Bisnis & Ekonomi

Saham Pemberat Tekan IHSG Melemah Mendekati 2% hingga di Bawah 6.000

×

Saham Pemberat Tekan IHSG Melemah Mendekati 2% hingga di Bawah 6.000

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Saham Pemberat IHSG Turun Nyaris 2% Hingga Drop di Bawah 6.000 - Market

jurnalistik.co.id – Perdagangan Senin (12/10/2026) di Bursa Efek Indonesia ditutup dengan tekanan yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melemah hingga mendekati kisaran koreksi 2%. Pada sesi tersebut, IHSG tergelincir ke level 5.975,78.

Di tengah pergerakan intraday, indeks bergerak dalam rentang yang cukup lebar. Sepanjang perdagangan tercatat IHSG sempat berada di area 6.128,72 sebelum akhirnya menyentuh titik terendah di 5.971,41.

Komposisi pergerakan saham juga menunjukkan dominasi sisi penjual. Dari total yang bergerak, tercatat 537 saham mengalami pelemahan, 159 saham menguat, sementara 95 saham lainnya stagnan.

Beberapa saham berkapitalisasi besar disebut menjadi pemberat utama bagi Indeks Komposit. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), hingga PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi faktor yang menekan laju IHSG.

Panin Sekuritas menilai pelemahan terjadi tajam pada Sesi I. Dalam catatan terbarunya, disebutkan IHSG melemah 1,94% pada Sesi I di level 5.975,78, yang ditekan oleh aksi jual pada saham-saham grup konglomerasi dengan valuasi premium.

Menurut Panin Sekuritas, pola tekanan tersebut mengarah pada meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar. Kehati-hatian itu muncul di saat pasar menantikan pengumuman MSCI pada November mendatang.

Panin Sekuritas Research juga menegaskan kekhawatiran yang masih membayangi sentimen. “Pasar masih mengkhawatirkan potensi berlanjutnya kebijakan freeze terhadap Indonesia, yang dapat membatasi katalis pemulihan aliran dana asing,” terang Panin Sekuritas Research dalam catatan terbarunya menyoal penyebab IHSG melemah.

Sepuluh saham laggards dengan beban terbesar

Di antara saham-saham yang menjadi laggards pada perdagangan Senin (12/10/2026), BBCA membebani indeks sebesar 9,16 poin. DSSA menyusul dengan beban 9,1 poin, disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang membebani 8,98 poin.

Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) membebani 6,12 poin, lalu PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membebani 5,57 poin. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turun dan membebani sebesar 4,94 poin, diikuti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan beban 4,59 poin.

Tekanan juga datang dari PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang membebani 4,31 poin, serta PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan beban 3,81 poin. Adapun PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) tercatat membebani 3,86 poin.

Dengan kondisi IHSG yang bergerak dalam rentang lebar dan komposisi saham yang lebih banyak melemah, perhatian pelaku pasar dipusatkan pada arah lanjutan menjelang pengumuman MSCI pada November. Kondisi tersebut turut terkait dengan kekhawatiran bahwa kebijakan freeze terhadap Indonesia bisa berlanjut, sehingga berpotensi menahan katalis pemulihan aliran dana asing.

Menjelang akhir perdagangan, tekanan yang terlihat sejak awal sesi membuat indeks sulit beranjak jauh dari area bawah. Jarak antara level tertinggi yang sempat dicapai dan titik terendah menunjukkan volatilitas yang tetap terasa sepanjang sesi.

Dari sisi arus pergerakan, komposisi yang lebih banyak melemah dibanding yang menguat mengindikasikan sentimen masih condong ke penjualan. Kondisi ini membuat pemulihan indeks cenderung tertahan, bahkan ketika sebagian saham berhasil bergerak menguat.

Sejumlah emiten berkapitalisasi besar ikut memperkuat beban indeks melalui kontribusi penurunan yang cukup signifikan. Ketika saham-saham utama tersebut bergerak turun, dampaknya langsung terasa pada laju IHSG sehingga pelemahan tidak hanya bersifat parsial.

Panin Sekuritas menyoroti bahwa pelemahan yang terjadi secara tajam pada Sesi I berlanjut dengan nuansa yang lebih hati-hati. Kehati-hatian itu muncul saat pelaku pasar menunggu perkembangan terkait pengumuman MSCI yang dijadwalkan pada November mendatang.

Di saat ekspektasi pasar menunggu sinyal dari MSCI, perhatian juga tertuju pada kekhawatiran mengenai potensi berlanjutnya kebijakan freeze terhadap Indonesia. Implikasi yang ditekankan adalah kemungkinan pembatasan katalis pemulihan aliran dana asing, sehingga sentimen pemodal tetap belum sepenuhnya lepas dari tekanan.