Bisnis & Ekonomi

XAG/USD Turun ke US$60,39, Tekanan Dolar & Imbal Hasil Dorong Bias Bearish

×

XAG/USD Turun ke US$60,39, Tekanan Dolar & Imbal Hasil Dorong Bias Bearish

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Perak Masih Akan Terus Loyo

jurnalistik.co.id – Harga perak dunia kembali melemah dalam rentang 28 September hingga 2 Oktober 2026, dengan XAG/USD menutup perdagangan Jumat (2/10/2026) di level US$60,39 per troy ons.

Penurunan tersebut setara dengan US$3,89 atau 6,05% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di US$64,28.

Gerak harga sepanjang pekan menunjukkan tekanan yang paling terasa sejak awal minggu. Pada Senin, perak turun 5,16% menjadi US$60,97, sebelum sempat rebound 0,80% ke US$61,45 pada Selasa.

Kenaikan singkat itu tidak mampu bertahan. Pada Rabu, harga kembali melemah 1,70% menuju US$60,41, lalu pada Kamis perak sempat naik 0,73% ke US$60,85 sebelum kembali turun 0,75% pada Jumat.

Dengan demikian, penutupan Jumat menjadi yang terendah sepanjang pekan. Kondisi ini menggambarkan pembeli belum sanggup mempertahankan pemulihan setelah koreksi tajam terjadi, sehingga arah cenderung kembali melemah.

Dolar AS dan imbal hasil obligasi jadi pemberat utama Di balik pelemahan tersebut, penguatan dolar AS serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS disebut menjadi tekanan paling dominan bagi perak.

Kekhawatiran terkait inflasi yang dipicu gangguan pasokan energi turut membuat ekspektasi kebijakan moneter tetap ketat. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz juga meningkatkan risiko kenaikan biaya energi, yang pada akhirnya dapat menjaga daya tarik instrumen berbasis bunga.

Bagi perak, kondisi tersebut tidak selalu memberikan dukungan meski logam mulia sering dipandang sebagai aset aman. Inflasi yang sulit turun berpotensi membuat suku bunga bertahan tinggi, sehingga obligasi menjadi alternatif yang lebih menarik dibanding aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS pada akhir pekan justru menampilkan sinyal pelemahan. Bureau of Labor Statistics melaporkan penambahan pekerjaan nonpertanian pada September hanya 29.000, sementara tingkat pengangguran berada di 4,2%, dan pertumbuhan upah tahunan tercatat 3,0%.

Perubahan pada indikator-indikator tersebut dapat mengurangi tekanan untuk menaikkan suku bunga. Meski demikian, pergerakan penutupan perak tetap melemah, sehingga perubahan ekspektasi kebijakan belum cukup untuk mengubah arah harga.

Tren teknikal masih bearish Secara teknikal, perak berada di bawah rata-rata penutupan beberapa horizon waktu. Harga tercatat di bawah rata-rata lima hari sebesar US$60,81, rata-rata 10 hari US$62,98, serta rata-rata 20 hari US$63,91.

Selain itu, puncak penutupan juga menunjukkan pola yang semakin turun. Dari US$67,08 pada 22 September, level penutupan turun menjadi US$64,28 pada 25 September, kemudian berlanjut ke US$61,45 pada pekan ini.

Struktur tersebut memperlihatkan momentum kenaikan yang terus melemah. Selama harga belum mampu kembali menembus area US$61,45, setiap reli berisiko dipandang sebagai pemulihan sementara dalam tren turun.

Proyeksi pekan depan: peluang konsolidasi di sekitar US$60 Untuk perdagangan 5–9 Oktober 2026, bias perak masih bearish dengan peluang konsolidasi di kisaran US$60. Area US$60,39 menjadi support terdekat, sementara level psikologis US$60 berada di bawahnya.

Jika penutupan harian bergerak di bawah US$60, risiko untuk penurunan lanjutan akan meningkat. Dari sisi atas, US$60,85 diproyeksikan menjadi resistance awal, sebelum kemudian perhatian beralih ke US$61,45.

Bila kedua area tersebut berhasil ditembus, pemulihan berpotensi menguji kisaran US$62,96 hingga US$62,98. Arah pergerakan akan sangat bergantung pada perkembangan dolar, imbal hasil obligasi AS, situasi konflik di Timur Tengah, serta perubahan ekspektasi terkait suku bunga.

Pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil disebut diperlukan agar perak dapat membangun pemulihan yang lebih kuat. Tanpa dua faktor tersebut mereda, reli yang muncul kemungkinan besar akan tetap menghadapi batasan dari level-level resistance yang telah dipetakan.