, nilai tukar rupiah masih menghadapi dua faktor utama tersebut. Kondisi ini membuat pergerakan rupiah cenderung lebih sulit berbalik arah dalam waktu dekat.
Menurut data Bloomberg, harga minyak Brent berada di kisaran 102,33 dolar AS per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) relatif melandai di level 90,57 dolar AS per barel.
Bersamaan dengan pergerakan minyak, indeks dolar AS tercatat di level 101,9. Penguatan dolar umumnya membuat mata uang berisiko, termasuk rupiah, lebih rentan terkoreksi.
Di sisi lain, penyebab mengapa harga minyak belum menunjukkan penurunan yang berarti adalah ketatnya pasokan global. Persediaan minyak dunia disebut terkuras tajam dan berada di level terendah dalam lima tahun terakhir.
Keterbatasan stok tersebut membuat pasar sulit melihat ruang penurunan harga secara cepat. Risiko pasokan yang tetap ketat juga cenderung menjaga harga minyak tetap bertahan pada level tinggi.
Namun, sentimen lain yang turut membentuk ekspektasi pelaku pasar datang dari situasi geopolitik. Pasar masih mewaspadai perang yang belum selesai dapat kembali memanas secara tak terduga.
Pada Jumat, 2 Oktober 2026, negara-negara G7 dan mitranya disebut berencana melepas hingga 100 juta barel cadangan darurat minyak serta diesel. Rencana pelepasan cadangan tersebut sempat dipandang dapat meredakan tekanan harga.
Berita Terkait
Meski demikian, aksi pelepasan cadangan tidak langsung memberi dorongan positif. Harga minyak tetap melambung karena ketegangan di sejumlah kawasan terus berlanjut dan ikut memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
Dalam perkembangan terbaru, perang di Timur Tengah dikabarkan kembali terjadi. Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi disebut melancarkan operasi militer untuk merebut seluruh wilayah yang berada di bawah kendali kelompok Houthi yang didukung Iran.
Perubahan dinamika konflik seperti ini biasanya cepat memengaruhi persepsi risiko pasar terhadap kelangsungan pasokan energi. Ketika pelaku pasar menilai risiko eskalasi meningkat, harga minyak cenderung tetap terangkat meski ada rencana pelepasan cadangan.
Dengan kombinasi tersebut, rupiah diperkirakan menjalani konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Pasar menempatkan volatilitas pada faktor eksternal, terutama minyak dan dolar, sebagai penentu arah jangka pendek.
Penguatan indeks dolar AS menjadi pengimbang yang menahan ruang pemulihan rupiah. Di saat yang sama, ketahanan harga minyak turut menjaga biaya dan ekspektasi terkait arus komoditas tetap tinggi.
Bagi pelaku pasar, fokus hari ini terutama tertuju pada respons harga minyak dan pergerakan indeks dolar. Jika tekanan pada dolar tetap bertahan, rupiah akan menghadapi tantangan untuk bergerak lebih stabil.
Sebaliknya, selama stok minyak global masih berada di level terendah dalam lima tahun terakhir, pasar cenderung sulit menurunkan harga secara cepat. Kondisi ini ikut membentuk ekspektasi bahwa minyak akan tetap menjadi faktor dominan yang memengaruhi sentimen valas.
Di tengah itu, rencana pelepasan hingga 100 juta barel cadangan darurat dari G7 dan mitra menjadi catatan penting yang akan dipantau. Meski begitu, dampaknya ke harga minyak tampaknya tidak langsung karena konflik di Timur Tengah kembali aktif.
Dengan demikian, prospek rupiah dalam waktu dekat lebih mengarah pada pergeseran yang dipicu komoditas dan mata uang acuan. Pergerakan rupiah diprediksi belum sepenuhnya lepas dari tekanan, meskipun ada upaya konsolidasi setelah penguatan pada akhir pekan.












