jurnalistik.co.id – Rupiah akhirnya menutup perdagangan dengan penguatan tipis, sekaligus mengisyaratkan meredanya tekanan yang sempat membebani mata uang domestik terhadap dolar AS. Pada penutupan, rupiah menguat 0,42% ke level Rp17.875/US$.
Pergerakan tersebut sejalan dengan kecenderungan penguatan di sejumlah mata uang Asia pada sesi yang sama. Sentimen positif terlihat merata, meski besarnya koreksinya berbeda-beda di tiap negara.
Di kawasan, won Korea Selatan menguat 0,72%. Baht Thailand naik 0,39%, sementara peso Filipina menguat 0,35% dan yen Jepang bertambah 0,18%.
Rupiah juga bergerak seiring mata uang lain yang turut menguat, seperti yuan offshore yang naik 0,16%, dolar Singapura yang menguat 0,11%, serta ringgit Malaysia yang bertambah 0,06%. Pola ini menunjukkan arus penguatan yang cukup luas di pasar valuta Asia.
Sebagai catatan, tidak semua mata uang bergerak searah. Dolar Taiwan justru melemah 0,12% dibanding sesi sebelumnya, menandai adanya perbedaan respon pasar di beberapa ekonomi regional.
Penguatan mata uang Asia diiringi penurunan yield obligasi
Keberhasilan rupiah bertahan di area apresiasi juga tercermin dari pergerakan imbal hasil (yield) di pasar obligasi kawasan. Pada sore hari itu, yield obligasi Korea Selatan turun 9,7 basis poin menjadi 4,33% untuk tenor 10 tahun.
Penurunan serupa juga terjadi pada pasar surat utang negara lain. Yield obligasi Jepang turun 1,4 basis poin ke level 3,08%, sementara yield obligasi Singapura terkoreksi 3,4 basis poin menjadi 2,42%.
Secara umum, meredanya tekanan yield membantu memperkuat kondisi keuangan kawasan, sehingga ruang untuk penguatan mata uang menjadi lebih terbuka. Korelasi ini tampak dari arah pergerakan yang relatif konsisten antara mata uang Asia dan yield obligasi masing-masing.
Berita Terkait
Stabilisasi yield AS menjaga sentimen pasar
Di balik penguatan yang terjadi, tekanan di pasar obligasi juga disebut mulai menurun melalui stabilisasi imbal hasil di Amerika Serikat. Yield obligasi AS stabil di level 5,24% setelah sempat menyentuh 5,34% pada hari sebelumnya.
Angka 5,34% itu menjadi titik tertinggi sejak 2002, sehingga lonjakan sebelumnya sempat memberi sinyal ketegangan di pasar global. Namun, begitu yield kembali bergerak stabil, tekanan yang semula terasa pada aset dan arus modal ikut berkurang.
Dalam konteks pasar valuta, meredanya tekanan tersebut biasanya turut mengubah ekspektasi pelaku terhadap arah dolar AS. Ketika yield AS tidak lagi menunjukkan kenaikan ekstrem pada saat yang sama, mata uang lain cenderung mendapat dukungan untuk menguat.
Situasi ini kemudian terlihat pada penutupan perdagangan, ketika rupiah mampu bergerak naik dan menempel di angka Rp17.875/US$. Penguatan yang terjadi juga tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam satu klaster dengan apresiasi berbagai mata uang Asia lainnya.
Dengan won, baht, peso, yen, yuan offshore, dolar Singapura, dan ringgit yang sama-sama menguat, pasar seolah memberi sinyal bahwa tekanan lintas kawasan sedang melonggar. Di sisi lain, pelemahan dolar Taiwan 0,12% mengingatkan bahwa dinamika pasar tetap tidak selalu seragam.
Bagi pelaku pasar, kombinasi stabilisasi yield AS dan koreksi yield obligasi domestik kawasan menjadi fondasi penting menjelang sesi berikutnya. Setidaknya pada penutupan hari ini, kondisi tersebut membantu rupiah mengakhiri perdagangan pada level yang lebih kuat dibanding sesi sebelumnya.
Dari sisi angka, penguatan rupiah yang mencapai 0,42% dan kenaikan mayoritas mata uang Asia menciptakan gambaran bahwa sentimen regional tengah membaik. Sementara itu, pergerakan yield—dari penurunan 9,7 bps di Korea Selatan sampai koreksi 1,4 bps di Jepang—menegaskan bahwa pasar obligasi turut merespons meredanya tensi di Amerika Serikat.
Dengan yield AS yang bergerak di 5,24% setelah sempat berada di 5,34%, pasar tampaknya sedang menimbang ulang arah dolar AS. Hasilnya, rupiah dapat mempertahankan penguatan di Rp17.875/US$ dan sejalan dengan kecenderungan penguatan di kawasan Asia pada sore hari itu.

