jurnalistik.co.id – Bursa saham Asia menguat pada awal pekan setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve. Pergerakan itu juga disertai penguatan di pasar saham Jepang.
Laporan Bloomberg News menyebutkan, saham-saham Asia bergerak naik seiring tumbuhnya keyakinan bahwa tekanan bagi The Fed untuk terus menaikkan suku bunga mulai mereda. Kondisi tersebut dipicu oleh gambaran pasar tenaga kerja AS yang dinilai kurang panas dibanding proyeksi ekonom.
Indeks MSCI Asia Pacific naik 0,4%, dengan saham Jepang melonjak 2%. Di kawasan lain, kontrak indeks Nasdaq 100 turut menguat 0,3% setelah indeks acuannya mencatat penutupan pada rekor tertinggi di hari Jumat.
Penguatan kontrak Nasdaq 100 juga diikuti oleh kenaikan pada indeks saham semikonduktor AS. Rentetan pergerakan positif tersebut menjadi salah satu sinyal bahwa sentimen di pasar ekuitas global masih responsif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga.
Dorongan dari data tenaga kerja AS
Pemicu utama reli di pasar saham adalah laporan ketenagakerjaan AS yang menunjukkan penambahan pekerja lebih sedikit pada bulan September dibandingkan perkiraan ekonom. Selain itu, pertumbuhan upah disebut melambat, sehingga narasi “kenaikan suku bunga berkelanjutan” menjadi kurang dominan di pasar.
Meski ekspektasi kenaikan suku bunga mulai menurun, obligasi tetap berada di bawah tekanan. Dalam penilaian pasar uang, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada Oktober tercatat kurang dari 25%.
Dengan probabilitas kenaikan yang lebih kecil tersebut, pelaku pasar cenderung menilai kebijakan moneter bisa menjadi lebih tidak agresif dalam waktu dekat. Namun, tetap ada kehati-hatian karena pasar obligasi belum sepenuhnya menunjukkan pembalikan tekanan.
Berita Terkait
Minyak mentah menguat usai perkembangan di Yaman
Di saat yang sama, harga minyak mentah Brent juga bergerak menguat. Penguatan tersebut terjadi setelah Yaman melancarkan upaya merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok Houthi.
Brent untuk pengiriman Desember sempat menembus level US$103 per barel pada awal perdagangan Senin sebelum kemudian memangkas kenaikan tersebut. Kontrak minyak itu masih berada dalam tren positif karena menguat hampir 5% pada pekan sebelumnya.
Menariknya, harga minyak tetap naik meski negara-negara utama OPEC+ sepakat untuk mempertahankan kuota produksi bulan depan. Keputusan mempertahankan kuota produksi tidak langsung menekan kenaikan harga, setidaknya pada awal pergerakan Senin.
Perpaduan antara sentimen saham yang membaik dan penguatan komoditas energi ikut membentuk lanskap perdagangan pada awal pekan. Sementara itu, data tenaga kerja AS menjadi faktor dominan yang memengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed.
Secara keseluruhan, pasar bergerak dengan pola yang mencerminkan dua arus informasi yang berjalan paralel. Dari sisi suku bunga, data AS yang lebih lemah membuat ekspektasi kenaikan lanjutan mereda, sedangkan dari sisi komoditas, situasi geopolitik di kawasan Yaman mendorong kenaikan Brent.
Nama Thomas Kutty serta Abraham dan Anand Krishnamoorthy juga dicantumkan dalam laporan Bloomberg News yang menjadi dasar rangkuman pergerakan pasar pada kesempatan ini. Dengan latar tersebut, indeks-indeks utama dan segmen tertentu di Asia serta kontrak indeks global menunjukkan respons yang konsisten terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan dinamika harga energi.
Ke depan, kombinasi antara perkembangan pasar tenaga kerja AS dan respon pasar terhadap pergerakan obligasi berpotensi tetap menjadi penentu arah. Pada saat yang sama, pergerakan Brent yang masih dipengaruhi kabar dari Yaman dapat memberi dorongan tambahan bagi sentimen di pasar komoditas dan spillover ke aset berisiko.












