jurnalistik.co.id – PT PLN Batam membeberkan penyebab gangguan pasokan listrik yang berujung pemadaman di Batam dan Bintan pada pekan lalu. Direktur Utama PLN Batam Kwin Fo menjelaskan bahwa gangguan tersebut berawal dari masalah teknis pada sistem kelistrikan.
Menurut Kwin Fo, kejadian diawali terjadinya flashover atau loncatan listrik pada transformator Gardu Induk (GI) Sei Harapan. Ia menambahkan, Circuit Breaker (CB) yang seharusnya mengisolasi gangguan tidak membuka sebagaimana mestinya.
“Berdasarkan hasil penelusuran teknis, gangguan bermula akibat flashover atau loncatan listrik pada transformator Gardu Induk (GI) Sei Harapan. Circuit Breaker (CB) yang seharusnya mengisolasi gangguan tidak membuka sebagaimana mestinya, sehingga gangguan merambat ke sistem transmisi utama 150 kilo Volt (kV),” tuturnya, dikutip dari keterangan resmi perusahaan, Senin (19/10/2026).
Akibat gangguan itu, lanjut Kwin Fo, terjadi perlepasannya pembangkit di Tanjung Uncang dengan daya sekitar 220 Mega Watt (MW) dari sistem. Dengan hilangnya pasokan daya dalam jumlah besar, pembangkit lain mengalami ketidakseimbangan beban dan turut terlepas.
“Gangguan tersebut menyebabkan pembangkit di Tanjung Uncang dengan daya sekitar 220 Mega Watt (MW) terlepas dari sistem. Hilangnya pasokan daya dalam jumlah besar mengakibatkan pembangkit lainnya mengalami ketidakseimbangan beban dan turut terlepas, hingga terjadi pemadaman meluas pada pukul 06.37 WIB,” paparnya.
PLN Batam kemudian melakukan pemeriksaan serta isolasi gangguan. Setelah itu, perusahaan membangun kembali sistem kelistrikan secara bertahap untuk memulihkan pasokan listrik.
Hingga Senin pukul 22.00 WIB, sekitar 60% pelanggan di Batam telah kembali mendapatkan pasokan listrik. Pada Selasa (13/10/2026) pukul 01.00 WIB, hampir seluruh pelanggan Batam kembali menyala, meskipun pemulihan beberapa unit pembangkit masih terus berlangsung.
Sementara itu, pasokan listrik ke Bintan berhasil dipulihkan sepenuhnya pada Rabu (14/10/2026) pukul 18.30 WIB. Proses transfer daya melalui kabel laut dilakukan secara bertahap, mengikuti kondisi kestabilan sistem di Batam.
“Pemulihan ke Bintan dilakukan murni berdasarkan pertimbangan teknis, bukan karena perbedaan prioritas pelayanan. Kami harus memastikan sistem Batam cukup stabil sebelum melakukan transfer daya agar tidak memicu gangguan meluas kembali,” jelas Kwin Fo.
Ia juga menyampaikan bahwa penjelasan ini baru bisa dilakukan setelah seluruh tim PLN Batam memprioritaskan pemulihan sistem kelistrikan selama tiga hari sejak kejadian. Langkah tersebut dilakukan agar pasokan listrik kepada masyarakat dapat kembali normal.
“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pelanggan dan masyarakat. Sejak awal kejadian, seluruh tim PLN Batam bekerja siang dan malam dengan fokus utama memulihkan sistem kelistrikan Batam-Bintan,” ujar Kwin Fo.
Berita Terkait
Evaluasi temuan penyebab
Dalam evaluasi lanjutan, PLN Batam mengungkap empat temuan penting. Perusahaan menyebut dugaan hewan liar sebagai pemicu flashover masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.
Selain itu, hasil pengujian peralatan proteksi menunjukkan fungsi normal. PLN Batam juga menilai pagar pengaman bertegangan listrik tidak aktif saat kejadian, serta mencatat adanya perubahan arah CCTV pada Minggu (11/10/2026) pukul 18.43 WIB sehingga tidak lagi mengarah ke transformator yang mengalami gangguan.
Proses evaluasi tersebut juga melibatkan pihak kepolisian, termasuk Polda Kepri dan Bareskrim Polri. PLN Batam menegaskan bahwa aspek di luar persoalan teknis akan didalami oleh pihak berwajib.
“Untuk hal-hal di luar aspek teknis, kami menyerahkan proses pendalaman kepada pihak berwajib agar penyebab kejadian dapat diketahui secara menyeluruh,” tegas Kwin Fo.
Kompensasi dan penjelasan terkait isu data center
Terkait kompensasi, PLN Batam menyatakan pemenuhan hak pelanggan akan mengacu pada Peraturan Gubernur Kepulauan Riau Nomor 22 Tahun 2017. Aturan tersebut mengatur Tingkat Mutu Pelayanan dan Biaya yang Terkait dengan Penyaluran Tenaga Listrik oleh PT Pelayanan Listrik Nasional Batam.
Kompensasi, menurut perusahaan, diberikan berdasarkan evaluasi indikator Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) serta mekanisme yang diatur dalam ketentuan tersebut.
PLN Batam juga membantah informasi yang mengaitkan pemadaman meluas dengan proyek data center baru di Batam. Perusahaan menegaskan proyek yang dimaksud masih dalam tahap pembangunan dan persiapan operasional, sehingga belum beroperasi secara komersial dengan kapasitas daya yang direncanakan.
Hasil penelusuran teknis yang disampaikan PLN Batam menunjukkan gangguan bermula dari instalasi kelistrikan di GI Sei Harapan. Dengan demikian, perusahaan menyatakan pemadaman tidak diakibatkan oleh aktivitas operasional proyek data center tersebut.
Sebagai tindak lanjut, PLN Batam terus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem proteksi, kesiapan pembangkit, serta keandalan jaringan transmisi dan distribusi. Perusahaan juga menyebut pihaknya mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, BP Batam, aparat keamanan, seluruh pegawai dan mitra kerja, serta masyarakat selama proses pemulihan.
“Kejadian ini menjadi perhatian serius dan bahan evaluasi bagi kami. PLN Batam berkomitmen untuk terus memperkuat keandalan sistem kelistrikan, meningkatkan kesiapsiagaan, serta memberikan pelayanan yang semakin baik kepada masyarakat dan dunia usaha,” tutup Kwin Fo.












