jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan lalu dalam kondisi melemah dan bergerak di zona merah. Secara mingguan, IHSG turun 3,09% serta ditutup di level 6.241,89.
Dari rincian pergerakan sektoral, pelemahan pekan lalu tidak terjadi secara merata. Koreksi paling terasa datang dari saham-saham perindustrian, infrastruktur, dan teknologi, dengan penurunan masing-masing 5,48%, 4,11%, dan 3,96% selama periode sepekan.
Aktivitas transaksi pekan lalu
Meski IHSG melemah, aktivitas perdagangan tetap berlangsung cukup intens. Transaksi tercatat didominasi oleh manuver jual, dengan volume mencapai 145,98 miliar saham sepanjang sesi.
Nilai transaksi yang terkumpul dalam periode itu sebesar Rp59,89 triliun. Frekuensi jual–beli juga tercatat tinggi, yakni 9,08 juta kali, yang menggambarkan adanya aktivitas pergantian posisi yang berlangsung berulang sepanjang perdagangan.
Saham yang disorot untuk perdagangan hari ini
Memasuki Senin (28/9/2026), perhatian pasar beralih pada peluang yang masih dapat dicermati. Dalam rangkuman rekomendasi yang dihimpun dari broker, sejumlah saham disebut menarik untuk dipantau pada perdagangan hari ini.
Rekomendasi tersebut berasal dari BRI Danareksa Sekuritas. Di antara daftar yang disorot, perusahaan yang disebut adalah HRTA, UVCR, dan ENRG yang dinilai layak dicermati untuk aktivitas trading pada hari ini.
Berita Terkait
Dengan latar belakang IHSG yang sudah turun sepanjang pekan lalu, fokus pengamat pasar biasanya bergeser pada saham-saham yang berpotensi menghadirkan pergerakan lanjutan. Dalam konteks itu, pemilihan HRTA, UVCR, dan ENRG menjadi rujukan ringkas bagi pelaku pasar yang ingin memonitor pergerakan harga pada Senin (28/9/2026).
Perlu dicatat bahwa rekomendasi pada ringkasan tersebut disajikan sebagai daftar saham yang dipantau, bukan sebagai klaim nilai tertentu. Karena itu, pelaku pasar dapat menggunakan informasi ini sebagai titik awal untuk menilai respons harga di sesi berjalan, sekaligus memperhatikan dinamika yang sempat terlihat melalui dominasi manuver jual pada pekan lalu.
Secara keseluruhan, rangkuman pekan lalu memperlihatkan IHSG mengalami pelemahan 3,09% ke 6.241,89, dengan tekanan paling menonjol pada perindustrian (-5,48%), infrastruktur (-4,11%), dan teknologi (-3,96%). Di tengah pola aktivitas yang tinggi—volume 145,98 miliar saham, nilai Rp59,89 triliun, serta 9,08 juta frekuensi jual–beli—pasar kemudian mengarahkan perhatian pada rekomendasi HRTA, UVCR, dan ENRG untuk dicermati pada hari ini, 28 September 2026.
Penurunan IHSG yang tercatat pekan lalu menunjukkan bahwa tekanan jual masih mewarnai jalannya perdagangan. Meski demikian, pergerakan yang terjadi tetap diikuti pelaku pasar melalui pemantauan arah harga di level-level berikutnya. Kondisi ini biasanya membuat sentimen cenderung lebih selektif, terutama ketika indeks bergerak dalam zona melemah.
Dari sisi sektor, koreksi yang tidak seragam memperlihatkan adanya pergeseran minat ke kelompok saham tertentu. Saham-saham perindustrian, infrastruktur, dan teknologi menjadi bagian yang paling terasa tekanannya dalam periode sepekan. Dengan latar seperti itu, perhatian pasar kerap beralih dari sekadar memandang indeks, menjadi fokus pada respons masing-masing saham yang diyakini masih bisa menunjukkan dinamika lanjutan.
Aktivitas transaksi yang tinggi juga mengindikasikan bahwa perdagangan berjalan dengan intensitas cukup besar, bukan sekadar pergerakan sporadis. Volume 145,98 miliar saham serta nilai Rp59,89 triliun memperlihatkan keterlibatan dana yang signifikan, sementara frekuensi jual–beli sebanyak 9,08 juta kali menegaskan adanya perpindahan posisi yang terjadi berulang selama sesi. Pola seperti ini sering menjadi sinyal bahwa pelaku pasar aktif mencari titik masuk dan keluar.
Memasuki Senin (28/9/2026), rangkuman broker yang dihimpun untuk daftar saham pantauan membantu pelaku pasar menentukan fokus pengamatan di tengah indeks yang sebelumnya melemah. Dalam ringkasan tersebut, HRTA, UVCR, dan ENRG disebut layak dicermati untuk kebutuhan trading hari itu. Daftar ini juga dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan awal untuk menilai apakah pergerakan harga di sesi berjalan menunjukkan lanjutan atau justru meredam tekanan.
Karena rekomendasi yang disampaikan berperan sebagai pemantauan, pelaku pasar biasanya akan melihat bagaimana respons harga dari ketiga saham tersebut berkembang dalam sesi pertama dan berikutnya. Dengan mempertimbangkan dominasi manuver jual pada pekan lalu, pengamatan terhadap perubahan arah dan kesinambungan pergerakan menjadi bagian penting dalam menyusun keputusan trading yang lebih terarah pada hari Senin (28/9/2026).












