jurnalistik.co.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap berulang di kawasan gambut Kalimantan Selatan membuat masyarakat perlu memikirkan cara yang selaras antara perlindungan lingkungan dan mata pencarian. Di tengah kondisi itu, purun justru muncul sebagai tanaman yang tumbuh alami di lahan basah sekaligus dapat diolah menjadi produk bernilai.
Purun (Lepironia articulata) telah lama dimanfaatkan masyarakat Kalimantan Selatan sebagai bahan anyaman. Meski begitu, produk berbahan purun selama bertahun-tahun lebih banyak bertahan di segmen kerajinan tradisional dengan nilai tambah serta akses pasar yang terbatas.
Padahal, menjaga ekosistem tempat purun tumbuh tetap menjadi kebutuhan penting. Lahan gambut yang kelembapannya terjaga memiliki risiko kebakaran yang lebih rendah dibandingkan gambut yang mengering. Karena itu, upaya menjaga lingkungan semestinya berjalan berdampingan dengan hadirnya sumber penghasilan yang nyata bagi warga sekitar.
Melihat celah tersebut, Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS Jakarta, menginisiasi wirausaha sosial bernama Gaia Weave. Ia mengembangkan purun menjadi produk fungsional modern, mulai dari tech organizer, document pouch, tas, hingga aksesori untuk kebutuhan perkotaan.
Dalam keterangan resminya, Alexandra menekankan bahwa pelestarian lingkungan perlu disertai manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat. Ia menyampaikan, “Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah dan engan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membangun insentif nyata agar masyarakat melihat nilai perlindungan dari ekosistem tempat tanaman ini tumbuh,”.
Pendekatan yang diterapkan Gaia Weave membuka jalan bagi keterampilan lokal untuk mencapai pasar yang lebih luas. Lewat standardisasi mutu dan desain yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, purun tidak lagi diposisikan hanya sebagai bahan baku tradisional.
Kini, Gaia Weave telah bermitra dengan 126 perajin perempuan yang tersebar di 15 desa di Kalimantan Selatan. Produk yang dihasilkan mencakup tech organizer, tas, aksesori, hingga merchandise korporasi.
Dampaknya terlihat pada pendapatan para mitra. Untuk sebagian besar perajin, pendapatan meningkat sekitar 100 hingga 150%, dari kisaran Rp1 juta–Rp1,5 juta menjadi sekitar Rp2,7 juta–Rp3 juta per bulan.
Salah satu contoh dirasakan Ibu Idang. Sebelumnya, ia mengandalkan pekerjaan tani musiman dengan penghasilan sekitar Rp40.000–Rp50.000 per hari.
Berita Terkait
Setelah bekerja di sawah, Ibu Idang melanjutkan kegiatan menganyam purun di rumah. Dari proses tersebut, ia memperoleh tambahan sekitar Rp80.000–Rp100.000 per hari.
Ibu Idang menjelaskan pengalamannya, “Setelah pulang dari sawah, saya lanjutkan menganyam di rumah. Keterampilan yang sudah kami miliki sekarang menjadi tambahan penghasilan nyata, dan anyaman kami digunakan oleh banyak orang,”.
Di sisi Gaia Weave, penciptaan nilai ekonomi dari purun dipandang sebagai salah satu cara membangun insentif agar lanskap lahan basah tetap dipertahankan. Dalam pandangan Alexandra, purun tidak hanya diperlakukan sebagai bahan, tetapi juga menjadi penghubung antara ekonomi lokal dan perlindungan ekosistem.
Alexandra menegaskan prinsip yang menjadi dasar model tersebut. Ia mengatakan, “Ekonomi sirkular bukan hanya tentang menggunakan material yang ramah lingkungan atau terurai alami. Fondasi terpentingnya adalah memastikan orang-orang di sepanjang rantai pasok, terutama para perajin di desa, mendapatkan manfaat ekonomi yang adil,”.
Sejalan dengan itu, Gaia Weave berupaya membangun sistem di mana peningkatan nilai produk berjalan bersamaan dengan peningkatan manfaat bagi masyarakat di sekitar lanskap lahan basah. Dengan kata lain, keberlanjutan tidak berhenti pada aspek lingkungan, tetapi juga memastikan para pelaku di tingkat desa memperoleh bagian yang setara dari hasil yang tercipta.
Pengalaman Alexandra juga ikut membentuk cara pandangnya dalam mengembangkan Gaia Weave. Ia pernah terlibat dalam berbagai proyek keberlanjutan, termasuk riset pemetaan rumput laut bersama Birufinery di Nusa Tenggara Timur serta jaringan daur ulang EcoFunCycle.
Melalui rangkaian itu, Gaia Weave menargetkan pertumbuhan jejaring hingga 2030. Perusahaan menyiapkan rencana untuk memperluas kemitraan dengan lebih dari 1.000 perajin di Kalimantan Selatan, sekaligus memperluas pasar ekspor dan kemitraan dengan sektor perhotelan premium.
Untuk mendukung transparansi, Gaia Weave juga menyiapkan sistem ketertelusuran berbasis QR. Sistem tersebut memungkinkan konsumen mengetahui asal material dan perjalanan produk dari rantai yang membentuknya.
Pada akhirnya, cerita Gaia Weave berupaya menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan bersama. Ketika keterampilan lokal serta sumber daya lahan basah memperoleh nilai ekonomi yang lebih tinggi, manfaatnya dapat kembali kepada warga, sambil mendukung upaya menjaga ekosistem tempat mereka hidup.











